13 Oktober 2024
Kebaya Merah
Oleh Endang S. Sulistiya*

Pada sore di bulan Maret yang teduh itu, kau datang ke rumahku dengan sepeda motor hasil tukar tambah. Sepeda motor jantan merah tahun 2015 yang dahulu biasa kau tunggangi bersama mantan suamimu, telah kau tukar tambah dengan sepeda motor matic putih keluaran tahun yang sama. Dengar-dengar kau mesti menambah tiga juta rupiah.
Dengan penukaran tersebut, kau seolah-olah ingin memupus segala kenangan tentang suamimu. Bisa jadi pula kau ingin menyiarkan kepada para tetangga bahwa suamimu memang lelaki yang pantas ditendang keluar dari rumahmu.
Orang-orang meyakini kau menikah dengan Rokim hanya karena ketampanannya. Secara Rokim hanya lulusan SD, pekerjaannya serabutan, tidak punya kendaraan, serta kondisi finansial jauh di bawahmu. Tak mengherankan saat pernikahan, kau hanya mendapat mahar satu juta rupiah saja.
Siapapun tidak memungkiri bahwasanya Rokim gagah dan tampan. Lumrah bila di dua puluh lima tahun usiamu saat itu, kau begitu tergila-gila kepadanya. Bahkan kaulah yang aktif mengejar-kejar. Kau pula yang memburunya untuk segera menikahimu.
Rumah tanggamu bersama Rokim cukup tahan uji. Ketika berdengung desas-desus yang menyebut bahwa Rokim memakai susuk sehingga kau tak kunjung hamil, kalian diam saja. Kalian tampak begitu teguh bergandengan tangan dalam kesetiaan. Termasuk saat Mbah Dukun diam-diam tanpa sepengetahuan Rokim menawarimu ‘jago’ lain untuk membuatmu hamil, kau tegas-tegas menolak.
“Aku tidak akan berbuat serong!” ikrarmu. Saat itu kita masih dekat dan akrab, sehingga kau leluasa menceritakan kondisi rumah tanggamu kepadaku.
Tak ada satu pun warga kampung, termasuk aku sendiri, yang menduga bahwa keharmonisan yang kau tunjukkan bersama Rokim akan berakhir perpisahan. Aku lumayan bingung kala selama beberapa hari warga desa membicarakan tentang Rokim yang mendadak purik. Selepas itu gosip panas bahwa kau telah berselingkuh tersebar luas.
Kabarnya Rokim memergokimu sedang berduaan dengan laki-laki di kamar. Sebagai seorang suami yang terinjak harga dirinya, Rokim menumpahkan kemarahannya. Dia menampar wajahmu.
Biduk rumah tangga yang dibangun lebih dari sepuluh tahun pun koyak. Ibumu yang tidak terima anak semata wayangnya dikasari lekas mengusir menantu satu-satunya. Rokim pulang ke rumah orang tuanya hanya dengan baju yang menempel di badan.
Keluarga besarmu, saudara-saudara dari almarhum bapakmu, tidak mau kemelut semakin membesar. Atas kasusmu yang merebak, mereka tergiring malu. Mereka kemudian mempertemukanmu dengan Rokim dalam suatu musyawarah.
Mulanya kalian berdua memutuskan untuk kembali bersatu. Namun hanya berselang dua pekan, berita menyebar bahwa Rokim telah dikembalikan kepada keluarganya oleh keluarga besarmu.
“Bagaimana mau akur kalau tidurnya saja sendiri-sendiri,” begitu komat-kamit warga membicarakan urusan ranjangmu dengan Rokim. Agaknya tamparan tangan Rokim demikian melukai hatimu, sampai kau enggan melayani hasrat Rokim. Dengan sisa-sisa harga dirinya, Rokim pun minggat.
“Menikahi tanpa modal, menceraikan pun tampak modal,” bertubi-tubi warga memberikan komentar nyinyir atas sikap Rokim yang tidak mau turut campur mengurus perceraian, khususnya mengenai biaya.
Kau berada dalam pelik usai hengkangnya Rokim. Bapakmu sudah meninggal, ibumu sakit-sakitan, kau sendiri anak tunggal yang terbiasa manja sedangkan sawah luas terbengkalai oleh hama tikus. Kau yang mendadak menyandang kepala rumah tangga, mau tak mau harus bekerja untuk mencari nafkah.
Semenjak bekerja di konveksi, kita sudah jarang bertatap muka. Arisan RT seminggu sekali saja, kau selalu diwakili ibumu. Kudengar kau sering sekali lembur, bahkan pada hari Minggu. Kudengar juga kalau kau lebih suka menghabiskan waktu bersama rekan kerjamu. Entah jalan-jalan, entah makan-makan.
Belum lama ini, kudengar bahwa kau sudah punya pacar. Dengar-dengar pacarmu itu seorang pegawai pemerintah. Aku tak tahu jelas pacarmu itu pria lajang atau duda sebab kabar burung yang beredar tak begitu jelas.
Kembali ke sore yang teduh itu, tatkala aku sedang sibuk menjahit tumpukan permak, kau yang belakangan susah ditemui tiba-tiba datang berkunjung dengan rona cerah. Aku agak salah tingkah mendapati riasan wajah menor dan baju seksi yang kau kenakan.
“Wit, bisa tidak menjahitkan kebaya untukku?” ujarmu sambil mengeluarkan kain brokat merah dari dalam plastik hitam.
“Untuk kapan?” tanyaku langsung ke pokok persoalan.
Sebenarnya saat itu aku tidak ada tanggungan jahitan dari pelanggan, tetapi jahitan permak cukup menggunung. Apalagi suamiku yang seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) sekitar dua minggu lagi akan dinas ke luar kota. Sebagai istri, tentu aku harus menyiapkan segala keperluannya.
“Masih lama kok. Dua minggu lagi,” sahutmu sambil menatap layar ponsel. Kau tampak asyik memilih model kebaya melalui mesin pencarian.
“Oh, oke. Sudah dapat model bajunya?” timpalku sambil menyambar meteran. Kau menunjukkan gambar baju kepadaku lalu aku memintamu mengirimkannya ke nomor WA-ku.
Aku sedang mengukur lebar dadamu ketika suamiku pulang kerja. Suamiku yang pemalu pun buru-buru berlalu sambil menunduk.
“Bagian dadanya dibuat rendah biar seksi ya, Wit,” pintamu, bisik-bisik.
Refleks aku menyengir. Kemudian aku berseloroh untuk menggodamu, “memangnya mau dipakai buat acara apa sih kebayanya? Sudah warna merah, model kebayanya seksi lagi.”
“Acara spesial pastinya, Wit,” pungkasmu dengan senyum terkulum.
Dari wajahmu, aku dapat membaca bahwa kau tengah jatuh cinta. Aku bersyukur bahwa berita tentangmu yang sudah punya pacar benar adanya. Berarti kau sudah bisa move on dari Rokim.
***
Pada sore hari ini, di bulan November yang senantiasa mendung, aku mendapatkan jawaban menyesakkan dada atas misteri kebaya merahmu yang berpotongan rendah di bagian dada itu. Saat suamiku tengah mandi sepulang kerja seperti biasanya, polisi tiba-tiba menyambangi rumah.
Aku yang hanya ibu rumah tangga biasa beranak dua, penjahit kampung serta masyarakat awam yang jarang mengikuti berita; tentu saja sangat kaget dan takut. Seorang polisi kemudian memberikan sebuah surat yang dinyatakan sebagai surat penangkapan sambil menjelaskan duduk perkaranya. Tidak cukup sampai di situ, seorang polisi yang lain kemudian memutarkan sebuah video di hadapan kedua mataku.
Sambil menggeleng-gelengkan kepala, aku membekap mulutku. Sungguh awalnya mataku ini sulit mempercayai bahwa suamiku yang pemalu bisa berbuat tak senonoh dan bahkan memvideokan perbuatan bejatnya. Akan tetapi mataku benar-benar tak bisa dibohongi meski pemeran pria menggunakan topeng sekalipun. Perut buncit itu seratus persen perut suamiku. Tidak mungkin aku yang sudah menikahinya selama 12 tahun tidak hafal.
“Pemeran wanitanya sudah kami amankan lebih dulu,” ujar polisi yang tadi memberiku surat penangkapan.
Geram aku merebut ponsel dari tangan polisi untuk memastikan lebih saksama siapa pemeran wanita dalam video panas itu. Baru aku sadari kemudian bahwa kebaya merah berpotongan dada rendah itu adalah hasil karya jahitanku sendiri.
“Silakan bawa suami saya, Pak Polisi! Kami ikhlas,” ucapku pasrah sambil memeluk erat dua anak perempuanku yang menangis tersedu-sedu. (*)
===
Endang Sri Sulistiya* menetap di Boyolali. Alumnus Administrasi Negara FISIP UNS. Tergabung dalam grup Diskusi Sahabat Inspirasi. WA: 0858 7951 2346. IG: @endangsrisulistiya. FB: Endang S. Sulistiya.