25 Agustus 2024
Puisi-Puisi Ahmad Rizki
Oleh Ahmad Rizki*

Song For Mutia
—aku ingin membaca matamu
seekor k-u-d-a betina yang melayang,
meninggalkanMu, menjelma bukit Ciremai
di tanah sunda yang akrab. mata emas itu
penuh kegelapan malam, dihiasi impian liar
dan air mata pembangkangan—dingin telah merasuk
sejak bintang di rumah kecil mengacaukan birahiMu,
membawa pelarian cinta yang berani
mengetuk dan membujuk mataMu.
ingin menyusuri mata emasMu,
menyelami nama Aria Kamuning—
yang tumbuh dari kain Padjajaran—
dihiasi bukit Ciremai dan rumah
kecil dalam cinta yang beku,
di malam yang terhenti
oleh kebekuan cinta.
ingin membaca mata emasMu, menyusuri
aliran airmata dan doadoa sepi,
kenangan kecil yang menghancurkan
malaikat remaja—menolak menjadi diri sendiri,
karena angin telah berubah menjadi bukit Ciremai,
kuda betina dengan nyanyian yang
menyayat hati dan senyuman gila,
dari mata emasMu yang berharga.
ingin membaca mata emasMu,
yang melahirkan kuda betina
jelita di tubuh metafora, di bukit
Ciremai yang dengan wajahnya
yang jujur dan pasrah karena telah
menemukan m-u-t-i-a-r-a.
(2024)
Kuda dan Anggrek
:buat Mutia
udara jahat mengelabui hantu
kuda betina bangkit dari sela reruntuhan
pohon anggrek.
tak ada lagi cahaya api
menemani sepanjang pagi.
aku disergap dentang harapan
dan terbakar kebingungan
dan lari mengejar bayangan.
api pagi merobek hatiku
dari sepasang puisi
yang bergelayutan di
rambutmu.
aku berlari sambil
menjerit-memekik
tak ada yang peduli.
aku memandang ke dalam diri
mataku buta hati
aku mendengar ke dalam diri
dengan kedua kupingku tuli,
ada suara harapan
buta dan tuli
menghantui berkali-kali
dari suasana hidup yang perih.
udara jahat mengelabui hantu
kuda betina bangkit dari sela reruntuhan
pohon anggrek.
aku memandang ke dalam diri
melihat harapan kembali.
(2024)
Dari Sini Aku Berbicara
Aku ingat rambutmu
lurus, hitam.
bau tubuhmu, pipimu
di bawah bulan
saat aku mencium penuh nafsu.
musim berlalu, bibir merahmu
di bawah pelukan angin
di kota penuh dosa
yang menghancurkan kita.
Aku ingat
kegagalan berkali-kali,
takut dan meringkuk,
hendak membinasakanmu.
wajahmu sedih,
puisi tak lagi berlindung di hatimu.
mawar dan duri di tangan
tak lagi sempurna mekar.
Hasrat muncul berjuta kali
untuk bernafas
bersamamu,
menghitung naik-turun
ambisimu,
tak perlu lagi aku menyapamu.
Keheningan adalah pacarmu.
kau memilih mimpi
untuk mengoreksi diri,
meski keinginan membara
di tengah kebingungan nama-nama.
Aku ingat keheningan kekasihmu.
hatimu berkata pergi,
pikiran dan empati
tertidur dalam istilah
keheningan yang menyiksamu.
kau selalu bingung
dengan pilihan-pilihan
dan keheningan yang menggeliat
dalam napasmu.
ketakutan berdiri tegak
di belakang
sementara keheningan terus datang.
Ah! Aku ingat bibirmu
yang tak lagi
memaksa berbicara padaku,
biarkan waktu
menghabiskan suaraku
dari sini.
(2024)
Lagu Buat Anjani
Kulihat dirimu dalam kaca ungu,
lengan lembut, duduk di kursi goyang kayu,
di kamar kita yang semakin borjuis.
kau bilang, kenapa bulan
terlahir perak di matamu.
di tempat kusam ini,
tempat yang kita buat emas
dalam mitos sosial kita,
ini tentang cinta kita,
lagu ini adalah syahadat kebenaran.
Kita ada di sini, kukatakan padamu,
dari mitos lain di mana kita berpetualang,
dikirim ke sini untuk sesuatu yang belum jelas.
Aku bawa jangkar emas di pundakmu,
topi emas yang bersinar
di rambutmu yang liar—
rambut spritualitas yang kau dapatkan
di antara bangsa-bangsa timur,
di lautan pengembara.
Aku tidak melihat kapal-kapal itu lagi,
atau warisan yang sunyi,
setiap bintang di langit bercorak aurora,
langit itu sendiri seperti
burung camar yang birahi.
hampir, aku bisa melihat samudra
dari mana kita berasal.
Aku lupa tujuan kita saat itu,
tapi aku ingat nama cinta
di pagi yang berdebu.
Aku menyaksikan udara mengalir keluar,
atau, lebih sederhana, satu bayangan memantulkan yang lain.
Kemudian, keheningan itu pecah,
dan aku tak melihat kegelapan baru.
Dunia lahir dari pikiran
walau pikiran lainnya, bisa mematikan.
(2024)
Aku Melupakanmu
Aku melupakanMu dengan sajak-sajak
yang tak mampu membawa cinta beranjak
di hadapan teka-teki
persoalan hati
kepada hati
dengan kecewa
dan bahagia
di kota itu hujan layu
karena senyum kita malumalu
–apa pantas aku mengenang itu?
ini mungkin titik terjauh
dari batas hakKu
menggeser keadaan
nyali yang dipetakan kemungkinan
di kota itu terlalu banyak
metafora memburu napas sesak
sebagimana cinta yang tak beranjak
dari hasrat dan tipu daya
yang selalu tak siap kecewa
Aku melupakanMu dengan sajak-sajak
yang tak mampu membawa cinta beranjak
di hadapan kemuliaan
karena tak mampu menjaga kewaspadaan
dari kenyataan
dari tipu daya
dari cinta
dari dusta
dari asmara.
(2024)
===
*Ahmad Rizki, menatap di Tangsel. Sekarang menjadi buruh harian lepas buat menutupi hidup sehari-hari, dan sesekali belajar sastra, seni dan disiplin sejenisnya.