22 September 2024
Pukul Setengah Lima Sore
Oleh Hasan Ali*

Senja menyapa kepulangan Adi dari kantor tempat ia bekerja. Hari ini, tidak ada sesuatu yang istimewa. Semua aktivitas kantor berlangsung normal seperti biasa.
Setelah check clock pulang, Adi bergegas menuju tempat parkir. Menyalakan sepeda motor yang ia beli sejak dinyatakan diterima di tempat kerja yang sekarang. Sepeda motor itu dibeli dengan mencicil selama tiga tahun. Setiap bulan, ia harus merelakan uang gajiannya dipotong untuk melunasi cicilannya.
Begitu sepeda motor dinyalakan, Adi mendapati indikator bensinnya menunjuk ke garis warna merah. Sore ini, ia harus pergi menuju pom bensin terdekat. Jika ditunda-tunda, sepeda motornya bisa mati di tengah jalan.
Di sepanjang perjalanan menuju pom bensin terdekat, matanya memperhatikan banyak aktivitas orang-orang. Tukang becak yang mengayuh becaknya dengan penumpang yang duduk di bangku depan. Orang yang menyeberang jalan bukan di zebra cross. Pengamen yang menyanyi dengan membawa gitar kecilnya di perempatan ketika kendaraan-kendaraan berhenti. Penjual tahu dan kacang yang menjajakan dagangannya sebelum kendaraan-kendaraan yang berhenti di perempatan itu kembali berjalan. Anak muda yang berlari di pinggir jalan dengan headshet yang menempel di telinganya. Lalu, di perempatan selanjutnya, Adi mendapati ada seorang pria yang dicat warna silver. Ia sering disebut sebagai manusia silver. Si Manusia Silver itu berjalan tanpa alas kaki, membawa sebuah kardus yang ia gunakan untuk meminta-minta kepada para pengendara yang berhenti. Hanya satu orang saja yang memberikan uang receh lima ratus rupiah. Selain itu, para pengendara hanya melengos, atau yang lebih sopan akan manggut-manggut sambil sedikit mesem pertanda ia tidak bisa memberi apa-apa.
Sebelum sampai di pom bensin, Adi terpikir ingin membeli tisu di minimarket. Kebetulan tisu di kamar kosnya sudah habis. Setelah mendapati minimarket, Adi segera berbelok. Sepeda motor ia parkirkan di ujung dekat dengan tembok pembatas.
“Mas, sedekahnya, Mas.” Seorang wanita renta yang sedang duduk bersimpuh di emper minimarket meminta sedekah kepada setiap orang yang berjalan melewatinya. Tangannya memegang sebuah gelas air mineral yang sudah plastik penutupnya dibuang. Gelas itu telah terisi beberapa keping uang receh dan beberapa lembar uang dua ribuan.
Adi melengos, seolah-olah tidak melihat keberadaan wanita renta itu. Ia berjalan cepat masuk ke dalam minimarket. Setelah mencari di rak tempat tisu, ia hanya mendapati tisu dengan ukuran kecil yang bisa dimasukkan ke dalam saku. Tisu yang biasa ia beli sedang kosong. Agar tidak merasakan malu ketika keluar dari minimarket tanpa membeli apa-apa, Adi membeli cotton buds. Lalu, ia mengantre di depan kasir.
“Silakan, Kak. Ada tambahan lagi?”
“Sudah, Mbak.”
Adi menyerahkan selembar uang seratus ribuan.
“Maaf, Kak, ada uang kecil.”
“Cuma tinggal selembar saja, Mbak.”
“Baik. Totalnya lima ribu enam ratus rupiah ya, Kak. Empat ratus rupiahnya boleh untuk donasi?”
“Boleh, Mbak.”
Adi berjalan keluar setelah mendapatkan uang kembalian. Di emper minimarket itu, wanita renta yang tidak lain adalah seorang pengemis, kembali menyodorkan gelasnya ke Adi. Uang kembalian yang belum sempat dimasukkan ke dalam dompet, membuat Adi merasa sangat tidak memiliki hati seandainya tidak memberi uang receh kepada pengemis itu. Adi pun mengambil selembar uang dua ribuannya dan memasukkannya ke dalam gelas milik sang pengemis.
Adi melirik ke jam tangannya. Pukul 16.15. Ia memasukkan uang kembalian dari membeli cutton bud ke dalam dompetnya. Ia segera menyalakan sepeda motornya. Begitu hendak jalan, seseorang dari arah yang tidak disangka-sangka membunyikan peluitnya. “Parkirnya, Mas!” ujar seseorang dengan rompi warna oranye dan membawa tongkat berbendera pramuka.
Sejenak, Adi menatap tulisan di tembok pembatas yang tertera sangat jelas. “PARKIR GRATIS”. Tetapi Adi tidak mau ambil pusing. Ia ingin segera pulang dan rebahan di atas kasur. Ia merogoh kembali dompetnya dan mengambil selembar uang dua ribuan lagi.
Pom bensin terdekat sudah semakin dekat. Kali ini, ia menatap jalanan dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang ke berbagai tempat. Ketika ia melihat sepasang kekasih yang berboncengan, pikirannya langsung tertuju kepada sang pujaan hati yang hingga detik ini belum bisa ia kawini. Ia masih belum punya cukup uang untuk melangsungkan pernikahan sebagaimana pernikahan yang diidam-idamkan pujaan hatinya. Bahkan pada detik ini, ia merasa jika pernikahannya dengan sang pujaan hati mungkin hanya akan menjadi mimpi. Ia tak tahu harus mencari uang ke mana. Ia tak bisa menabung dengan nominal yang banyak sementara gaji yang ia dapat sudah habis untuk makan, bayar cicilan sepeda motor, dan kebutuhan harian lainnya.
Adi mengendarai sepeda motornya tepat di belakang ibu paruh baya. Adi terkaget ketika ibu itu menyalakan lampu sein kanan tetapi berbelok ke kiri. Beruntung ujung roda sepeda motor Adi tidak menyerempet sepeda motor ibu paruh baya itu.
Adi menjadi lebih berhati-hati. Ia tak berani mengebut. Ketika berada di belakang mobil alphard warna hitam. Pikirannya kembali melayang. Apakah ia sanggup membeli mobil semacam ini? Ah, mungkin itu hanya akan menjadi angan-angan belaka. Bahkan sekarang ia pun masih hidup mengekos. Untuk mencicil beli rumah saja belum bisa. Bagaimana caranya ia bisa mewujudkan mimpinya mempunyai mobil semacam ini?
Mobil alphard di hadapannya baru saja melewati sebuah lubang besar di tengah jalan. Adi yang hanya berjarak satu setengah meter di belakangnya terkaget dan tidak dapat untuk menghindari lubang itu. Meskipun tidak berada di kecepatan yang tinggi, meskipun sudah mengerem, sepeda motor itu tetap masuk ke lubang itu. Sepeda motor Adi oleng. Ia terlempar dari sepeda motornya. Sementara jalanan sore itu sedang ramai-ramainya karena waktunya orang-orang pulang dari tempat kerja.
Sebuah truk bermuatan dengan kecepatan tinggi melaju di belakang Adi. Sopir truk itu menginjak rem dan membunyikan klaksonnya, tetapi sudah terlambat. Semua orang di sekitar tempat kejadian berteriak histeris. Namun, teriakan mereka tidak berarti apa-apa. Kecelakaan sore itu tidak dapat terelak. Sore itu, tepatnya pukul setengah lima, menjadi pukul setengah lima sore terakhir bagi Adi menatap langit dunia. Selamat jalan Adi. Semoga mimpi-mimpi pemuda itu dapat terwujud di surga.
***
===
*Hasan Ali, penulis kelahiran Purbalingga, lulusan kampus PKN STAN. Buku-bukunya: “Salahkah Aku Terlahir Introvert?” bisa dibaca di aplikasi Google Play Books, “Berteman dengan Sepi” dan “InSTAN” bisa dibaca di aplikasi Kwikku, dan “Cinta Tah Cita” bisa dibaca di aplikasi Lentera. Pembaca bisa menyapa penulis melalui instagram dan tiktok @hasan.ali.penulis.