LiteraSIP

29 Desember 2024

Anak Penjual Pecel Horog-Horog

Oleh Kartika Catur Pelita*

 

 

Aku ingin jadi penulis karena aku sayang pada kehidupan  

Aku ingin jadi pengarang agar kelak namaku dikenang     

***   

Malam telah larut. Syarifah Aulia selesai membantu Emak menyiapkan dagangan pecel horog-horog untuk esok hari. Gadis enam belas tahun itu sudah selesai pula mengerjakan PR. Sekarang saatnya ia menekuni hobinya: menulis cerpen.

Syarifah mengambil buku tulis setebal 200 halaman. Mencari tulisannya berupa draft cerpen yang ditulis tangan. Tulisan ceker ayam. Sebelum nanti diketik ulang di komputer sekolah. Wali kelasnya yang tahu jika Syarifah suka menulis cerpen, merekomendasikannya menggunakan komputer di sekolah.

Sekarang Syarifah sudah memiliki ponsel bekas. Dia bisa mengetik di sana. Tetapi dia berangan kelak memiliki komputer atau laptop. Namun, keinginannya sepertinya harus dipendam. Kondisi ekonomi keluarganya belum memungkinkan. Bapak bekerja sebagai manol di penggergajian kayu. Upah bapak hanya cukup membiayai kehidupan setiap hari, termasuk biaya sekolah Syarifah dan ketiga adiknya. Pendapatan Emak dari jualan pecel horog-horog untuk bayar listrik, iuran RT, dan  uang saku keempat anaknya.

Syarifah asyik mengembara dengan imajinasinya, yang diwujudkan di dalam  rangkaian kata-kata yang ditulis pada selembar kertas. Saking asyiknya tidak menyadari Emak memasuki kamar mungilnya.

“Belum tidur, Ndhuk?”

“Belum, Mak. Lagi nulis cerpen. Mumpung lagi mood dan banyak ide, Mak.”

“Cerpen itu apa sih, Ndhuk?” tanya Mak. “Mak saat sekolah MTS pernah dengar tetapi tidak paham. Cerpen itu sejenis cerita ya?”

“Iya, Mak. Cerpen itu cerita, tepatnya cerpen itu singkatan dari cerita pendek. Cerpen itu cerita rekaan, cerita karangan, Mak. Idenya bisa dari pengalaman pribadi ataupun pengalaman orang lain.”

Ndhuk, apakah kalau menulis cerpen bisa dapat uang?”

“Bisa, Mak. Cerpen yang sudah selesai kita kirim ke koran atau majalah. Nanti diseleksi, dinilai, Mak. Jika lolos dan dimuat, penulisnya dapat uang. Istilahnya dapat honor.”

“Kamu pernah dapat honor, Ndhuk?”

“Belum, Mak. Aku pernah kirim cerpen ke koran dan majalah, dan naskahnya dikembalikan. Itu artinya belum layak dimuat, Mak. Yang kirim cerpen itu banyak. Tulisan mereka mungkin lebih bagus, karena mereka lebih senior. Aku harus banyak berlatih menulis cerpen, sehingga suatu hari nanti karyaku bisa dimuat media. Doain, ya, Mak.”

“Amin.”

***

Pada kelas 10 A, Bu Guru Resti mengampu pelajaran bahasa Indonesia. Syarifah sangat menyukai pelajaran bahasa Indonesia, apalagi ketika Bu Guru mengajarkan sastra. Pengetahuan Syarifah bertambah seiring waktu. Bu Guru Resti merekomendasikan buku-buku yang sebaiknya dibaca Syarifah, demi menunjang modal kemampuannya  menulis.

Siang itu, seusai mengajar, Bu Guru Resti mengabarkan, “Mulai bulan depan ada kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik dan sastra. Setiap hari Sabtu. Pengampunya sastrawan nasional bernama Segara Putra.”

Syarifah terhenyak, mencari nama Segara Putra di Google. Segara sudah menulis ratusan cerpen dan dimuat media lokal dan nasional.

“Bu Guru, apakah benar Segara Putra adalah sosok ini,”  Syarifah menunjukkan foto seorang teruna di dalam ponselnya.

“Betul, “ Bu Guru Resti mengiyakan.

“Segara ternyata berasal dan tinggal di kota ini, Bu.”

“Semula Ibu juga tidak tahu, karena Segara ini tidak suka dipublikasikan. Padahal karya beliau bermutu dan kerap meraih penghargaan. Segara Putra penulis atau sastrawan nasional. Ada kawan Ibu yang kebetulan satu almamater dengan Segara. Ibu meminta tolong untuk mengenalkan Ibu pada Segara. Beliau ternyata orangnya sangat baik. Beliau bersedia memberikan pelatihan sastra, padahal kegiatannya berjibun. Makanya Ibu berpesan pada kalian bersungguh-sungguh belajar ketika diampu oleh Segara. Sebuah kesempatan yang tidak sembarang orang bisa bertemu dan belajar pada Segara, penulis nasional sarat prestasi.”

***

Segara Putra mengajarkan teori dan praktik jurnalistik kelas pemula. Pada bulan berikutnya, mengajarkan menulis cerpen. Segara mengajarkan secara mendetail unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen. “Tulis apa yang ada di dalam kepala. Menulis paling mudah adalah berdasarkan pengalaman. Tulislah pengalaman paling berkesan dalam hidup kalian. Nanti saya ajarkan cara menulis cerpen atau novel berdasarkan pengalaman atau kisah nyata.”

Delapan anak didik manggut. Syarifah  menuliskan pengalamannya membantu berjualan horog-horog pecel di rumah. Segara senang membaca cerpen karya Ifah berjudul ‘Anak Penjual Pecel Horog-Horog.’

Segara mengajarkan cara membuat judul cerpen yang keren, menulis pembukaan cerpen dan membuat ending yang nendang. Segara menceritakan proses kreatifnya sebagai  penulis. Dulu dia menulis menggunakan mesin tik pinjaman. Ketika beberapa  cerpen Segara dimuat di media dan mendapat honor, dia menabung untuk membeli laptop.

Segara tekun dan rajin berlatih menulis, sehingga beberapa cerpennya dimuat media nasional yang honornya lumayan besar. Segara memenangi sayembara menulis tingkat nasional. Bukunya diterbitkan dan mendapatkan royalti. “Menulis itu keberanian. Menulis itu aksi dan segera lakukan.  Jangan suka menunda!”

Syarifah dan peserta lainnya menanamkan petuah Segara ke dalam hati. Siang di hari Sabtu cerah, Segara membagikan kabar penting. “Ada lomba menulis skenario film  pendek. Siapa di antara kalian yang tahu apakah itu skenario?”

Syarifah mengacungkan tangan dan menjawab. Segara Putra mengiyakan dan menjelaskan rinci perihal skenario.

“Bapak berharap di antara kalian mengikuti lomba menulis skenario film pendek ini. Lomba bisa dijadikan ajang belajar. Hadiah lomba lumayan besar. Bisa buat beli laptop dan berpuluh-puluh bakso. ”

“Apakah menulis skenario sulit, Pak?” tanya Kalia.

“Dibilang sulit, ya tidak, dibilang mudah ya tidak juga,” Segara mengulum senyum.

Para peserta tersenyum.

Segara melanjutkan. “Jika kalian sudah bisa menulis cerpen, saya yakin kalian bisa menulis skenario. Sekarang saya memberikan modul contoh skenario film. Ayo, silakan kalian simak.”

***

Syarifah, Kalia, Eva, dan Guntur mengikuti lomba menulis skenario film pendek. Segara Putra membinanya. Segara dan siswa berdiskusi untuk menemukan ide yang sesuai tema perlombaan. Segara mengajarkan cara menulis sinopsis dan premis skenario.

Segara membaca naskah, memeriksa, memberi masukan dan revisi. Syarifah, Kalia, Eva, dan Guntur mengerjakan revisi.

“Ketika mengikuti lomba, perhatikan kerapian naskah. Jangan ada salah ketik dan typo. Patuhi persyaratan teknis, misalnya: jenis huruf, ukuran huruf, ukuran kertas, jumlah halaman. Juga perhatikan saat mengisi formulir. Jangan sampai salah mengisi biodata. Sangat sayang jika naskah kalian bagus, tetapi tidak dinilai juri karena tidak lolos persyaratan administrasi.”

Syarifah dan teman-teman mengangguk. Mereka kelar menulis naskah dan mengirimkan berkas naskah via email.

***

Tiiit. Ada pesan WA dari  Segara Putra. Berdebar hati Syarifah kala membukanya.

Selamat, Syarifah. Kamu menjadi salah satu pemenang.

Syarifah Aulia terpilih sebagai juara kedua di dalam lomba yang diikuti 200-an peserta.

Syarifah bersorak senang, tetapi wajahnya merona malu saat tersadar ulahnya diperhatikan beberapa pembeli pecel horog-horog.

Emak yang melayani pembeli bertanya. “Ana apa tah, Ndhuk? Bengokbengok kaya wong edan.”

“Mak, aku menang lomba.”

“Alhamdulillah.”

“Mak, aku akan dapat hadiah uang empat juta. Uangnya aku belikan laptop, ya?”

“Alhamdulillah.”

“Mak, besok Sabtu kita bikin horog-horog pecel yang banyak untuk Pak Segara dan teman-teman di sekolah, ya.”

***

Kota Ukir, September-Oktober 2024.

*) horog-horog: olahan terbuat dari pati aren. Biasanya disantap dengan pecel atau bakso. Horog-horog makanan khas Jepara.

 

===

*Kartika Catur Pelita, menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. tulisan dimuat di puluhan media cetak-daring. Bukunya yang terbit: Perjaka, Balada Orang-Orang Tercinta, Perempuan yang Ngidam Buah Nangka, Karimunjawa Love Story. Buku berjudul “Kembang Randu” memenangi juara 1 Sayembara Novela Basabasi 2023. Buku terbarunya jelang terbit: “Kunang-Kunang di Pelupuk Mata” Hyang Pustaka. Pegiat literasi dan founder Akademi Menulis Jepara (AMJ).                  

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *