22 Desember 2024
Puisi-Puisi M. Allan Hanafi
Oleh M. Allan Hanafi*

Khuldi
setelah mati
aku bertemu dengan pohon
pohon yang dulu diambil buahnya itu
oleh seorang wanita
wanita yang tak lain ialah ibu kita
kau memberikanku parang berkarat
kau ingin aku menebangnya
sebelum kubertanya untuk apa
kau telah lebih dulu terbang
dengan sayapmu yang serupa kumbang
maka pohon itu tumbanglah sudah
lalu aku membayangkan sebuah tembang
tembang mistik
yang terucap oleh bibir ibu
bibir ibu kita
kita mendengarkan dengan saksama
saksama seperti sebuah magma
yang melahirkan buah
buah yang akan jatuh ke dunia
diterima sebagai gempa
gempa yang meruntuhkan tubuh agama
(21-23)
Petir Terlihat di Langit
: K.S.
ia tahu bahwa setiap petir terlihat di langit
arwah anaknya tersenyum kepadanya
mengingatkannya juga pada azan magrib
di mana anaknya sedang bermain bola sendiri
dan enggan masuk ke rumah
petir terlihat lagi di langit
memunculkan
aroma gembur tanah kubur selepas hujan
kering bunga kamboja
balon gas anaknya yang meledak
di sebuah taman
dengan ikan koi yang mati
setiap kali ia tersenyum
petir terlihat lagi di langit
ia merenung
arwah anaknya sedang tersiksa atau dalam sentosa
membuatnya murung dan seakan berjalan
sebagai badai salju malam hari
atau berlari dengan ketakutan menabrak cermin
berisi dirinya dan anaknya
sedang bermain ombak
melihat matahari kapal dan camar
tenggelam ke dalam waktu
apakah petir terlihat lagi di langit?
ia tak tahu
sama seperti
apakah dirinya atau anaknya yang mati
dan yang ia tahu
napasnya tidak lagi hangat
detak jantungnya tidak lagi terdengar
pun apa-apa yang ia raba terasa seakan angin
(23-24)
Di Balik Dadamu
subuh nanti, semut-semut akan
mengerubungi
bangkai kupu-kupu
yang ada di balik dadamu.
setangkai bunga
menyembunyikan duri
bersinar di sisinya—
menunggu untuk melukai.
kau menghindar dari sinar itu
sejauh usia
menghidupkanmu
untuk sampai di tempat
sebelum kau mulai melangkah.
di tempat itu, kau embuskan asap
pada udara terlampau beku
tak ada yang mampu kau cegah
hingga subuh nanti, akan meledak sunyi
jutaan kali— di balik dadamu.
(16-24)
Aritmia
kau membasahi selembar kertas
yang terletak di batas diriku
basah pada lembar kertas itu melebar
maka berdebar-debarlah aku
seketika gelap menyebar
di hadapanku seperti ada burung
berwarna putih
atau angsa
berwarna hitam
yang pasti
ia melepas
kedua sayapnya
dan pergi
membiarkan keduanya
terkapar
di sampingku
yang sedari tadi
telah melebur
(16-24)
Empat Dimensi
dari gazebo itu kau menghilang
membuatku seperti makhluk dua dimensi
yang jantungnya dipindahkan
ke dunia tiga dimensi
burung dua dimensi mendekat kepadaku
membawaku terbang ke depan ke kanan
ke belakang ke kiri
terbangnya tak berarti apa pun
bolehkah aku berpikir?
kau menggenggam jantungku
sembari melihat duniaku
seperti sebuah lukisan
yang ingin sekali kau curi
kemudian kau muncul
membawaku kembali ke dunia
tiga dimensi
atau empat dimensi
sebab suaramu yang dulu dan kini
terdengar
terdengar
seperti debum berulang-ulang
debum berulang-ulang
pelukanmu yang dulu dan kini
terasa
terasa
seperti waktu berputar-putar
waktu berputar-putar
mengembalikanku lagi sebagai makhluk
dua dimensi
di gazebo ini
atau makhluk satu dimensi
pada perasaan ini
yang terus ke bawah
terus ke bawah
sampai kepada titik
.
(16-24)
===
*Allan Hanafi lahir di Ampenan, Lombok, 29 Februari 1996. Bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram, NTB. Buku puisinya berjudul Supersonik (2024).