LiteraSIP

15 Januari 2023

Sajak-Sajak Sapta Arif

Oleh Sapta Arif*

 

Dapur Si Loki Tua

Seumpama lidahmu, lidah Sungu Lembu1. Tak ada ihwal yang tak tersingkap. Dunia tak ubahnya ketegangan yang tercerabut di ladang-ladang petani. Bulir peluh bercucur menyiram, meski langit hilang iba. Dan dapurmu, tetap bekerja tanpa kenal masa.

Semestinya, dunia adalah perjamuan besar di meja makan Si Loki Tua2. Pramusaji menghidangkan pedih perdu langkah zaman. Di sebuah negeri di Pulau Padi3, kemarau enggan hilang. Dan kepedihan riang bertengger di atap-atap rumah.

Anggur telah tandas. Babi Panggang berguling menguik-nguik. Menyaksikan lidahmu, Ooo lidah Sungu Lembu, bumbu dapur berlarian di langit-langit mulut. Setelah kelaparan, apatah kemarau bosan menerjang?

Ponorogo, Desember 2022

=

1) : Tokoh dalam novel Raden Mandasia karya Yusi Avianto Pareanom yang memiliki berkah lidah. Yaitu, kemampuan mengetahui resep masakan hanya dengan mencicipinya.

2) : Seorang tokoh koki handal dalam novel Raden Mandasia karya Yusi Avianto Pareanom.

3) : Sebutan sebuah pulau dalam novel Raden Mandasia karya Yusi Avianto Pareanom.

 

Kemarau

Dan kemarau pasrah memunggungi nasib. Dua hidung kuncup di ladang-ladang tandus. Ia menyergap, prihatin, menelan tangkai-tangkai doa yang kerontang. Apabila kau berhasil mengetuk langit, adakah kebenaran di ceruk mata.

Kau teguhkan niat menyelinap. Adakah pintu belakang yang mungkin diketuk? Tanyamu, rebah dalam pasrah. Kepastian menjadi cermin. Ia mengantar kekhawatiran—yang diperam. Apabila besok, hujan turun, akankah kau ingkar (lagi)?

Ponorogo, Desember 2022

 

Kemarau (Lagi)*

—dari Alabasta. Dan perdamaian pudar dihunus pedang Hoja. Hidup tak ubahnya menunggu penghakiman. Para petani masih terlelap, sebab telah sekian purnama langit hilang daya. Di sisi Raja Cobra, kepedihan mengaduh, mengadu ke tempat yang salah.

Perompak perdamaian datang. Air-air tertahan debu gurun pasir yang menguap. Menutup langit. Menahan awan hujan. Sedang, di sebuah rumah perjudian, Crocodile yang perkasa tertawa. Setelah bubuk tarian terbakar, hujan tumpah. Kepedihan semakin mengiba—menuntut nasib. Dan, ketika hari penghakiman tiba, pedang Hoja (akan) berlari menghunus rajanya.

Ponorogo, Desember 2022

*Terinspirasi dari salah satu bagian serial One Piece. Menceritakan kemelut kerajaan Alabasta yang dilanda kemarau panjang dan kemelut perang kudeta.

 

Hujan (?)

Terbaringlah ia di hadapan hujan bulan juni*
sebelum memasrahkan tubuhnya, ia bersumpah,
—di depan pesta anggur, di bawah siraman rembulan
yang dilepas-lebur padanya, akan menjadi doa-doa.
Ia lahir sebagai yang ganjil, mengudara dalam naung
magis puisi-puisi.

Dan, kemarau pun tak henti menjulurkan lidahnya,
dari tahun ke tahun, api berkobar membakar matamu,
—jiwa yang lebur diperam waktu.

Maka kau akan terlarih kembali, menanti-nanti,
apakah ada hujan di bulan ini?

Ponorogo, Januari 2023

*Hujan Bulan Juni merupakan judul puisi karya Sapardi Djoko Damono

 

===

*Sapta Arif

Kepala Humas STKIP PGRI Ponorogo. Buku terbarunya “Bulan Ziarah Kenangan”

3 thoughts on “Sajak-Sajak Sapta Arif”

  1. Pingback: Edisi perdana Ruang LiteraSIP - SIP Publishing

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *