LiteraSIP

27 Oktober 2024

Puisi-Puisi Zikri Amanda Hidayat

Oleh Zikri Amanda Hidayat*

 

 

Batu dan Kunang-kunang

Aku adalah batu
Di tepi perigi
Membilang bintang-bintang mimpi
Lalu bulan sabit jatuh dari daun langit sepi

Aku adalah batu
Riak hati menyingkap kenang
Matamu adalah kunang-kunang;
Cahaya rindu yang menuntunku pulang

Padang, 2024

 

Meja Percakapan

Di atas meja percakapan yang kerap
meninggalkan lubang kosong di hati kita.
Aku potong setengah kue puisi untuk
merayakan temu, sementara kau sajikan
aku secawan anggur yang kau petik dari senyummu.

Jantungku mulai terbelah dan
menganga di ujung waktu, kau pun
menyelinap membawa kupu-kupu,
lantas menyergap laku dan cinta telah
bersemayam menjadi setangkup rindu.

Padang, 2024

 

Udara

Wahai permata dunia
Kunjungilah halamanmu

Aku adalah udara
Memungut bintang-bintang yang
kaujatuhkan di gulita malam

Biarkan aku sebentar saja membelai
wajah itu dengan tangan sepoi-sepoi

Kau sudah terlalu lembap untuk sebuah rindu
Demikian pada jendela yang kerap mencegatku
Izinkan aku semata udara memenuhi kamarmu

Katakan kepada hujan, aku ingin menginap
di lemari paru-parumu agar aku dapat menjaga tidurmu
hingga malam jatuh dari daun waktu menuju subuh

Padang, 2024

 

Demam

Di sela tugas-tugas yang menumpuk,
demam seketika bagai rayap yang memamah,
sedikit demi sedikit merampas ketangguhan
hingga ringkih sebatang tubuh.

Ia tumbang hanya meringkuk di mahligai sepi,
menahan ngilu yang menyeruak ke beringsang gelisah.

Di antara langkah terbata-bata, degup jantung doa
berjalan menuju detak waktu yang memajang hari-hari sembuh.

Padang, 2024

 

===

*Zikri Amanda Hidayat dapat dipanggil secara akrab Izik. Lahir di Pesisir Selatan pada tanggal 02 Agustus 1999. Punya hobi menulis, membaca dan bulu tangkis. Buku yang telah terbit Sehimpun Rasa (2021), Rentetan Tulisan Tentang Konsekuensi Cinta (2021) dan Tak Benar-benar Utuh (2022).

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *