8 Desember 2024
Lari ke Mars
Oleh Muhammad Ridwan Tri Wibowo*

Senja perlahan memudar. Warna merah di langit Mars berganti legam, diselimuti bayang-bayang malam yang kian pekat. Namun, di balik kegelapan itu, bintang-bintang kerlap-kerlip bermunculan. Sangat cemerlang.
Leon mendongak, matanya terkesima menatap itu semua. Rasa puas pun mengalir di dadanya. Sebuah kemenangan besar berhasil diraih. Di sini, Leon telah membangun surganya sendiri.
Di sampingnya, elit-elit binatang dunia berdiri angkuh. Dari elit politik: pejabat-pejabat tikus pemerintahan hingga pemimpin partai anjing. Elit ekonomi: babi-babi konglomerat.
Elit militer: jenderal-jenderal serigala. Elit akademik: profesor-profesor kadal. Elit budaya: tokoh publik buaya darat dan influencer top kucing hutan. Terakhir ada, elit agama: pemuka agama-agama berbadan ular.
Seperti Leon, mereka hanya terdiam saja. Mungkin, mereka masih terpana oleh keindahan hamparan langit malam di Mars.
***
Setelah sekian lama dan menghabiskan triliunan juta dolar, binatang-binatang elit dunia, akhirnya berhasil menciptakan koloni pertama di planet merah.
Mars, kini menjadi rumah baru bagi binatang-binatang elit dunia.
“Selamat datang di planet merah, sekawan perbintangan!” seru Leon, si anjing serigala penuh ambisi kejahatan, berkata sambil menjulurkan lidahnya yang becek dengan air liur. Matanya berkilat-kilat tajam.
Di sekelilingnya, para elit, tikus-tikus pemerintahan, babi-babi konglomerat, dan jenderal-jenderal serigala, mengangguk-anguk tersenyum sambil mengangkat sloki berisi minuman keras.
“Di sini, tidak ada polusi, tidak ada kemacetan, yang pastinya tidak ada manusia miskin. Haha. Hanya kita kaum binatang terpilih!” ejek salah satu profesor kadal dari universitas top 3 dunia.
“Tapi ini mengkhawatirkan,” kata seekor ular pemuka agama dengan nada gusar. “Tanpa manusia miskin, dari mana kami akan mendapatkan pemasukan?” Diikuti anggukan setuju tokoh publik buaya darat dan influencer kucing hutan.
“Iya, tanpa mereka, siapa yang akan menonton dan membeli produk endorse kami?” tanya influencer kucing hutan lirih.
Tikus-tikus pemerintah mulai melirik satu sama lain. Kemudian, dengan senyum penuh muslihat salah satunya berkata, “Tenang saja. Jangan khawatir masalah soal itu. Selama di bumi masih ada manusia, kita bisa memanfaatkan mereka. Para tokoh publik, pemuka agama dan influencer tak perlu khawatir, kalian bisa live dari sini.”
“Kita punya banyak kaki-tangan di sana. Bumi memang sedang kacau, tapi selama di sana masih bisa dihidupi, jalan selalu ada,” cetus babi-babi konglomerat, “Tak usah khawatir. Yang terpenting di sini, kita bisa hidup damai. Tak memikirkan polusi udara, kemacetan, dan tetek-bengek lainnya,” lanjutnya.
“Itu benar kawan-kawan,” kata seekor serigala berpangkat jenderal. “Selama bisnis kita di Bumi masih mengalir lancar. Semua aman! Makanan enak, minuman keras dan perempuan cantik itu bisa dikirim ke sini, kawan … Asal duit lancar!” lanjutnya dengan senyum cabulnya.
***
Pagi yang begitu sejuk membalut balkon rumah Leon, si ‘anjing serigala’, bermata tajam. Ia memandang lepas hamparan hutan adat di hadapannya.
Betapa bahagianya, ia hidup sebagai binatang. Andai ia terlahir menjadi manusia, mungkin ia sedang mengalami namanya sesak nafas, batuk berdarah, dan bla bla … atau pun segala penyakit lainnya yang menggerogoti manusia.
Setelah puluhan ribu kali udara segar nan sejuk masuk ke lubang hidungnya, ia mencoba merenungkan kembali masa lalunya. Ia ingat betul bagaimana semuanya dimulai. Waktu itu, ia pernah tinggal di kota satelit, bersama selingkuhannya yang bekerja di sebuah pabrik komputer.
Di sana, ia menyaksikan manusia miskin atau kaya, sama-sama hidup dalam kesengsaraan. Kota yang semakin padat penduduk, kemacetan mulai merajalela, bau asap kendaraan hingga ke gang-gang, bukan di jalan besar saja.
Asap pabrik menyergap, menyelinap masuk ke ventilasi rumah warga, hingga komplek-komplek kelas menengah atas tak luput dari sergapan ini. Akhirnya mereka pun hidup dalam keresahan tanpa henti.
Kemudian, Leon, dengan kecerdikan dan kelicikannya, menyingkap ide jahat untuk menjual udara bersih dari hutan adat. Ia pergi ke sebuah hutan adat Utata yang belum tersentuh tambang dan eksploitasi elit binatang di negara Umama, benua Ulala.
Dari sanalah, ia memulai bisnisnya dan bekerja sama dengan tikus-tikus pemerintahan, profesor-profesor kadal, babi-babi konglomerat, serta jenderal-jenderal serigala. Alhasilnya, dicapai kesepakatan menyedot udara segar di hutan Utata untuk dijual mahal ke manusia.
“Udara murni, udara murni. Segar nan asri, tanpa polusi. Ayo beli. Selamatkan diri Anda dan keluarga!” Begitulah kampanye besar-besaran yang mereka luncurkan.
Di berbagai kota-kota besar dan kota satelitnya, masker tabung berisi udara segar menjadi jurang kesenjangan baru. Di jalan raya, di mal-mal, di sekolah, di tempat ibadah, dan di … di mana-mana. Hanya orang-orang kayalah yang mampu memakai masker tabung bergaya futuristik itu.
Wajah-wajah mereka cerah, dengan masker tabung mereka bisa menghirup udara bersih. Di sekeliling mereka, hidup terus berjalan, seperti kata musisi perempuan sedang tren di jagat media maya.
Orang-orang miskin hanya bisa meratap. Menatap iri, benci, dengki. “Jancuk!” kata spontan yang keluar dari mulut mereka. Setiap harinya, mereka menghirup udara beracun, napas mereka tersedat-sedat setiap kali beraktivitas.
Di setiap harinya, mereka menangis hingga terbatuk-batuk. Huk .. Huk … Huk … Itu bukan sekedar batuk tersedak ingus, tapi batuk akibat TBC yang menggerogoti tubuh mereka. Huk … Huk … Huk.
“Jancuk!”
***
Leon masih berdiri di balkon rumahnya. Matanya kembali menatap hamparan hutan adat yang terbentang di hadapannya. Ia menarik nafasnya dalam-dalam. Seolah-olah mencoba menyaring setiap molekul udara segar yang masih tersisa.
Ia tahu kenikmatan ini takkan bertahan lama.
Leon menarik napas sekali lagi. Udara segar masih terasa di paru-parunya. Dengan desahan panjang, ia berbalik masuk ke dalam rumah. Di balik pintu, ia mengambil keputusan bahwa ia harus meninggalkan planet ini.
***
Leon berdiri di landasan luncur, menatap pesawat raksasa yang siap membawanya ke Mars. Di sekelilingnya, para elit binatang dunia terlihat tenang dan penuh percaya diri.
Babi-babi konglomerat, profesor-profesor kadal, dan tikus-tikus pemerintahan terlibat dalam obrolan santai. Mereka sepenuhnya sadar akan meninggalkan planet yang telah mereka hancurkan untuk selamanya.
Saat pesawat mulai meraung, Leon teringat pada mereka yang tak punya pilihan lain selain tinggal di planet ini. Orang-orang biasa, para buruh-buruh yang selama ini menopang kehidupan mewahnya. Mereka akan mati perlahan, tercekik oleh udara beracun yang tersisa.
“Saya harus pergi dari sini,” Leon berbisik menyemangati dirinya sendiri. Ia mencoba mengusir rasa bersalah yang mulai merayap di pikirannya. Di dalam pesawat, para binatang-binatang di sekelilingnya bertepuk tangan meriah saat pesawat lepas landas. (*)
===
*Muhammad Ridwan Tri Wibowo, mahasiswa PBSI UNJ 2022. Aktif di komunitas Bengkel Sastra UNJ dan Obrak-Abrik Kolektif. Tulisannya terbit di berbagai media massa seperti di Omong-omong, Bandung Bergerak, dan lain-lain.