29 September 2024
MENCURI SELENDANG BIDADARI
Oleh Iffatul Wahidah*

Aku adalah anak bidadari. Wanita berwajah rupawan, kulitnya putih seputih susu, ranbutnya hitam berkilau, tubuhnya yang indah, pandangan matanya yang teduh dan menyejukan hati. Dia yang berasal dari negeri kahyangan di atas bumi. Itulah yang di katakana oleh ayah setiap aku bertanya siapa ibuku. Tapi sayangnya ia sudah meninggal saat melahirkanku. Namun anehnya tidak ada satupun barang kenang-kenangan darinya di rumah. Atau foto yang bisa aku lihat. Hanya selendang berwarna hijau yang ternyata ayahlah yang mencurinya. Aku menduga ibuku tidak meninggal dunia namun sengaja meninggalkan kami.
Ibuku bidadari dan tentu ayahku adalah jaka tarub. Orang pertama di bumi yang berhasil mengintip DAN mencuri selendang salah satu bidadari sehingga dengan mudah ia mendapat istri dari kalangan bidadari. Ibuku juga seketika jatuh hati kepadanya. Bagaimana tidak. Ayahku orang tertampan dan orang yang paling baik . Semua orang pun juga mengakuinya. Badannya kekar, wajahnya rupawan, senyumnya menawan. Tidak kaget jika tipe istri idamannya adalah bidadari. Namun sayangnya kehidupan rumah tangganya harus seperti ini. Membesarkan anak semata wayangnya tanpa seorang istri. Entah mengapa dia tidak ingin menikah lagi. Atau kembali mencuri selendang bidadari. Padahal itu bukanlah hal yang sulit baginya. Mungkin dia begitu karena aku tidak pernah merengek minta seorang ibu. Aku juga tidak terlalu memusingkan hal itu. Sejak kecil ayah adalah ayah dan ibuku. Cukup ada ayah bagiku hidupku sudah sempurna.
Hari ini saat pelajaran bahasa Indonesia guruku yang sangat disiplin memberi tugas yang menurutku itu tidak manusiawi. Karena hari ini bertepatan dengan peringatan hari ibu, dia memberikan tugas untuk menulis surat untuk ibu. Seketika kepalaku pusing. Apa dia tidak tahu kalau di kelas ini banyak anak-anak yang tidak memiliki ibu? Kami hanya clingak-clinguk dan saling berbisik bagaimana cara mengerjakan tugas ini? Tiba-tiba bel istirahat berbunyi. Tugas menulis surat untuk ibu berubah menjadi tugas rumah. Kami bisa bernafas lega. Kami memiliki waktu untuk mencari cara mengerjakan tugas ini.
Di bawah pohon jambu kami anak-anak yang bernasib sama berkumpul. Masih membahas soal membuat surat untuk ibu.
“Dari pada susah-susah kita ngawur saja mengerjakan tugasnya. Seakan-akan kita punya ibu.” Usul Tono.
“Apa yang akan kamu tulis tentangnya? Bahkan pipimu itu nggak pernah dicium sama ibumu.” Kata Siti.
“Aku punya ide. Bagaimana jika kita minta ke ayah masing-masing untuk mencarikan ibu? Ayah kita pasti juga senang.” Usulku.
Akhirnya semua pun sepakat. Dalam waktu dua minggu ayah kami harus bisa punya istri. Saat aku mengutarakan permintaan itu ternyata dia sangat bersemangat untuk mencari istri baru. Bahkan menurutku reaksinya agak berlebihan. Mungkin karena aku melihatnya hanya seorang ayah. Aku pula dia juga laki-laki. Tanpa mengulur waktu malamnya dia mulai bersiap dengan dandanan necis, rambut melipis. Katanya mau mencari istri di air terjun desa sebelah lagi. Ternyata standar istri bagi ayah masih belum berubah. Ia masih mendambakan istri dari kalangan bidadari. Aku bisa menebak pasti dia akan mencuri selendang bidadari lagi. Sebenarnya aku tidak setuju dengan cara itu. Untuk mendapatkan cinta bukan dengan cara mencuri selendangnya tapi curi hatinya. Tidak ada cinta yang bertahan lama jika di dapatkan secara instan. Aku takut ayah akan terluka lagi. Tapi bagaimana lagi tugas Bahasa Indonesiaku harus segera selesai.
Paginya ayah kami pulang dengan membawa istri yang sangat cantik. Aku dan teman-temanku yang senasib datang ke sekolah dengan wajah yang sumringah. Akhirnya kami bisa merasakan bagaimana rasanya punya ibu. Teman-temanku berterima kasih kepadaku bahkan ada yang membawakan aku sekantong jajan. Kata mereka ayahku yang memimpin misi ini.
“Kenapa bisa semudah itu?”
“Kau lupa? Ayahmu Jaka Tarub. Orang pertama yang berhasil mencuri selendang bidadari.” Kata Siti.
“Ah, kau benar” kataku.
Tapi kebahagiaan kami itu tidak berlangsung lama. Para bidadari itu tiba-tiba pergi saat tugas Bahasa Indonesia kami juga selesai. Kata temanku mereka pergi ayahnya kurang kaya. Ada juga yang pergi karena ayahnya kurang tampan. Ada juga yang pergi karena rumah ayahnya kurang bagus. Ah, para bidadari apa memang serumit itu ambisi mereka terhadap kebutuhan duniawi?
Namun bidadari yang dibawa ayah tidak seburuk itu. Saat semua kumpulannya pergi dia masih setia menemani ayahku. Bahkan mereka tak pernah bertengkar. Wanita itu juga sangat baik kepadaku. Ia tak pernah keberatan melakukan pekerjaan rumah layaknya para ibu rumah tangga. Tidak menuntut banyak hal, tidak keberatan tinggal di rumah kami yang tidak terlalu besar.
“ Tidak kaget jika wanita itu tetap tinggal di rumahmu. Ayahmu itu Jaka Tarub. Ayahmu sangat tampan dan baik. Orang yang terkenal di bumi bahkan mungkin di dunia kayangan sana. Pasti ibumu sangat bangga selendangnya dicuri ayahmu. Beda dengan ayah kami.” Kata temanku. Mungkin teori itu betul juga. Yang terpenting ayah bisa bahagia bagiku itu sudah cukup.
Keluarga kecil kami hidup dengan bahagia bahkan sampai aku beranjak dewasa. Aku sudah tidak khawatir jika aku harus meninggalkan rumah untuk bekerja di luar kota. Ayahku tidak akan kesepian. Namun suatu hari aku mendapatkan kabar yang sangat mengejutkan dari rumah. Wanita itu tiba-tiba pergi. Entah apa alasannya. Padahal mereka sudah berjanji untuk tidak meninggalkan satu sama lain. Ayaku sudah berusaha untuk membahagiakan wanita itu, memenuhi semua yang inginkan. Aku kira dia Wanita yang berbeda. Ternyata sama saja. Aku langsung pulang agar bisa menenangkan ayah. Sesampai di rumah aku melihat ayahku yang wajahnya sudah dipenuhi keriput namun masih tetap tampan, duduk termenung di depan rumah dengan matanya yang basah. Tangannya terus menggengam selendang putih Wanita itu yang dulu ia curi untuk mendapatkannya. Betapa terluka ayahku. Entah apa kesalahannya sehingga ia harus Kembali menelan racun perpisahan.
“Apa yang terjadi, Ayah?”
“Aku lupa, Nak. Wanita itu bidadari bukan manusia. Yang kecantikannya tak pernah pudar. Sedangkan aku hanyalah manusia yang pasti menua. Dia hanya bidadari. Wanita yang cantik bukan wanita yang berpendidikan Mungkin inilah hukuman untukku menjadi orang pertama kali berhasil mencuri selendang bidadari sehingga melahirkan Jaka Tarub muda yang jauh lebih gagah. Mereka yang juga terobsesi dengan bidadari dan berani mencuri bidadariku dengan licik.”
Inilah alasan mengapa aku tidak pernah suka dengan obsesi ayah dan tidak mau mewarisinya. Memilih pasangan hidup itu bukan sekedar cantik namun juga harus berpendidikan dan beretika. Sayangnya banyak laki-laki yang lupa akan hal itu.
“Mengapa mereka sejahat itu?”
“Karena mereka wanita, Nak. Sukmanya sangat licin.”
===
*Iffatul Wahidah, Lulusan sarjana Pendidikan Bahasa Arab di IAIN Ponorogo yang berdomisili di Ponorogo. Kini menjadi pengajar sebagai guru Bahasa arab di MI salafiyah Barek Kab. Madiun. Sejak masih pelajar sudah tekun dalam kepenulisan khususnya karya fiksi. Karya yang sudah pernah ditulis adalah, hanya ada satu cinta (2014), balada dua kuburan (2016), laki-laki di rumah ibuk (2017) dan satu jam di kota lampion (2016), Syafi’I (2016) yang masuk dalam buku lomba antologi 33 pelajar kota reog tahun 2016.