20 Oktober 2024
Jeritan dari Ruang Bawah Tanah
Oleh Kevin Dias Syahputra*

Pablo, seorang fotografer freelance yang selalu tertarik dengan sejarah, terutama cerita-cerita mistis yang menyelubungi bangunan-bangunan tua. Suatu hari, ia memutuskan untuk mengunjungi Castillo de San Jorge di Sevilla, sebuah kastil yang terkenal sebagai salah satu situs penyiksaan utama selama masa Inkuisisi Spanyol.
Kini tempat itu telah beralih fungsi menjadi museum, namun kisah-kisah menyeramkan tentang aktivitas paranormal yang menghantui ruang bawah tanahnya masih sering terdengar di kalangan penduduk setempat. Kisah-kisah ini semakin menambah daya tarik kastil tersebut bagi orang-orang yang haus akan sensasi horor, termasuk Pablo.
Ketika Pablo tiba di kastil, matahari mulai terbenam di balik dinding-dinding batu yang tinggi dan gelap. Cahaya senja yang temaram menciptakan bayangan-bayangan panjang yang merayap di sepanjang lorong-lorong sempit kastil, memberikan suasana angker yang kental pada bangunan tua itu.
Pablo, dengan kamera di tangan, mulai menjelajahi bagian dalam kastil. Ia mengambil gambar dari setiap sudut yang tampak menarik, terutama artefak-artefak peninggalan masa lalu dan lorong-lorong sempit yang dulu digunakan sebagai ruang penyiksaan. Gema langkah kakinya yang sunyi namun terdengar jelas di dalam kastil membuat suasana semakin mencekam, seolah-olah tempat ini menyimpan rahasia kelam yang belum terungkap.
Setelah beberapa saat berkeliling di lantai atas, Pablo menemukan sebuah pintu kayu tua yang tersembunyi di balik bayangan dinding. Pintu itu mengarah ke ruang bawah tanah yang terkenal dengan cerita-cerita seramnya.
Meskipun sedikit ragu, rasa penasaran Pablo yang kuat membuatnya memberanikan diri untuk membuka pintu itu dan melangkah masuk. Tangga batu yang curam tampak menantang, seolah-olah mengundang Pablo untuk turun lebih dalam ke dalam kegelapan yang pekat. Setiap langkah yang diambilnya terasa berat, seiring dengan perasaan takut yang perlahan-lahan menyusup ke dalam dirinya.
Udara dingin dan lembap segera menyergap tubuhnya, menciptakan suasana yang semakin tidak nyaman. Bau besi tua yang khas bercampur dengan aroma lembap mengisi ruang bawah tanah, menandakan bahwa tempat ini sudah lama tidak tersentuh oleh tangan manusia.
Saat mencapai dasar tangga, Pablo berhenti sejenak untuk mengatur napas. Rasa dingin yang menusuk semakin terasa, meresap hingga ke tulang. Ia menyalakan senter kecil di tangannya, mencoba menembus kegelapan yang menyelimuti ruang bawah tanah.
Cahaya senter yang redup menyorotkan dinding-dinding batu yang kasar dan lembap, menciptakan bayangan-bayangan aneh yang bergerak-gerak seiring dengan gerakan senter. Setiap langkah yang diambilnya menghasilkan gema yang terdengar jauh lebih nyaring daripada di lantai atas.
Seiring waktu berjalan, Pablo mulai merasa bahwa dirinya tidak sendirian. Ada perasaan aneh yang menggelayut di benaknya, seolah-olah ada sepasang mata yang mengawasinya dari kegelapan. Ia mencoba mengabaikan perasaan itu, meyakinkan dirinya bahwa itu hanya imajinasinya semata.
Namun, semakin jauh ia melangkah, perasaan itu semakin kuat, hingga akhirnya ia mendengar suara pelan, hampir seperti bisikan, yang memecah kesunyian.
“Tolong…”
Suara itu sangat samar, namun jelas terdengar di antara detak jantungnya yang semakin cepat.
Pablo berhenti sejenak, menahan napas sambil menyorotkan senter ke sekelilingnya. Namun, tidak ada apapun yang terlihat, hanya kegelapan pekat yang menyelimuti ruangan.
Rasa dingin yang menusuk semakin kuat, hingga tiba-tiba senter di tangan Pablo mulai berkedip-kedip, seakan-akan terpengaruh oleh energi aneh yang mengelilingi tempat itu. Dalam sekejap, senter itu padam sepenuhnya, meninggalkan Pablo dalam kegelapan total. Kini, dia benar-benar terjebak, hanya ditemani oleh kegelapan yang pekat dan rasa takut yang semakin dalam.
Dalam kepanikan, Pablo meraba-raba sakunya, mencari ponselnya untuk digunakan sebagai sumber cahaya. Namun, saat ia menyalakan layar ponselnya, pemandangan yang mengerikan terpampang di depan matanya.
Di ujung ruangan yang gelap, sesosok bayangan kabur, seolah-olah terbuat dari kabut, mulai bergerak perlahan menuju ke arahnya.
Pablo bisa melihat mata merah yang bersinar tajam dari sosok itu, seolah-olah menembus kegelapan dan menatap langsung ke dalam jiwanya.
“Tolong…”
Suara itu kembali terdengar, kali ini lebih keras dan penuh dengan kesedihan yang mendalam. Bayangan itu semakin mendekat, dan Pablo bisa merasakan aura dingin yang semakin kuat, membuat seluruh tubuhnya gemetar ketakutan.
Pablo mundur perlahan, mencoba menjauh dari bayangan itu, namun kakinya terasa lemas dan tidak bisa digerakkan. Ketakutannya semakin memuncak saat bayangan itu berhenti sejenak, lalu dari kegelapan muncul suara jeritan yang sangat nyaring dan penuh dengan penderitaan.
Jeritan itu begitu keras dan menusuk hingga membuat Pablo terjatuh ke lantai. Kamera dan ponselnya terlepas dari genggaman, jatuh berdebam ke lantai batu yang keras. Dia mencoba untuk bangkit, tetapi tubuhnya terasa kaku, seolah-olah terkunci oleh rasa takut yang luar biasa.
Jeritan itu terus berlanjut, menggema di dinding-dinding batu, seolah-olah ribuan orang menjerit bersama-sama, memenuhi ruangan dengan penderitaan yang tak terlukiskan.
Dalam keputusasaan, Pablo menutup telinganya dengan kedua tangannya, berusaha melindungi dirinya dari suara jeritan yang menghancurkan kewarasannya. Namun, suara itu terlalu kuat, menembus setiap lapisan pertahanannya, menyerang langsung ke inti kesadarannya.
Di tengah jeritan itu, tiba-tiba terdengar suara rantai yang diseret di lantai, mendekat semakin dekat. Pablo, dengan mata yang mulai terbiasa dengan kegelapan, melihat bayangan-bayangan lain muncul di sekelilingnya. Sosok-sosok itu, dengan ekspresi wajah yang dipenuhi oleh kesakitan dan ketakutan, muncul dari kegelapan, seperti hantu-hantu dari masa lalu yang tidak bisa tenang.
Dalam kepanikan yang semakin memuncak, Pablo meraba-raba lantai untuk menemukan ponselnya. Saat dia berhasil menemukannya dan menyalakan lampu senternya, bayangan-bayangan itu menghilang seketika, seolah-olah disapu oleh cahaya. Ruangan itu kembali sunyi, hanya terdengar suara napas Pablo yang terengah-engah dan detak jantungnya yang berpacu kencang.
Tanpa berpikir panjang, Pablo segera berdiri dan berlari menuju tangga batu, berusaha secepat mungkin untuk keluar dari tempat itu. Ketakutannya memacu adrenalin, membuatnya berlari sekuat tenaga, tidak peduli pada apapun selain keinginannya untuk melarikan diri dari kengerian yang baru saja dialaminya.
Ketika akhirnya dia mencapai tangga dan naik ke permukaan, udara malam yang dingin terasa seperti anugerah yang menyegarkan di wajahnya yang basah oleh keringat. Pablo berlari keluar dari kastil, meninggalkan ruang bawah tanah itu di belakangnya.
Namun, meskipun ia telah berada jauh dari kastil, jeritan-jeritan itu masih terdengar di telinganya, seolah-olah suara-suara itu telah menempel dalam ingatannya, menghantuinya tanpa henti.
Sesampainya di rumah, Pablo masih terguncang oleh pengalaman mengerikan yang baru saja ia alami. Dengan tangan yang gemetar, ia membuka kameranya untuk memeriksa foto-foto yang berhasil diambilnya di dalam kastil. Di antara beberapa foto terakhir, ia menemukan sesuatu yang membuat darahnya membeku. Di salah satu foto, terlihat bayangan-bayangan samar yang membentuk sosok-sosok yang mengerikan, dengan wajah-wajah yang dipenuhi oleh rasa sakit dan penderitaan. Di tengah-tengah mereka, ada bayangan besar dengan mata merah yang menatap langsung ke arah kamera, seolah-olah mengetahui bahwa Pablo telah menangkap keberadaan mereka dalam gambar.
===
*Kevin Dias Syahputra, kelahiran Kota Mojokerto. Penulis Fiksi-Non Fiksi . Beberapa cerpennya dimuat di sejumlah media massa, yaitu Suara Merdeka, Radar Mojokerto, Radar Lawu, Radar Banyuwangi, Radar Bromo dan Radar Bojonegoro. Kevin kini aktif menjadi penulis di Netralnews.com dan Kompasiana.