LiteraSIP

29 Desember 2024

Puisi-Puisi Muhammad Fahruddin Al Mustofa

Oleh Muhammad Fahruddin Al Mustofa*

 

 

Mengalami Bahasa

Dalam kepala ayahku
aku berdesing hebat
bayi-bayi mengambang
timbul lalu tenggelam
didekapnya sunyi erat
napas waktu mengarah
ke barat daya perjumpaan
yang tak pernah diharapkan

dalam dada ibuku
aku puas berenang
berjemur telanjang dada
menari lincah kemana
amuk diredam di situ
kesedihan dibasuh
menadah air mata
dan poripori bergeming

dari mulut ke mulut
aku menyelami kata
merangkainya menjadi labirin
mencari kerang, kerapu, arkais
mutiara dari sudut gelap
bahasa

dalam perjalanan pulang
aku berbalik arah
masa lalu yang hidup
anak kecil itu memeluk bulan
kakinya masih menapak
kerinduan asali pada
yang polos ketidaktahuan
telanjang

2024

 

Sebelum Matahari Pecah

1
di kedalaman bunyi
aku memahat kesedihan
hingga ia menjadi berhala
yang tak pernah kusembah

karena dalam masa tertentu
air yang dalam selalu memantulkan
kejernihan, dan dari dasar itulah aku
menemukan Tuhan

2
doa ini telah menguning
biru marmer menyala
dua pintu kubuka lebar-lebar
hamparan putih menggambar tajalli

O, tuhan. Ampunilah ketidaktahuan kami

Ibrahim masih saja memecah berhala-berhala
api tauhid membakar seluk beluk kekufuran
sedikit lagi sirna

3
Bunga matahari layu
di atas makam Theo
dan jalan setapak melambai
merambah desau kelabu
mengiringi sepasang mata
tak berhenti menyala

4
Diam adalah tirakat batu
tasbih gunung-gunung
bercak-bercak tasbih
melubangi dada hingga
bulat dan hitam ketam

adakah getar ini bisa
kau sebut rindu dan
dahi pun basah, dada
meleleh lepuh menguap

zat itu mengitari leherku
dipaksanya tenggelam
menengadah, ditarik lagi dari
dasar rumput laut, haus ingin
jumpa pada yang kekal

5
Tubuh teks mengandung jadah
haram semiotika menunggu kelahiran
bayi perlambang

O, buku buku dalam rak
hampir roboh bacalah aku
yang lelah membaca debumu
sebelum debur hailalah meyerap
dalam pori-pori kulit wajahmu

pada batas mana kita bertahan?

2024

 

Nusa Dua

sementara bayang-bayang
matahari dihimpit paha lautan
diikatnya kilau pada bibir pantai
dihisap berkali-kali hingga tungkus

dan kini, Laluna, kau benar-benar
melahirkan dirimu berkali-kali
di pucuk kuil, di kaki urukan
sepasang anjing bermandikan
keringat mengelilingi dirimu
yang telanjang dan suci

karena para biarawan tak pernah memetik ganja
karena sesajen digelar tak usai mengembalikan kenangan

 

Nusa Dua II

aku mencari Umbu di telatah
sembayangan, di pori-pori angin
di kilasan aspal Denpasar aku mengendus
bagai anjing kelaparan mencari belas kasih

belum kutemukan hakikat puisi
kukenang segala yang kuhirup
demi mencari aroma tubuhmu
menghantui sukma, igau rembulan

kaki kaki menapak di atas punggung bahasa
tenggelam perlahan menjejak tak sampai
sebelum Laluna memulai perjalanan panjangnya
darah di tangan kirinya, menuntunnya pada baka
demi mencari aroma tubuh bahasa

2024

 

Rendezvous 1996

menembus semenanjung
air mengalir tanpa jeda

dari ceruk ke ujung nadi
kembali ke asali nan tahir

Bulan mengambang di atas pusar
segera saja kekalutan menerkam

bagai harimau jawa limbung
kuda putih meringkik dan meraung

seperti sediakala ombak membanjiri
tubuhku pasang gemetar tak keruan

jeritan-jeritan muncul dari arah berlawan
kesadaran akan sebuah kelahiran

ibu yang kehabisan napas
berakhir dalam kesunyian kudus

2024

 

===

*Muhammad Fahruddin Al Mustofa. Lahir di Sidoarjo, 13 Desember 1996. Bergiat di Simpcoyo Space.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *