LiteraSIP

24 November 2024

Nonton Liga Sepak Bola

Oleh Gandi Sugandi*

 

 

Di teras panggung Pos Kamling Gang Suka Maju Kampung Suka Makmur, pemuda tanggung Yono dan Sofian tengah bersila, kebagian ronda menggantikan masing-masing bapak-bapak yang bekerja di lain kota. Pandangan mata nyaris melotot dari kedua pemuda ini terus tertuju ke tv tabung yang hendak menayangkan secara live pertandingan liga sepak bola pada pukul 21.00 WIB. Keduanya kemudian bertaruh, terjadi kesepakatan, Yono menjagokan FC Kota A dan Sofian mengunggulkan FC Kota B.

Dudi penduduk Gang Suka Makmur sedang berada di rumah, sebenarnya kebagian giliran jadwal ronda, tetapi tidak ikut meronda dengan alasan kecapaian karena setiap hari bekerja dari pagi sampai menjelang Maghrib di satu home industry. Namun walaupun begitu, tidak ikut meronda tetapi tetap tidak gratis, harus membayar Rp.15.000 per bulan kepada Pak RT.

Jarak dari rumah Dudi ke Pos Kamling sekitar lima puluh meteran. Seperti Yono dan Sofian, Dudi juga menunggu siaran pertandingan sepak bola dimulai, duduk sendiri di kursi ruang tengah di depan tv. Di atas meja di depannya, secangkir kopi hitam panas mengepul, rokok keretek utuh sebungkus, juga cemilan sepiring pisang goreng hangat, siap menemani menonton.  Itu semua telah disediakan Yanti, istri Dudi, yang sedang bersama anaknya yang masih balita, di kamar menonton sinetron dengan pintu yang tertutup rapat.

Pandangan mata Dudi terus berganti-ganti, sesekali pada layar tv, tetapi lebih seringnya membaca di layar hp mengenai berita online sepak bola sebagai referensi.

Bergantinya suara dari pembawa acara pada satu tayangan iklan di tv, membuat Dudi refleks memalingkan muka ke layar tv karena disangka pertandingan akan dimulai. Dudi sudah tidak sabar ingin cepat-cepat menikmati pertandingan—dengan penuh harap bahwa hasil akhir adalah kemenangan untuk tim kesayangannya: FC Kota A.

Di tv, wasit di stadion meniup peluit’ “Priiiit!”, pertandingan akan dimulai. Bola pertama bergulir ke kaki musuh. Hati Dudi berdebar, napas memburu.

Bola mata Dudi menjadi lincah, mengikuti arah bola yang menggelinding cepat di lapangan rumput, atau melayang melambung karena tendangan kaki atau sundulan kepala dari pemain-pemain bola.

Pada satu titik waktu, bola semakin mendekati gawang musuh, dada Dudi menjadi bergemuruh, pikiran tegang dibarengi tangan kanan yang mengepal berharap gol. Hampir saja—andai tendangan pemain sayap kiri tidak melewati ujung kiri mistar—itu adalah gol pertama pada menit-menit pertama. Dudi mengeluh. “Huh!”

Pada belasan menit-menit selanjutnya, semangat para pemain semakin mengembung, ke mana pun bola bergelinding, dikejar para pemain dengan berlari penuh pertimbangan.

Kedua tim bertanding hampir imbang.

Pada satu menit, Dudi mencomot rokok sebatang, pandangan mata tetap tidak pernah lepas dari layar tv—lalu menyalakan rokoknya. Baru saja asap dikeluarkan dari mulut, dilihatnya pemain lawan men-tackle kaki kanan pemain idolanya di kotak penalti. Di tv, di stadion, Dudi melihat para penonton pendukung timnya riuh, berteriak-teriak, “Penalti…! Penalti…! Penalti…!” Dudi pun mengaamiinkan, tentu setuju karena pelanggaran sangat berat telah dilakukan oleh salah seorang dari tim lawan.

Pemain No 7 menjadi eksekutor. Suasana di stadion hening, menjadi senyap mendadak. Sekitar tiga puluh ribu pasang mata bergantian membidik: pada bola di titik penalti, pada eksekutor dan kiper. Dudi pun berdiri dari duduk, mendekati layar tv, ingin lebih jelas juga puas menonton.

“Priiit!” Wasit meniup peluit, tendangan penalti dimulai. Eksekutor berlari dua langkah, lalu menendang sangat keras ke arah kanan gawang, ke sudut bawah tiang. Kiper tidak bisa mengantisipasi, kesepuluh jari-jari tangannya tidak dapat menyentuh laju bola. Jaring bergoyang kencang. Lawan kemasukkan satu bola.

Teriakan “Goool..!” terdengar berbarengan dari mulut Dudi dan pendukung timnya di tv di stadion. Dudi gembira; sementara itu di Pos Kamling, Yono girang, Sofian kecewa terbungkam.

Lalu tidak lama, wasit kembali meniup peluit, pertanda seluruh pemain akan turun minum, usailah babak pertama, skor 1-1.

Di Pos Kamling, Yono dan Sofian kebingungan, ingin mereguk kopi. Keduanya teringat Dudi.

Dudi senang akan kedatangan kedua pemuda ini. Dudi memberi dua gelas. Setelah Yono dan Sofian berucap terima kasih, kembali ke Pos Kamling.

Pertandingan babak II pun dimulai. Posisi yang draw 1-1, membuat kedua tim bertekad sama-sama ingin menguasai bola, bermain mengerahkan segala kemampuan.

Wajah-wajah pemain berkeringat, bahkan baju-baju pemain pun basah-basah. Di tv, para penonton dari kedua kubu tampak berwajah tegang tetapi tak henti meneriakkan yel-yel.

Pada satu kesempatan, wasit meniup peluit, ada dua orang pemain yang diganti, dari kedua tim sekaligus. Dudi bicara sendiri mendukung pelatih dari tim yang didukungnya. “Nah.. bagus itu! Biar penyerangan lebih terarah!”

Permainan terus berlangsung.

Menjelang sepuluh menit berakhir, cenderung keras. Tentulah, pemain kandang ingin menang, pemain tandang pun ingin senang bila dapat memperoleh skor penuh.

Bola terus bergulir. Seorang pemain FC Kota A mengecoh dua pemain FC Kota B. Bola itu terus digiring sendirian sampai ke kotak penalti. Dua pemain lawan kembali dapat dikecoh. Kiper lawan berlari mendekati bola. Tetapi dengan penuh perhitungan, pemain nomor 10 dari FC Kota A itu gegas menendang bola dengan keras, tertuju ke sudut kiri bawah tiang—berbuah gol.

Gol! “Priiit!” Wasit meniup peluit. Dudi, Yono di Pos Kamling dan penonton pendukung di stadion, kembali bersorak berteriak merayakan gol masuk di saat menit-menit terakhir pertandingan.

“Priiit!” Wasit meniup peluit lagi, pertanda sisa lima menit pertandingan akan kembali dilanjutkan. Kini, FC Kota A lebih banyak bertahan, ingin tetap dengan skor 2-1-nya. FC Kota B yang terlihat bernapsu ingin menyamakan kedudukan, berkali-kali mengoper tak akurat sehingga pemain dari FC Kota A dapat kembali menguasai bola.

Sampai peluit berbunyi sebagai tanda pertandingan usai, kedudukan tak berubah 2-1 untuk kemenangan FC Kota A.

Setelah Dudi melepaskan euforia kemenangan, lalu mengunci pintu, pergi ke Pos Kamling untuk memastikan: apakah Yono dan Sofian masih ada, sebagai bentuk tanggung jawab meronda?

Baru saja beberapa kali melangkah di gang, Dudi terkaget karena tampak nyala api dari Pos Kamling. Dudi segera berlari seraya berteriak, “Kebakaran! Kebakaran!” Tak lama, orang-orang yang berada di dalam rumah-rumah sekitar berhamburan keluar.

Saat Dudi tiba, Yono dan Sofian sedang bergumul di sebidang tanah kosong pinggir Pos Kamling. Dudi langsung melerai. Yono menjelaskan persoalannya. Sofian membela diri, “Aku memang kalah bertaruh, tetapi sedang tidak punya uang. Tetapi dia tak henti meledekku, membuatku marah hingga membakar pos ronda.”

Semua yang ada kemudian bahu-membahu memadamkan api.

*** Bandung, September 2024

 

===

*Gandi Sugandi. Penulis alumnus Sastra Indonesia Unpad tahun 2000. Saat ini bekerja di Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Selatan. Buku Kumpulan cerpen yang sudah terbit: Keluarga Seni

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *