LiteraSIP

27 Oktober 2024

Perempuan Paling Cantik Terakhir di Bumi

Oleh Syafiq Addarisiy*

 

 

Tidak seperti perkiraan para ilmuwan abad 21, Bumi di abad 22 justru sangat subur dan makmur. Udara bersih. Air jernih. Melimpah. Sepanjang mata memandang, tanaman-tanaman menghiijau. Memanjakan mata. Gedung-gedung tinggi berlomba-lomba mencakari langit. Tak ada kabel listrik. Tak ada lagi polusi. Tak ada lagi kemacetan. Jalanan mengambang. Mobil-mobil beterbangan beraturan.

Meski begitu, Bumi musti segera ditinggalkan.

Ironi. Bumi tampak semakin permai. Tak ada yang bisa menampik hal itu. Tapi, untuk bisa berendah hati menerima bahwa Bumi tak lagi layak huni, umat manusia musti dihadapkan dulu pada usaha mati-matian melawan penyakit yang muncul sekitar awal tahun lalu, di sebuah kota di negara L-68, yang sampai saat ini telah merenggut tiga perempat jumlah penghuninya.

Gejala penyakit itu sederhana, seperti flu biasa, namun, tidak sampai enam jam lebih empat tiga menit setelahnya, mereka yang terjangkit akan mengigaukan dosa-dosa rahasia mereka. Baru setelah itu, mereka bisa meninggal dengan senyum aneh di wajah.

Enam bulan kemarin, pemerintah negara N-R1 mengklaim telah berhasil menemukan penawarnya. Obat itu memang dikatakan telah menyembuhkan sekitar 2.140.969 nyawa di dua bulan pertama setelah disebarkan. Jumlah itu meningkat drastis menjadi 5.710.754 di satu bulan berikutnya. Umat manusia kembali punya harapan.

Tetapi, penyakit itu—sejak kemunculannya dinamai Fix-54—seperti makhluk hidup, bisa belajar dan beradaptasi. Tepat dua bulan setelah obat itu disebarkan, Fix-54 menjadi kebal. Penawar Fix-54 tak lagi efektif bekerja. Banyak yang tiba-tiba meninggal tanpa didahului gejala macam flu biasa seperti sebelumnya. Tak ada demam, tak pilek, tak ada tanda-tanda. Mereka hanya tiba-tiba mengigaukan dosa-dosa yang dirahasiakannya, juga niat-niat jahat yang akan dilakukan di masa depan, sebelum kemudian kehilangan nyawa.

Dunia kembali gempar, dan meski media massa gencar memberitakan tentang semakin eratnya kerja sama internasional, tapi semua negara diam-diam saling menyimpan curiga. Negara T-7K menuding Negara O-0I telah mengingkari kontrak perjanjian, sementara YL-42 berang setelah dituding G-Z9 sebagai dalang merosotnya suplai bahan pangan yang dipesan.

Pengetahuan tentang penyakit-penyakit yang pernah melanda dunia di masa lalu tak berguna. Fix-54 berbeda jauh dengan penyakit-penyakit tingkat dunia yang pernah ada. Tak seperti Covid-19 di tahun 2020, penyakit ini tak bisa membuat manusia tetap tertawa—meskipun miris. Berbeda pula dari Fokai-38 di tahun 2098, penyakit ini tak mengizinkan manusia tetap bisa berharap pada kehidupan di hari-hari mendatang. Fix-54 sungguh lain.

Kematian tampak makin akrab, terasa begitu nyata di depan mata. Sains bagai kehilangan taringnya. Sastra, filsafat, dan agama lebih parah lagi, sama sekali tak berdaya guna apa-apa. Dan pada akhirnya, setelah kegaduhan itulah, kesepakatan mencapai titik final bahwa kinilah saatnya memulai hidup di planet baru.

Dari layar televisi hologram, presiden negara WA-47, negara paling adidaya, menyampaikan pidato keberangkatan umat manusia ke Planet C-22, sebuah planet mirip Bumi yang terdapat di ujung jauh dari Galaksi Bimasakti. Dalam pidatonya, sang presiden mengajak semua pendengarnya untuk ikut pergi ke sana dengan mengatakan bahwa kehidupan baru di planet itu akan jauh lebih baik.

“Kita benar-benar tidak pergi, Pa?”

“Kita di sini, Nak,” jawab lelaki yang dipanggil Pa itu.

“Kenapa?”

“Karena kita tidak terdaftar, Nak. Kita juga tidak bisa membayar.”

“Aku mengerti kita tak punya cukup uang. Tapi apa maksud kita tidak terdaftar?”

“Kita kurus. Kita tidak kuat. Kita juga tidak pintar. Kita tidak bisa dipekerjakan di bidang apa pun. Mereka tidak butuh kita.”

“Tapi penyakit ini tidak ada obatnya, Pa. Kita bisa mati di sini.”

Lelaki yang dipanggil Pa itu mengelus rambut anaknya, tersenyum, lalu memandangi wajah sang presiden di layar televisi hologram di rumahnya. Jauh di belakang sang presiden, berjajar pesawat-pesawat antariksa yang sedang bersiap meninggalkan Bumi beserta manusia-manusia tak berguna macam dirinya.

“Apakah benar mereka akan membiarkan kita mati di sini, Pa?”

“Pada akhirnya, Nak, semua akan mati, entah di Bumi ini, atau di planet baru itu nanti.”

Istri lelaki yang dipanggil Pa berjalan dari arah dapur menuju ke tempat suami dan anaknya duduk. “Makanlah, Nak,” katanya.

“Apa ini makanan terakhir kita, Ma?”

“Tentu saja tidak. Kenapa?”

“Apa kita tidak akan mati?”

“Semua akan mati, Nak,” jawab perempuan yang dipanggil Ma, sembari melirik sekilas ke arah suaminya. “Makanlah.”

Ketiganya makan bersama, dalam diam, dalam hening yang terasa panjang.

“Pa,” si anak kembali bersuara, “kenapa yang masuk ke pesawat itu hanya perempuan saja?”

Lelaki yang dipanggil Pa mengalihkan pandang ke layar televisi hologram yang sedang menyorot gambar L0-DoV, salah satu pesawat terbaik dengan pelayanan terbaik.

“Pesawat itu khusus diperuntukkan bagi perempuan-perempuan paling cantik di dunia ini, Nak.”

“Kenapa mama tidak ikut pesawat itu, Pa? Apa mama tidak cantik?”

“Tentu saja mama cantik. Tapi mama akan tinggal di sini, menemani kita.”

Selesai mengatakan itu, lelaki itu melirik istrinya. Tatapan mereka bertemu, dan mata lelaki itu terasa panas mendapati tatapan istrinya yang layu. Bibirnya melengkung tipis, membentuk senyum getir yang samar. Saling tatap itu hanya terjadi sebentar. Sang istri cepat mengalihkan pandang, sebelum kemudian bergegas kembali ke dapur.

Si anak terus mengunyah makanan, tampak berusaha memahami isi kepalanya.

“Apa perempuan itu juga ingin menemani anaknya seperti mama?” tanya si anak, sembari menunjuk seorang perempuan berpakaian serba hitam yang tersorot kamera sedang berjalan menjauhi L0-DoV.

Lelaki itu tahu siapa perempuan itu. Seluruh dunia mengenalnya. Ialah salah satu dari lima perempuan paling cantik dari yang tercantik di muka Bumi. Ialah pula satu-satunya dari golongan mereka yang menolak ikut pergi ke planet C-22 lantaran tak setuju dengan keputusan bahwa hanya mereka yang kaya, pintar, kuat, cantik, tampan, dan bisa bekerja saja yang berkesempatan pergi dari Bumi. Ia tak percaya pada bualan negara tentang planet baru yang tak sebesar daratan di Bumi.

“Begitulah ia, Nak,” jawab sang ayah, setelah diam agak lama. “Sama seperti mamamu.”

“Perempuan itu cantik sekali, Pa.”

“Ya,” jawab sang papa, sembari memandangi layar televisi hologram. “Dan ia akan jadi perempuan paling cantik terakhir di Bumi ini.”

Mata sang anak membulat mendengarnya. “Benarkah seperti itu, Pa? Siapa namanya?”

“Sheeva.”

 

2020

 

 

===

*Syafiq Addarisiy, Bidang Kurikulum Program Kitab Kuning Komplek Madrasah di PP. Assalafiyyah, Mlangi, dan alumnus Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta. Senang mendengarkan musik, menonton film, menulis, dan membaca. Aktif di Komunitas Susastra dan Sindikat Muda, Liar, Ngantukan. Beberapa tulisannya tersiar di Koran Tempo, Kompas.id, Suara Merdeka, Bacapetra.co, Basabasi.co, Minggu Pagi, Koran Radar Selatan, Majalah Pewara Dinamika, Buletin Mimesis, dan lain-lain. Telah dinyatakan diterima di Master of Translation Studies di The University of Western Australia dan sedang mendaftar Beasiswa LPDP gelombang 2 2024.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *