15 Januari 2023
Burung-Burung Terbang Tinggi
Oleh Sam Edy Yuswanto*

Suara mesin pemotong pohon berdesing memekakkan gendang kuping. Satu per satu pohon trembesi berukuran besar pun jatuh bertumbangan. Burung-burung yang telah begitu lama menjadikan pohon-pohon rimbun dan teduh sebagai rumah itu pun tergesa keluar dari sarang masing-masing. Kocar-kacir. Terbang tinggi ke berbagai arah.
Beberapa saat kemudian, rombongan burung-burung itu akhirnya menuju satu titik. Berkumpul di sebuah pohon beringin besar yang usianya sudah sangat renta di tepi desa di ujung sana. Di sanalah mereka kini berteduh dan saling mencurahkan perasaan masing-masing.
“Kita semua kehilangan tempat tinggal gara-gara manusia beringas itu!“ seekor burung kutilang menggerutu, wajahnya tampak begitu sedih.
“Kenapa sih manusia-manusia itu jahat banget sama kita, padahal kita nggak pernah jahat sama mereka,” sahut burung kutilang yang lain sambil menatap kesal ke arah para penebang pohon nun jauh di sana. Tangan-tangan manusia itu tampak begitu kekar dan beringas memotong-motong badan pohon yang telah tumbang ke bumi.
“Entah aku juga heran, kenapa mereka nggak membiarkan saja pohon-pohon itu hidup bebas sebagaimana mereka ingin hidup. Apa mereka nggak ingat bahwa dulu, tujuan leluhur mereka menanam pohon adalah agar jalan yang menghubungkan ke kampung sebelah menjadi lebih indah dan teduh,” seekor burung prenjak berkicau nyaring meluapkan isi hati.
“Aku pernah mendengar cerita dari orangtuaku, konon para leluhur sengaja menanam banyak pohon di tepi jalan agar kelak ketika sudah besar bisa dimanfaatkan sebagai tempat berteduh para petani usai menggarap sawah,” sahut seekor burung kenari.
“Hmm, pantesan di bawah pohon rindang itu aku sering melihat para petani tertidur, mungkin saking lelahnya, aku pernah menyaksikan pemandangan lain yang begitu mengharukan…,” ucap burung kutilang seperti sengaja menggantung ucapan.
“Mengharukan bagaimana?” tanya burung prenjak dengan raut penasaran.
“Aku melihat ada beberapa petani yang sedang shalat di bawah pohon trembesi itu, bukankah itu pemandangan yang luar biasa dan sangat mengharukan?” terang burung kutilang.
“Subhanallah, berarti pohon-pohon itu banyak sekali manfaatnya ya, bisa buat tempat berteduh sekaligus tempat beribadah,”
“Juga sebagai tempat resapan air saat musim hujan sehingga bisa mencegah datangnya banjir,”
“Jangan lupa, pohon itu juga menjadi sarang rumah yang nyaman bagi kita selama ini,”
“Sayangnya, kini pohon-pohon itu telah tiada, manusia-manusia itu benar-benar serakah dan egois, semaunya sendiri!“
Burung-burung itu terus berkicau. Mengeluhkan tingkah manusia-manusia di ujung sana yang masih sibuk menebang dan memotong-motong puluhan pohon trembesi besar yang tumbuh subur dan rindang di kanan kiri jalan penghubung dua desa. Jalan yang kanan kirinya terhampar ladang luas tapi tampak kekeringan karena sedang diterjang musim kemarau.
***
Seminggu yang lalu, sebelum pohon-pohon trembesi itu habis ditebang. Di suatu pagi di sebuah aula balai desa, tampak orang-orang berkumpul, mengadakan musyawarah. Perihal cara mengatasi musim kemarau yang menyebabkan ladang-ladang menjadi kerontang. Membangun saluran irigasi akhirnya menjadi keputusan bersama dalam pertemuan warga bersama kepala desa beserta para perangkatnya.
Saluran irigasi tersebut rencananya akan dibangun di kanan kiri jalan yang ditumbuhi pohon-pohon trembesi besar yang usianya sudah puluhan tahun itu. Sebenarnya di samping pohon trembesi tersebut sudah ada sungai kecil yang tak pernah teraliri air. Sungai yang dulunya memiliki kedalaman nyaris dua meter dan berfungsi sebagai irigasi. Namun sungai tersebut kini sudah tak berfungsi. Kedalamannya kini bahkan cuma dua jengkal tangan dan dipenuhi sampah-sampah warga yang gemar buang sampah sembarangan.
Sesuai kesepakatan warga, sungai kecil dan kering tersebut akan diperlebar sebagai saluran irigasi. Agar sawah-sawah warga bisa kembali basah dan mereka kembali bercocok tanam. Sayangnya pembangunan irigasi tersebut harus mengorbankan pohon-pohon trembesi itu. Padahal sebenarnya bisa saja mereka membangun saluran irigasi dengan tanpa menebangi pohon-pohon warisan leluhur mereka.
***
Pohon beringin yang berdiri gagah dan tinggi di tepi desa itu kini sangat riuh oleh kicauan burung-burung beraneka jenis. Burung-burung yang semula bermukim di pohon-pohon trembesi itu kini membangun sarang-sarang baru di pohon beringin renta tapi masih sangat kokoh tersebut. Mereka begitu telaten dan sabar mengumpulkan rumput-rumput dan ranting kering yang banyak terserak di ladang-ladang warga. Satu sama lain saling bahu membahu merangkai sarang yang baru.
Tak sampai sebulan, burung-burung itu kembali berwajah riang. Mereka sudah mulai berdamai dengan keadaan. Meski sejatinya mereka merasa lebih nyaman bersarang di sela-sela ranting dan dedaunan pohon trembesi, tetapi harus bagaimana lagi, hidup terus berjalan dan semua harus dijalani dengan lapang dada.
Satu hal yang membuat burung-burung itu senang menempati sarang baru di pohon beringin rimbun itu adalah: mereka memiliki saudara-saudara baru. Burung-burung yang telah lama bermukim di pohon beringin itu menyambut dengan suka cita para burung pendatang. Mereka hidup rukun meski jenisnya beragam. Bahkan fisik mereka yang beragam tak membuat sebagian yang satu mendominasi sebagian yang lain.
Hingga pada suatu petang, tepatnya dua bulan berselang sejak pohon-pohon trembesi itu dimusnahkan dan saluran irigasi telah dibangun, burung-burung itu tampak riuh beterbangan ke sana-kemari dengan perasaan gugup dan raut diremas cemas. Mereka merasa udara hari itu lebih dingin dari hari-hari biasanya. Angin juga tampak bertiup lebih kencang. Debu-debu yang bersumber dari sawah yang kekeringan beterbangan ke sana-kemari dan membuat para burung yang terbang di atasnya berkali-kali memejam mata agar jangan sampai kelilipan.
“Dingin sekali hari ini, mungkin musim hujan akan segera datang,” ucap seekor burung kenari sambil tergesa masuk ke dalam sarang.
“Ya, musim hujan memang akan segera datang,” sahut seekor semut rangrang yang sedang merayap menuju lubang pohon yang bersisian dengan sarang burung kenari.
“Begitu ya, Mut?”
“Ya, kami bangsa semut sangat peka dengan perubahan alam, kami semua sudah mempersiapkan datangnya musim hujan, makanya kami segera bergegas pulang ke sarang setelah melihat pertanda alam ini,”
“Terus kira-kira kapan hujan turun ya, Mut,”
“Bisa jadi nanti malam, tuh lihat, awan hitam mulai bermunculan dan meratai langit,” terang semut sambil tergesa masuk ke dalam lubang pohon yang telah lama dijadikan sebagai sarangnya. Burung kenari menatap jauh ke keluasan langit yang semula biru kini telah didominasi warna kelabu. Sementara burung-burung masih tampak riuh. Terbang dengan gugup menuju sarang sambil terus berkicauan, mengabarkan kepada sesama saudaranya bahwa musim hujan akan segera tiba.
Dan, benar. Hujan turun malam itu selepas Isya. Curahnya begitu deras hingga para burung merasa kedinginan meski sarang-sarang mereka sudah dibuat berlapis-lapis agar air tak merembes masuk. Hujan baru berhenti saat pagi telah tiba.
Para burung tampak begitu terperangah saat keluar dari sarang-sarang mereka. Nun jauh di bawah sana, air berwarna keruh tampak meluap dan menenggelamkan sawah-sawah warga. Bahkan sawah-sawah tersebut lebih mirip lautan yang begitu luas dan sangat mengerikan.
***
Puring Kebumen, 9 November 2021.
===
*Sam Edy Yuswanto
Lahir dan berdomisili di kota Kebumen. Ratusan tulisannya tersiar di berbagai media massa seperti Jawa Pos, Republika, Koran Sindo, Kompas Anak, Suara Merdeka, Radar Surabaya, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, dll. Tiga buku kumpulan cerpennya yang telah terbit antara lain: Percakapan Kunang-Kunang, Kiai Amplop, Kaya dan Miskin, Impian Maya, dan Filosofi Rindu.
Ratusan tulisannya tersebar di berbagai media, lokal hingga nasional, antara lain: Jawa Pos, Seputar Indonesia, Republika, Suara Pembaruan, Kompas Anak, Jateng Pos, Radar Banyumas, Merapi, Minggu Pagi, Radar Surabaya, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Lampung Post, Solopos, dll.
mantap…
Selamat, Kak Sam. Cerpennya semacam fabel. Renyah sekali ketika dibaca. 😍😍👏👏