LiteraSIP

22 September 2024

Puisi-Puisi Yazid Ibnu Bashory

Oleh Yazid Ibnu Bashory*

 

 

Rumah Pada Kalender Itu

Pada gendang mata aku menaruh rumah
mendengarkan matamu yang begitu candu
cahaya matahari mabuk beringsut di serambi hari
memuntahkan kerangka dan miniaturnya pada dinding
pintu yang terbuka
jendela menganga
ruang tamu dengan bercak kopi hitam perbincangan kita
dan semua yang terperangkap lemari kaca

Akulah pecandu binar matamu
menuturkan angka-angka
dan mengeja kata-kata yang tercecer di lantai
mengambang di ruang makan
menempel pada plafon
membentuk sarang laba laba menjadi ventilasi udara

Baru saja bibirmu menghangat
uapnya mengepul di bibir cangkir mulutku yang kikir
mengembunkan ingin akan sebuah rumah
tidak terlalu besar
namun bisa menampung segala angan yang terumbar
tidak perlu mewah
namun bisa melepaskan segala sumpah serapah lelah
dari rimba segala yang mengacau di luar jendela

Tidak perlu megah
cukup saja melukiskan suara pada kanvas sepi
dari segala kecamuk ketakutanku akan dirimu
yang tak lagi menempel pada kalender
dengan lubang di kepalanya
menggantung paku
pada jantung dinding itu

Noyontaan, Kota Pekalongan
Sabtu, 13 Juli 2024.

 

Lampu Kota dan Trafik Kemurungan
Berwarna Merah

Di halte busway Blok M itu kau tinggalkan malam sendirian menetap di mataku. darinya kumelihat wajah kota yang ceria, mati. dipadamkan nyala lampu yang membakar cerita masa lalu

Sepanjang jalan krendang hujan menggenang. ikatan tangan kita saling bertaut, kemudian meregang seiring ingatan yang hanya diam di angkot mikrolet M10

Trafik lampu tak mengisyaratkan apa-apa selain kemurungan yang merah. dan dering kereta yang membelah Roxy Square meringkuk pada dada gelandangan yang kedinginan. dimasukannya debu jalanan bersepuh ingatan ke dalam karung kumal seperti rongsokan yang barangkali mampu sekadar menghangatkan dadanya atau mengganjal lapar jantungnya yang berdegub ditumbuhi daun-daun wajahmu yang amat rimbun. wangi parfum yang melekat di kerah seragam biru kuning melengking di keningnya. mungkin cuaca terlalu teguh bermukim di dadanya yang terlampau kering. hingga bola matanya retak dan memuntahkan dirimu serupa air yang retas sebagai dahaga kepulangan hujan kepada alam

Warureja, Tegal
Selasa, 27 Agustus 2024

 

Fragmen Melankoli

Silsilah ingatan tidak akan luput dari mengingat. sebagaimana ketika pagi menyesap penghidu. pertama kalinya diam tubuhmu menguasai aroma kamar. wangi malam mengekor bayangan. pijar bohlam memadamkan remang yang tak akan lagi bimbang perihal demam yang kering di kening perawan atau janda kembang

Cuaca paling memahami kelopak mawar yang merekah di halaman. layu dan gugur serupa majemuk memulai kemarau. menerima tumbuh dengan pasrah sebagai karunia dari salam penghujan dengan gerimis syukur yang panjang. dahulu kau pernah memetik satu dan menaruhnya di hatiku. yang saat ini telah bercabang dua. yang satu merah sepertimu dan yang satu lagi putih sepertiku. menghiasi taman bunga dengan segala angan-angan yang tak pernah mengkhawatirkan kecemasan. dimana tumbuh pula bugenvile, melati dan kencongan. yang bijinya mudah meletup saat angin mengguncangnya ketika warna sudah bercampur kuning. taman yang digugus oleh orang-orang tua dan nama-nama yang mengikutinya. taman yang bisa saja poranda ketika badai terus menerpanya

Pernah kita mendudukkan sore dan mempersilakan pintu waktu untuk sekadar memaklumkan gelap yang berziarah. malam datang menyetubuhinya dengan gempita cahaya. atau sesekali tersipu malu dengan menyembunyikan gemintang di balik awan. namun pintu tak mampu meredam suara malam yang mencekam. seperti suara kedasih yang mendongeng tentang lusuh kesialan atau bengis kematian. sedang aku hanya mampu sekadar menyembunyikan gaungnya di tumpukan baju kotor untuk sesekali kubersihkan. namun lungkrah ialah sadrah yang memilin aku dalam labirin melankoli

Nyatanya malam bagimu adalah mawar. yang selalu kau kemudikan rahasianya. kau nikmati pekat wanginya dan saat pagi tiba selalu kau bawa. tetapi kini kau menaruhnya di luar jendela

Noyontaan, Kota Pekalongan
Selasa, 20 Agustus 2024

 

Diorama Tentangmu yang Bercendawan
di Kolong Ingatku

Tenang rautmu terlisan dalam danau sunter
berbincang dengan masa depan kita yang terhampar
sambil menikmati segelas bening air degan
dalam waktu yang perlahan terpanggang suar

Masih bisa kuhirup sesak Pasar Senen
menguapkan aroma kebakaran yang menjadi langganan
seperti langkah kita, yang hangat—menyalakan rona senja
ketika waktu menggiring kita ke Atrium di gunung agung
dan pulang berlenggang aku binatang jalang dalam genggaman

Pun tentang paras gadis transjakarta
meraba cerita, saat kita mulai berkenalan dengannya di Kota Tua
yang membawa kita pada mula diresmikannya
menyeret pula kita untuk bersahabat dengan rute Blok M – Kota

Atau juga anyir udara yang menyeruak di Pasar Ikan
yang mengapungkan perasaan kita pada awal jumpa—di Sunda Kelapa
berlomba langkah kaki bersama di sepanjang trotoar Gajahmada
asin keringat yang tiris dikala itu menutup mulutku begitu saja
menambahkan rasa getir, bahwa untuk kesekian kalinya
amplop coklat bergaris merah tidak diterima
lantaran pengalaman belum ada

Tertunduklah malam
membungkus pulang dengan membawa alamat di dalam ransel
melepaskan kantuk yang begitu liar di Tambora
hingga lelap mendaki mimpi dan tertidur dalam dengkur di Jembatan Lima

Di pinggir kalender
pada jumat pertama di bulan september
lelah terdampar di Latumenten
di samping pasar Jembatan Besi, sekadar memesan sekerat roti
yang dibakar dan disajikan dengan toping coklat-keju
dimana pelancong seumpama kelekatu yang berkerubung di pijar lampu
namun kini berevaporasi dari dua belas tahun lalu
yang nyaris aku tak bisa temukan wajahmu

Meruah peristiwa—berdesak
menikmati pentas diorama
yang semua seakan berisyarat dalam satu sabda
saling kolaborasi dan bersekutu menjadi paduan suara
dalam deras air yang jatuh ke dalam belanga kenangan
di kolong ingatan yang bercendawan dibawa hujan

Warureja, Tegal
Sabtu, 27 Agustus 2022. 13:04 WIB.

 

===

*Yazid Ibnu Bashory adalah nama pena dari Amin Yazid. Kelahiran Purbalingga, 10 Maret dan saat ini tinggal di Warureja, Tegal. Karya-karyanya tersebar di media online dan cetak. Tergabung juga di beberapa antologi bersama penulis lain dari berbagai penerbit berupa puisi, cerpen, fiksi mini, cerita anak maupun pentigraf.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *