LiteraSIP

29 September 2024

Puisi-puisi Boy Hagel Tarigan

Oleh Boy Hagel Tarigan*

 

 

Percakapan di Beranda

Dia berkata di beranda:
Jika pagi telah kembali ke luar jendela,
Matahari pun bersinar tanpa tuntutan,
Dan burung-burung yang bertengger di
Dahan pohon,
Berkicau tak serupa lengking alarm.
Apakah kau mampu melantunkan kisah
Dalam susunan nada-nada yang indah
Untuk mengiringi langkahku menuju ke sana?
Aku diam, tanpa suara di beranda.

Dia berkata di beranda:
Bila tubuh dan jiwa
Lepas dari dekapan waktu,
Membuatku menembus segala ruang
Tanpa perlu lagi menghirup udara
Yang seakan tak cukup dihirup bersama,
Dan terbebas dari tidur
Yang terlalu sempit untuk merebah.
Apakah kau mampu
Menyampaikan segala kenang
Dalam susunan kata-kata yang indah
Untuk menemani aku menuju ke sana?
Aku diam, tanpa suara di beranda.

Dia berkata di beranda:
Akankah setelah kembali kuwarnai sinar,
Kulupakan segala angka-angka yang menghanyutkan,
Memberi nama kepada rumput liar
Basah oleh air pancur di tepi sawah,
Bersandar di pundak pohon hingga terlelap,
Dan kutemui jagad raya dengan sejati.
Apakah kau mampu mangandung-andung 
Sambil tenggelam dalam segala ingatan yang selalu hidup
Untuk mengirimiku doa menuju ke sana?
Menangis saja aku tak tahu, akhirnya aku berkata di beranda.

Medan, 2024

 

Hanya Cerita Tanpa Nama yang Mungkin Terlupa

Telah datang seorang wanita paruh baya
Menggendong bayi dalam pelukan yang kelam.
Langkahnya ringan, tapi tertatih—jejak tak bersuara
Di tanah yang dingin, tanpa alas kaki,
Rambut serupa kemoceng kusut
Menyapu angin dengan tangis yang terpendam.

Di bawah rindang rumpun bambu, ia menunduk
Meminta sejumput ubi—hanya sekadar bertahan,
Namun yang ia bawa bukanlah sekadar lapar,
Melainkan beban yang tak terkatakan,
Senyap di balik mata yang tak lagi menangis.

Pada jam yang tak bergerak, 16:30 tepatnya,
Suara terperangkap di bibir yang pecah;
Ia bercerita tentang masa yang lenyap di pelabuhan
Janji-janji mengirimnya jauh, mengejar impian di depan mata.
Ia berlayar dalam rombongan tanpa pamit, tanpa salam—
Cuma ombak dan angin yang tahu
Betapa janji itu, perlahan, meluruh dari tangan,
Kertas yang dibawa angin, basah, tak terbaca.

“Di tengah lautan,” ia berbisik,
“janji-janji itu hilang seperti warna yang pudar,
Diambil paksa sebelum sempat menggapai apa-apa.
Aku hanya tersisa,
Tak lebih dari bayang yang tak sempat tertangkap.”

Segala miliknya, termasuk nama,
Ditelan ombak yang tak mau mendengarkan jeritan.
Dan di pulau yang tak pernah ia ketahui namanya,
Ia terdampar—asing, terlantar,
Bersama keriput yang tiba lebih dulu dari rumah.

Sebelum akhirnya ia beranjak pergi,
Bayi dalam pelukannya menangis, atau mungkin itu angin—
Tak ada yang tahu pasti.
“Ajak aku pulang,” katanya,
“jika kau ingin pulang.”
Lalu ia melangkah, hilang di balik rumpun bambu,
Tanpa jejak, tanpa nama yang tertinggal
Dan tak pernah kembali.

Medan, 2024

 

Di Puncak Bukit yang Hijau

Terdengar sayup-sayup suara memanggil
Bersahutan bagai ingatan samar masa lampau
Dari kakinya, yang rindang pohon-pohon cemara
Berselimut kabut segar

Kau kenali itu, tapi entah di mana,
Namun yang jelas, ia pernah ada

Kuda-kuda memakan rumput di tepian jalan
Seorang pria memikul kayu bakar
Rumah-rumah kayu berjejer
Mengeluarkan asap dari cerobongnya
Menawarkan siapa saja untuk singgah

Sekali lagi kau cari-cari
Di segala waktu yang telah tercatat
Namun lembar-lembar itu
Tak ada yang berkisah tentangnya

Hingga suatu ketika
Kau susuri juga akhirnya
Dengan keadaan entah pejam atau melihat

Dalam perjalanan, kau temui bayangan tubuh
Yang terpantul dari genangan air sisa hujan
Dalam bopongan tergesa-gesa

Sekejap, ingatanmu pun kembali
Tak ada yang samar lagi
Semua rinci tercatat waktu dalam lembar-lembarnya

Maka kau putuskan lanjut melangkah
Di atas tanah yang basah dan menyeruak aromanya
Ke puncak bukit hijau di ujung sana
Sampai kau tak lagi merasakan apa-apa

Medan, 2024

 

Berita Pagi Ini

(Percakapan telah mati
Pertanyaan menumpuk dalam kepala
Matahari membakar rerumputan
Dan dunia bertumpuk dalam gulir layar lensa)

Seorang pria berkendara sebelum fajar tiba
Tanpa ada tangan untuk berpegang
Tubuh berbisik kesakitan
Menuju jalan tanpa lambaian

(Hari-hari akan tetap sama
Wajah-wajah yang lelah
Hanyut dalam pusaran
Riuh rutinitas
Yang tak bersamudra)

Setelah terhempas dari ibu kota
Hidupnya kini untuk penantian
Menghantarkan tujuan demi tujuan
Atau terdiam

(Jam bergerak ke kiri
Sinar redup perlahan dalam pandang
Pejalan kaki berhenti melangkah
Bising kendaraan tak terdengar
Langit bisu menyaksikannya)

Sudah dua hari hanya menghirup udara
Doa tergenang di parit yang hitam
Di warung, dalam antrean pesan
Kedinginan
Tumbang
Pulang

Medan, 2024

 

Keterangan:

Mangandung-andung adalah tradisi nyanyian yang merupakan salah satu ritual adat kematian dalam masyarakat Batak Toba. Andung merupakan seni suara yang berisi ungkapan kesedihan, cerita kebaikan orang yang meninggal, dan ratapan dari keluarga yang ditinggal

 

===

*Boy Hagel Saputra Tarigan, lahir di Berastagi, Sumatera Utara. Saat ini masih berstatus mahasiswa di Universitas Sumatera Utara Fakultas Ilmu Budaya. Puisi-puisinya dapat ditemui di beberapa media.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *