8 September 2024
Tanda Lahir
Oleh Wahyu Annisha*

Perempuan tanpa alas kaki berkebaya hijau lari ke dalam hutan. Peluh dan air matanya mengalir di wajahnya.
Bayi dalam dekapannya menangis. Pergelangan bagian dalam tangan kanan bayi menyembul tanda lahir bentuk gerhana matahari cincin.
Seorang Lelaki menarik kebaya itu. Perempuan itu terjatuh.
“Biar kubunuh bayi ini! Dia membawa sial!”
Perempuan itu berdiri dan hendak berlari lagi.
Lelaki itu merebut sang bayi. Perempuan itu tak sanggup menahan tenaga sang Lelaki. Sekali lagi Perempuan itu terjatuh, tapi kali ini masuk dalam jurang dan tak bangkit lagi.
“Peramal kampungan! Membusuk kau di situ!” seru Lelaki itu.
***
Dewangga seorang detektif swasta berumur 30-an mendapat kasus orang hilang. Keluarga Candramaya mengeluh anak perempuannya pamit ke cafe, tapi sampai keesokan harinya ia belum pulang.
Seseorang mengabarkan melihat perempuan dengan ciri-ciri seperti Candramaya di pasar Desa Ranu Pane, kaki Gunung Semeru. Keluarga dan Polisi sudah mencarinya ke tempat itu tapi hasilnya nihil. Keluarga berharap Dewangga bisa memecahkan masalah ini.
Sore berkabut. Dewangga turun dari bus di dusun terpencil lereng Gunung Semeru. Ia mencurigai sebuah padepokan. Dari informasi yang dia dapat padepokan itu jadi tempat orang berobat alternatif.
Google maps membawa Dewangga berjalan ke arah hutan. Ia tiba di depan pagar bergapura.
“Ada perlu apa ke sini?” sambut Lelaki umur 30-an dengan tubuh tinggi tegap. Pakaian dan ikat kepalanya berwarna merah.
“Aku dari Padepokan Pringgondani di Surabaya. Aku dikirim Guruku untuk belajar meracik obat di sini,” Dewangga membangun cerita.
Lelaki yang menyebut namanya sebagai Gondo itu menyuruh Dewangga mengikutinya.
Mereka masuk ke sebuah ruangan. Di sebelah ruangan itu ada perpustakaan buku-buku tua dalam rak raksasa. Beberapa buku menggunakan huruf dan kode yang tidak dipahami Dewangga.
Di ruangan itu ada Lelaki kurus berambut panjang, berpakaian mirip dengan Gondo. Ia melinting kumisnya. Jari-jarinya mengenakan cincin batu akik. Lelaki itu menyebut namanya Diryo, pemimpim Padepokan Semeru.
Diryo memeriksa surat-surat pengantar yang dibawa Dewangga. Diryo tidak curiga semua surat itu buatan Dewangga sendiri. Diryo menanyakan banyak hal. Dewangga menjawabnya dengan karangannya yang sudah disusunnya.
“Kamu bisa berguru di sini, tapi patuhi aturan,” ujar Diryo.
Gondo menunjukkan sebuah kamar sempit. Dewangga diberi baju dan ikat kepala merah.
Malam itu murid-murid Padepokan disuguhi makan malam dengan sop daging. Orang-orang makan dengan lahap, tapi Dewangga merasa aneh. Mungkin bumbunya beda, pikirnya.
Pagi harinya ada kelas mempelajari tanaman herbal pegunungan dari Diryo. Dewangga baru tahu ada murid-murid perempuan juga di padepokan itu, tapi mereka tidak menetap di padepokan. Sore hari mereka pulang. Ada yang ngekost di rumah-rumah warga. Ada yang dari rumahnya yang masih sekitar lereng gunung.
Ada seorang murid perempuan yang jago meracik obat. Dewangga berkenalan dengannya dan menanyakan mungkin perempuan itu pernah lihat Candramaya di situ.
“Candramaya ke sini diantar temannya. Dia stres Tunangannya memutuskan pisah sedangkan orangtuanya sudah membayar semua keperluan nikah besar-besaran. Karena itu dia ke sini untuk menghilangkan stresnya. Tapi setelah itu dia tidak terlihat lagi. Kata Gondo, Candramaya sudah pulang,” ujar murid perempuan itu tanpa tahu dia dibohogi Gondo.
Dewangga terdiam. Dia baru tahu tentang tunangan Candramaya karena keluarganya tidak cerita.
Tengah malam, Dewangga diam-diam ke ruangan Diryo. Ia memeriksa semua isi ruangan, tapi tidak ada hal-hal yang mencurigakan.
Dewangga melangkah keluar ruangan, tiba-tiba pandangannya tertuju pada tempat sampah sebelah pintu. Ia menemukan botol-botol kecil kosong dan suntikan bekas. Alis Dewangga berkerut, ada nama Candramaya di salah satu botol dengan tanggal bulan lalu!
Terdengar langkah-langkah kaki di luar jendela. Dewangga mengintip dari balik jendela. Sinar purnama menunjukkan beberapa orang mengubur sesuatu. Dewangga melihat banyak nisan di tempat itu. Dewangga segera keluar ruangan.
“Kau dari mana?”
Dewangga tersentak tiba-tiba Gondo sudah ada di situ. “A-aku jalan-jalan menghangatkan badan. Aku belum terbiasa dengan hawa dingin di lereng gunung ini,” ujar Dewangga.
Gondo menatap tajam tangan Dewangga yang merapatkan jaketnya, “Kau harus tahan dingin tinggal di sini. ”
Dewangga mengangguk pura-pura menuju kamarnya. Gondo pergi. Dewangga menyelinap ke luar dan menggali kuburan yang masih basah tadi. Ia terbelalak. Kuburannya kosong!
Esok hari mereka belajar tentang meracik ramuan. Diryo mengajarkan mulai dari tanaman yang sering ada di pasar hingga tanaman hutan. Otak Dewangga sibuk mencari benang merah dari hal-hal yang ia temukan di padepokan itu.
Menu makan malam semur daging. Dewangga hanya mengambil sedikit. Dia tidak berselera makan. Tiba-tiba ada sesuatu terselip di lidahnya. Dewangga mengambil benda itu. Kuku berkuteks! Dewangga menuju WC. Ia muntah-muntah.
Pukul 11.14 dini hari, Dewangga sibuk mencatat temuannya. Terdengar ketukan di pintu. Gondo mengajaknya minum wedang jahe untuk menghangatkan badan di ruang tamu. Dewangga setuju. Ia membalikkan badan hendak mengambil jaket.
BUK!
***
Dewangga bangun. Kepalanya nyeri hebat. Ia ingin meraba kepalanya tapi tangan dan kakinya terikat di pohon beringin dalam suasana gelap gulita. Dewangga menduga tadi Gondo meninju kepalanya hingga pingsan.
Diryo datang, ada Gondo di belakangnya. Diryo menyuntikkan cairan dari botol kecil di lengan Dewangga. Botol itu mirip botol yang Dewangga lihat di tempat sampah. Dewangga berontak tapi sia-sia. Diryo memaksanya minum sesuatu. Dewangga menyemburkannya, tapi beberapa teguk tertelan.
Kepala, dada, dan perut Dewangga kini sakit sekali. Ia berteriak sekuat tenaga, tapi tak ada suaranya yang keluar. Tak kuat dengan sakitnya, Dewangga pingsan kembali.
“Tidak ada reaksi lagi. Apa kamu yakin dia pemilik tanda lahir itu?” tanya Diryo.
“Aku sudah cek berkali-kali di tangannya dan di buku kuno. Aku yakin dia orangnya,” Gondo memeriksa pergelangan tangan kanan Dewangga.
“Kita bakal kaya dan berkuasa punya dia,” Diryo tertawa sambil melinting kumisnya.
“Betul,” Gondo tersenyum.
“Tapi harusnya sekarang dia sudah berubah ke wujud aslinya. Apa kau tidak salah ramuan?” tanya Diryo lagi.
“Semua sudah sesuai buku petunjuk. Mungkin butuh waktu lebih lama agar obatnya bereaksi,” jawab Gondo
“Kalau begitu aku tunggu di dalam. Bawa segelas wedang jahe ke ruanganku! Aku akan menyiapkan suntikan untuk pasien-pasien yang susah sembuh. Lumayan, kita tidak perlu beli lauk lagi,” ujar Diryo.
***
PRANGGG…
Gelas di tangan Gondo terjatuh. Makhluk bertaring merobek dada dan mengambil jantung Diryo. Tanda gerhana matahari cincin di pergelanan tangan kanan makhluk itu bersinar.
“Ini hukuman buat kaum kanibal seperti kalian!” Makhluk itu menunjuk wajah Gondo.
Gondo terbirit-birit minta tolong.
BRAK!
Bagian depan truk pengangkut sayur-mayur itu dipenuhi darah. Isi kepala Gondo berhamburan.
===
*Wahyu Annisha tinggal di Yogyakarta.