LiteraSIP

6 Oktober 2024

Bisul

Oleh Eko Hartono*

 

 

Susilo sangat kaget mendapati bisul tumbuh di salah satu bagian tubuhnya. Kehadiran bisul itu membuat Susilo jadi tak nyaman. Dia kesulitan untuk melakukan berbagai aktivitas. Karena bila bisul itu tersenggol, sakitnya bukan kepalang. Apalagi bila sudah matang. Daerah di sekitar bisul terasa meradang, nyut-nyutan seperti ditusuki jarum. Sekujur badan rasanya mau meledak. Perasaan Susilo jadi sensitif dan kerap uring-uringan sendiri.

Susilo sudah berusaha mengobati bisulnya, tapi tak membawa hasil. Setiap kali bisul itu diberi salep dan hilang, tak berapa lama kemudian muncul lagi. Yang lebih menjengkelkan bisul itu muncul di tempat berbeda. Kadang di lengan, ketiak, wajah, leher, dada, bahkan di bokong. Konon, selama mata bisul belum dikeluarkan akan selalu muncul. Tapi inilah beratnya. Susilo tak sanggup mengeluarkan mata bisul, karena tak kuat menahan rasa sakit yang luar biasa.

Keengganan Susilo mengeluarkan mata bisul membuat Kristina, sang istri, jadi keki dan menggerutu. “Bagaimana bisa sembuh kalau bapak tak mau mengeluarkan sumber munculnya bisul. Mata bisul itu harus dipencet dan dikeluarkan agar tak lagi jadi gangguan!” cetusnya.

“Omong sih enak dan gampang, tapi yang ngelakoni ini yang berat. Baru dipegang saja bisul ini sudah terasa sakit bukan main, bagaimana lagi dipencet? Kamu mau bikin aku mati!” dengus Susilo senewen.

“Tak ada orang mati karena bisulan, Pak. Lagian sakit sebentar kan tidak apa-apa, yang penting setelah itu tidak sakit lagi. Kalau mata bisul itu tak dikeluarkan, sama halnya bapak memelihara penyakit. Kalau bapak sakit yang rugi bukan bapak sendiri, tapi warga desa yang butuh pelayanan bapak!”

Ucapan sang istri terasa menohok. Apa yang dikatakannya benar. Bagaimana ia bisa hidup sehat dan normal bila sumber penyakit dalam tubuhnya tidak dimusnahkan. Bagaimana dia bisa bekerja dengan baik bila masih sakit-sakitan. Penyakit bisul sebenarnya bukanlah penyakit kelas berat. Belum ada ceritanya orang mati karena bisulan. Tapi biar kata penyakit sepele dampaknya luar biasa hebat. Orang bisulan jadi malas untuk melakukan apa-apa.

Susilo bisa merasakan sendiri bagaimana susahnya bekerja gara-gara bisul. Pikiran dan energinya banyak tersita oleh kehadiran bisul. Dia sampai mengabaikan pekerjaannya karena sibuk mencari jalan terbaik melenyapkan bisul sialan ini. Saran dari istrinya untuk memencet dan mengeluarkan mata bisul berat dijalani. Selain dihantui oleh rasa sakit luar biasa, Susilo masih berpikir ada jalan lain melenyapkan bisul tanpa harus kesakitan!

Bisul itu kini bersarang di bokongnya dan lebih besar dari ukuran bisul pada umumnya. Meski letaknya cukup tersembunyi di belakang dan tertutup celana, namun tetap saja membuat Susilo merasa tidak nyaman. Dia kesulitan untuk melakukan aktivitas. Dia hanya bisa berdiri saat menjalankan tugas. Hal ini selain sangat melelahkan juga memancing perhatian orang-orang di sekitar. Mereka ada yang bisik-bisik dan kasak-kusuk sambil menahan senyum geli. Perasaan Susilo jadi kecut bukan main.

Seorang anak buahnya di kantor memberi saran agar dirinya berobat ke paranormal alias orang pintar. Konon, sang paranormal sanggup mengobati segala jenis penyakit tanpa rasa sakit dan tanpa operasi. Susilo jadi tertarik. Dia lalu minta diantar ke tempat praktek sang paranormal. Susilo terobsesi melenyapkan bisulnya dengan pengobatan alternatif.

“Wah, sepertinya ini bukan bisul sembarangan. Ini ada pengaruh jahat di dalamnya,” cetus sang paranormal dengan mimik serius.

“Pengaruh jahat? Maksudnya?” tanya Susilo tak mengerti.

“Bisul ini mengandung kekuatan jahat. Ada orang yang sengaja ingin mencelakai Bapak…”

“Jadi saya kena santet, begitu?”

“Kurang lebih begitu! Ada yang berniat jahat pada bapak dengan mengirim bisul!”

“Bagaimana Mbah bisa tahu? Apa buktinya?” Susilo masih belum yakin dengan diagnosis sang paranormal.

“Buktinya jelas. Bapak sudah berobat ke dokter dan mengobati bisul itu dengan segala macam salep, tapi kenyataannya tidak juga sembuh. Malah bisul bapak semakin besar dan menyakitkan. Jadi saya yakin ini bukan penyakit biasa. Ini ada unsur magiknya!”

Susilo tertegun. Dia tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa bisulnya merupakan serangan tersembunyi dari orang yang berniat jahat padanya. Sebagai orang yang berpendidikan tinggi kedengarannya naif mengaitkan penyakit bisul dengan klenik dan sejenisnya yang berbau takhayul. Tapi bila melihat fenomena yang terjadi di tengah masyarakat, kerap terjadi peristiwa aneh dan ganjil yang sulit dicerna akal sehat. Semua kejadian itu selalu dihubungkan dengan hal-hal gaib.

Kejahatan irasional ini biasanya menyasar kepada orang-orang kaya atau berkedudukan tinggi. Sebagai kepala desa dirinya berada di pucuk pohon yang rawan gangguan. Banyak orang yang mengincar dan menginginkan jabatan kepala desa. Bukan tidak mungkin mereka berusaha menjatuhkannya dengan berbagai cara, salah satunya berkongsi dengan dukun santet. Memikirkan hal ini membuat bulu kuduk Susilo jadi merinding. Ngeri!

***

Malam ini…

Susilo tak bisa memejamkan mata. Hatinya diliputi gelisah. Bukan saja oleh rasa panas meradang dan nyeri pada bisulnya yang telah matang, tapi keterangan dari sang paranormal bahwa malam ini akan ada serangan gaib. Meski sang paranormal telah memberinya ubarampe sebagai penangkal yang ditaruh di bawah kasur, namun perasaan Susilo masih belum tenang. Paranormal mengatakan pertanda bila serangan santet itu gagal adalah dengan pecahnya bisul. Malam makin larut. Suasana sepi senyap. Hanya ada suara serangga malam bersahutan. Sang istri sudah terlelap sejak sore tadi.

Tiba-tiba telinga Susilo mendengar suara gedubrak keras sekali. Seperti benda terjatuh. Susilo menengok, mencari asal suara. Tangannya menggapai membangunkan sang istri. Mungkin karena sangat kaget atau sedang larut dalam mimpi, sang istri refleks mengayunkan tangan dan kaki. Celakanya, ujung kaki menendang bokong sang suami, tepat pada bisulnya. Kontan Susilo menjerit sekuatnya. Bisul yang sudah matang itu seketika pecah. Keluar nanah!

Mungkin saking kuatnya tendangan sang istri, Susilo tak kuat menahan sakit luar biasa dan jatuh pingsan. Ketika siuman, sang istri menangis tergugu di sampingnya seraya mengucapkan rasa penyesalan. Dia tidak sengaja melayangkan tendangan karate pada sang suami. Tapi bukannya marah, Susilo malah tersenyum senang dan lega. Karena kini bokongnya sudah tak sakit lagi. Mata bisulnya sudah lenyap. Dia pun jadi percaya pada ucapan sang paranormal bahwa ada orang yang sengaja ingin mencelakainya!

“Sekarang aku jadi tahu, Bu, ternyata memang ada orang yang sengaja ingin mencelakaiku. Yang namanya politik memang kejam! Segala cara ditempuh!”

Sang istri hanya melongo.

 

===

*Eko Hartono. Lahir di Wonogiri, 16 Juni 1969. Menulis cerpen, drama, skenario, novelet, dan novel. Tulisannya telah dimuat di beberapa media massa diantaranya: Femina, Kartini, Swara Cantika, Kawanku, Aneka, HAI, Republika, Suara Karya, Nova, Kedaulatan Rakyat, Wawasan, Cempaka, Solopos, Alkisah, Bobo, Talenta, Panjebar Semangat, SINDO, Tribun Jabar, Tabloid NYATA dan lain-lain.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *