LiteraSIP

1 September 2024

Puisi-Puisi Muhammad Bahrudin Chabib

Oleh Muhammad Bahrudin Chabib*

 

 

Kasus Terbungkus dalam Surat Cinta

Di ruang sidang yang remang-remang,
Kasus-kasus terbungkus dalam amplop surat cinta,
Di balik stempel yang membeku,
Ada janji-janji, bukan untuk hati, tapi untuk kekuasaan.

Surat cinta ini, bukan untuk yang kita cintai,
Melainkan untuk yang berkuasa dan merajai,
Mengandung puisi dalam bahasa hukum
Yang tidak pernah dipahami oleh rakyat jelata.

Lembaran demi lembaran, tinta ditetes,
Cinta disematkan di kertas hukum,
Sesuatu yang mirip surat untuk kekasih,
Namun lebih mirip pesan rahasia, penuh syair menipu.

Di dalam amplop itu, tersimpan nasib,
Bukan dalam balutan bunga,
Namun diikat dengan tali argumen
Yang menjerat lebih dalam dari sekadar ikatan asmara.

Cinta yang disembunyikan dalam legalitas,
Di mana frasa berkilau mengaburkan makna,
Dengan tanda tangan dan cap,
Yang lebih mirip dengan godaan dari seorang penguasa.

Ketika keputusan jatuh, seperti hujan di malam gelap,
Hati yang tergerus dalam surat cinta tak beralas,
Cinta yang dibungkus dengan jargon hukum
Adalah ilusi yang tersembunyi di balik kertas.

Dan di luar, rakyat yang menunggu,
Dengan mata yang penuh keraguan,
Melihat surat cinta jatuh ke tanah
Seperti puisi yang terlalu lama tak dibaca.

Di malam hari, ketika bintang-bintang diam,
Kita menemukan surat cinta berlumuran tinta,
Kasus yang tak pernah benar-benar terselesaikan,
Hanya berkelindan dalam kata-kata kosong yang dipenuhi harapan

 

Hukum dan Pangkat yang Terbang

Di ruang pengadilan yang berdebu,
Pangkat dan hukum berkelana seperti awan,
Tertulis di papan nama yang berkilau,
Namun cepat menghilang seperti kabut pagi.

Hakim dengan jubah yang melambai-lambai,
Memeriksa berkas dengan tatapan megah,
Namun dalam hatinya, hukum ini seperti angin,
Mengangkat pangkat, dan membuatnya terbang.

Putusan dijatuhkan seperti fragmen bintang,
Menyebar ke langit yang tidak pernah mencapai tanah,
Di dalamnya, rasa keadilan terhanyut
Di bawah sayap-sayap seragam yang berkilauan.

Di antara lembaran undang-undang yang kaku,
Pangkat-pangkat bersenandung, menghibur diri,
Merasa lebih ringan daripada semua aturan,
Sementara hukum berusaha mengejar mereka.

Pangkat dan pos di kantor yang megah,
Mengapung di atas awan kenyamanan,
Hukum pun tertinggal di tanah,
Memegangi tali yang mulai longgar.

Di luar jendela pengadilan, hujan turun,
Membasahi semua mimpi yang mengambang,
Namun pangkat dan kekuasaan tetap terbang,
Melihat dari atas, tak tersentuh oleh gravitasi keadilan.

Dengan semua surat keputusan yang tersebar,
Dan dokumen yang menunggu di ruang arsip,
Pangkat yang tinggi terbang bebas
Sementara hukum, terjebak dalam lingkaran tanpa akhir.

Kita berdiri di bawah, di bumi yang keras,
Melihat pangkat dan hukum berputar seperti bumerang,
Memerangi gravitasi dan melawan logika,
Meninggalkan kita dengan harapan, dan seringkali kesia-siaan.

 

Putusan dan Pita Merah

Di ruang pengadilan, berpita merah
Hukum berbicara dengan suara yang gemetar,
Kertas-kertas berhamburan seperti daun gugur
Di bawah meja-meja yang penuh debu.

Pita merah—bukan tanda sah, melainkan penutup
Yang menyembunyikan celah, luka, dan lompatan
Kita mendengarnya berdesir, entah dari mana,
Di sela-sela frasa hukum yang dipoles emas.

Hakim berdiri di podium yang berlapis mahkota,
Menjatuhkan vonis, seolah menari di atas es tipis,
Ketika keadilan menjadi topeng boneka
Yang tersenyum ramah tapi tak pernah berbicara jujur.

Pita merah terikat di ujung pena,
Mengikat putusan dengan benang kaku
Yang tak mengikat hati, tak melilit rasa,
Hanya menahan tinta agar tak menyebar ke mana-mana.

Sidang ini sebuah drama
Di mana saksi-saksi ditugaskan berbohong,
Kebenaran adalah kostum usang
Yang terlalu kecil untuk dikenakan.

Dari kursi-kursi di galeri, suara bisik
Menjadi simfoni satir untuk pengadilan
Yang tegar di hadapan layar,
Menghapus keadilan dengan sapuan kuas birokrasi.

Pita merah menyembunyikan lebih dari sekadar keputusan,
Ia menyembunyikan kelam di balik cahaya,
Di balik frasa yang dipilih dengan hati-hati,
Kita menemukan keadilan yang hanya samar.

Dan di malam hari, ketika lampu-lampu padam,
Pita merah jatuh, terurai, melilit tanah
Di bawah bintang-bintang yang tak tahu
Apa yang benar-benar terjadi di balik tirai.

 

Vonis Rupa Masker

Di ruang pengadilan yang bersejarah,
Vonis diturunkan dengan topeng terukir,
Hukum tak lagi berbicara, hanya berbisik,
Dari balik masker yang didekorasi.

Masker di wajah hakim, bukan penutup,
Melainkan lukisan wajah dari rasa tak adil,
Mencatat keputusan dalam tinta hitam,
Menyembunyikan ekspresi dari sinar matahari.

Keputusan jatuh dari mulut yang berselimut,
Mengalir dari balik topeng yang penuh corak,
Hukum berbicara dalam bahasa yang asing,
Sementara keadilan tak pernah benar-benar ditampilkan.

Vonis yang dirumus dalam ruangan penuh hiasan,
Di mana setiap frasa dirajut dengan hati-hati,
Namun disembunyikan di balik topeng yang angkuh,
Yang mengaburkan makna dari setiap kata.

Di meja pengacara dan saksi,
Masker-masker berganti warna dan bentuk,
Menyamarkan emosi, menyembunyikan rasa,
Seolah hukum ini adalah permainan di balik layar.

Ketika keputusan diumumkan,
Topeng-topeng itu mulai menari,
Menyembunyikan wajah-wajah asli dari keadilan,
Dan menciptakan ilusi dari vonis yang ditetapkan.

Para penonton yang terdiam,
Menyaksikan drama ini dengan mata yang terpejam,
Memahami bahwa keputusan ini lebih dari sekadar kata,
Ini adalah sandiwara dari topeng-topeng yang berputar.

Vonis adalah kisah yang disembunyikan,
Di balik masker yang tak pernah dilepas,
Menjaga rahasia dari yang tertekan,
Menyisakan kita dalam keraguan dan penantian.

Di luar gedung pengadilan, bintang bersinar,
Namun di dalam, masker-masker berdebu,
Vonis tidak hanya satu keputusan,
Tetapi drama yang terbungkus dalam kebohongan berlapis.

 

===

*Muhammad Bahrudin Chabib. Seseorang yang suka kopi dan menulis.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *