20 Oktober 2024
Puisi-Puisi Sujud Arismana
Oleh Sujud Arismana*

Luka-Luka Buruh
di langit-langit pabrik
kita merayakan peluh
meroyak tubuh ringkih
para hamba buruh
sayap patah berlumur darah
langit tak berawan lagi
lantas datang kepadaku
genggam susut bulan
sisa kantuk menggantung
di bibir pagi
gegap getir menyandera
ketidakadilan
kadang kau pesan kesedihan
menyiratkan hilir airmata
sebab, hidup adalah rasa sakit
menganga luka-luka
menjangkiti sekeping batin
yang terampok
: raga dan rimbanya
(Munir dan Marsinah)
Blora, Oktober 2024
Halimun di Pucuk Gunung
belum ada tanda-tanda rinai
justru jerabu berburu
ke segala penjuru
rebah di punggung waktu
keringatmu beraroma lumut
langit tak berangin lagi
maka telah kusambut
bahasa ikan
serumit masa lalu
sehelai rambutmu serupa
jalan setapak
menuju desa
terusir dari kota
yang pernah melahirkan cacian
juga seklumit pujian
halimun di pucuk gunung
membentang batu-batu,
padang hutan
dan datuk-datuk
menggelar tikar
terlelap dupa mantra
lubuk larangan mekar
setengah sadar
kau terpenjara
dalam ketenangan jiwa
Blora, Oktober 2024
Waduk Selo Parang
hujan malas turun
hari-hari kering
kemarau panjang
sumber air tekuras
kutemukan senyummu
melengkung
di waduk selo parang
leluasa berpelukan
mengibarkan kepak cinta
yang dulu
pernah meregang
Blora, Oktober 2024
===
*Sujud Arismana nama pena dari Pujiono Slamet. Kelahiran Blora Jawa Tengah Indonesia, 8 Agustus 1981. Tinggal di Pekanbaru. Menulis puisi, cerpen, dan novel. Buku Antologi Puisi Tunggalnya Gadis Pesisir Melayu (2013), Putri Malam (2016), Ranting Kering (2019), Yang Berkelasah di Bumi Blora (2024).