8 September 2024
Puisi-Puisi Syafiq Rahman
Oleh Syafiq Rahman*

Melankolia
; Kinta Dewanty Noor Rahchma
Angin berdesir manampar pipi kesepian
Langit seketika di serang ribuan kalilawar
Seperti gulungan badai hitam
Yang mengangkut gubuk kenangan
Resah makin basah
Membikin aku tak ingin membuka pintu atau jendela
Sebab, hal-hal yang terduga
Menyergap tubuh kita untuk memeluk memar doa-doa
Yang pasi dalam lapisan langit
Sedang, suara-suara lembut dari bibirmu
Membangkitkan aku sebagai mayat yang melayat ke dalam hatimu
Laut diantara tanjung karang
Aku tak ingin mengenang
Kerikil yang menambah ujung ketajaman
Jurang yang makin dalam
Kulitku terlalu tipis untuk menepis segala sedih.
Sementara, jerami membubung gumpal asap tebal
Membuat awan gelap berlapis
Bergerak ke utara
Menjemput mata air dalam persembunyian
Bagaimana, kenapa aku bisa jatuh cinta padamu
Membuat seluruh riuh berkumpul di sini
Bergantian datang, lalu pergi bersama-sama
Meninggalkan nyerinya sendiri.
Kemarilah temui kalimat ini
Diantara jejak telapak kakimu
Yang membawa bulan bergerak di dahannya
Meski harus tidur mencari jalan lain
Dalam mimpi.
Yogyakarta, 2024
Aku Ingin Bersembahyang Kepadamu
; Kinta Dewanty Noor Rohcma
Aku ingin menjadi cinta yang kau kenakan
Waktu kebingungan di kepalamu sesak
Dari harapan hidup. Aku ingin menemani
Gelisahmu yang basah
Hingga kita dapat menolak kepiluan
Dengan hati terbuka.
“Puisimu tidak pernah menolong sepiku”
Ucapmu yang membenci kata-kata
hatiku, remuk redam segala
Angin menjatuhkan daun-daun kering
Sepasang gelas jatuh dari nampan
Pertanda apakah ini Dewanty?
Akankan isyarat rindu yang lebur
Atau atas kebencianmu padaku yang telang lancang
Merancang bukit-bukit cinta padamu.
Cinta telah melampaui batas pikiran adam pada hawa
Seandainya Tuhan bukan pemilik kasih sayang
Padamulah aku bersembahyang.
Cafe Basa-Basi, 2024
Bagaimana Caranya Melenyapkan Dirimu Dalam Diriku?
Mataku adalah gambar harapan
Setelah tanganmu melukis tangis
Kedalam denyut jantungku
Rupanya udara asin garam
Mengintip dari jendela
Membidik kering bibir
Bergetar mengucap seluruh nama-nama
Bersulang serupa rintih kesepian
Di dadaku, remuk terdapat kecamuk
Serupa hilir laut pasang
Menimbulkan bunyi ombak
Mengeraskan batu-batu karang
Di bawah tumpukan selimut yang berlumut
Bagaimana caranya melenyapkan dirimu dalam diriku?
Jika seluruh organ membuat perihnya sendiri
Dan menganggap dirimu bagian dari potongan melankolia.
Cafe Basa-Basi, 2024
Biografi Kinta Dewanty Noor Rachma
Salam Dewanty, dadaku menggigil memanggil pertemuan. Arang dalam tungku mataku mengerang menatap runcing senyummu membuatku mencari ribuan patah dalam tubuhku sendiri
Madah bening mengelilingi baskara yang menyengat hitam kenangan seperti warna mega magrib, menunggu segala perumpamaan raib menyelam pada jurang paling dalam, sebab mencintaimu adalah nikmat yang selamat sebelum rintih perih mengakar dalam ceruk dada
Hari-hari berkabung mengajak seluruh kalimat meriap menjepit rindu, sedang nafasku berpawai memeluk erat kesetiaan, hingga helai-helai rambutku rontok bersamaan dengan hancurnya ingatanku.
Maka, Dewanty, rongga-rongga waktu membikin sepasang lilin menyala pada padam kesepian yang terlampau menilaskan pilu, hingga kita sama-sama diam bertahan merenungkan memar asmara yang tak dapat kita pelihara.
Yogyakarta, 2024
Mencintaimu
Aku ingin mengatakan cinta kepadamu
Tapi mulutku tercekat sekarat
Getar bibirku menggigil sebelum hujan
Sebelum perencanaan sayap rindu mengangkasa
Kesepian tergesa-gesa menjemput jarak
Sepasang angin selatan memanggil ababil
Melemparkan kerikil kesedihan tepat menghunus
Kepalaku yang menyimpan ketabahan mencintaimu
Sedang, genesis puisi yang kutulis persis kesunyian
Wajahmu tiba-tiba mengambang di udara
Dan aku tak bisa menangkapnya.
Yogyakarta, 2024
===
*Syafiq Rahman. Mahasiswa UIN Jogja Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI). Lahir di Sumenep 22 Agustus 2002. Karya-karyanya di siarkan di berbagai media dan koran. Penyair bergiat Menulis di Majelis Sastra Mata Pena (MSMP).