LiteraSIP

5 Januari 2025

Lomba Panjat Sosial

Oleh Herumawan P A*

 

 

“Tadi kenapa Ayah marahi orang sambil meludahinya?” Aku kaget mendengar anakku mempertanyakan kelakuanku memarahi dan meludahi orang yang mengingatkanku agar mobilku tidak berhenti di pinggir jalanan macet sekitar lima belas menit lalu, dimana saat itu aku turun mampir beli gorengan.

“Tidak apa-apa, Anakku. Ayah baru lakukan panjat sosial.” Aku berkilah. Tidak mungkin aku ceritakan kejadian sebenarnya kepada anaķku yang berumur tujuh belas tahun. Tidak mau membuatnya malu nanti. Anakku kaget, sepertinya ia baru tahu istilah itu.

“Yang aku tahu Panjat Pinang, Yah.”

Aku tertawa kecil mendengarnya.

“Kalau Panjat sosial apa itu, Yah? Semacam lomba, ya.”

“Itu cara supaya cepat terkenal di media sosial. Jadi, ya, semacam perlombaan gitu.”

“Wah keren itu. Aku mau juga terkenal, Yah.”

“Panjat sosial itu harus yang baik.” Aku sok tahu menjelaskan.

Anakku tidak percaya. “Lho, tapi tadi kan Ayah yang salah. Mobil diparkir di pinggir jalan raya yang sempit dan sedang ramai.”

Aku kaget mendengarnya lalu menghentikan mobil di pinggir jalan. “Ayah tidak salah, Nak. Kan tadi Ayah buru-buru beli makanan buat kamu. Lagian yang marah duluan bukan Ayah.” Aku berusaha menutupi yang sebenarnya terjadi.

“Tapi, kok, komentarnya banyak yang mencela Ayah. Kalau panjat sosial itu sesuatu yang baik, harusnya komentarnya bagus-bagus.” Anakku menunjukkan video viralku yang sedang memarahi dan meludahi orang tadi. Tidak lupa ditunjukkan komentar-komentar netizen yang mencelaku.

Aku terdiam sejenak. Kupandangi wajahnya, tidak ada raut sedih atau malu. Tapi aku tidak memperdulikan itu. Yang ada di pikiranku saat ini adalah mencari alasan pembenaran kelakuanku tadi.

“Bukan seperti itu faktanya, Nak. Ayah hanya… .” Aku mencoba menemukan kata-kata lanjutan yang tepat tapi pikiran ini mampet. Tidak mau diajak kompromi.

“Nak, kamu masih lapar? Di sana ada warung makan. Enak, lho.” Aku mengalihkan pembicaraan.

Anak menggeleng. “Kan sudah ada gorengan yang tadi dibelikan Ayah.”

Aku terdiam. Berpikir mencari kalimat pengalihan isu.

“Ayah belum jawab pertanyaanku.”

Aku menghirup nafas dalam-dalam. Mungkin ini saatnya. “Iya, Nak. Panjat sosial yang Ayah lakukan itu salah.” Aku malah kaget melihat anakku malah sumringah mendengarnya.

“Boleh aku tiru panjat sosial seperti Ayah?”

Ini kalimat yang sebenarnya aku tidak inginkan keluar dari mulut anakku. “Kenapa kamu mau meniru perbuatan Ayah yang salah?” aku balik bertanya.

“Panjat sosial seperti Ayah tadi cepat tersebarnya ketimbang unggah prestasi. Bisa jadi terkenal, dapat subscribe dan cuan, Yaĥ. Kalau dilombakan, Ayah jadi pemenangnya.”

Aku mendelik kaget. Tidak percaya anakku ngomong begitu. “Tidak boleh!!!” Aku terpaksa membentaknya.

Anakku tidak menjawab, ia hanya menunduk, kemudian mobil kukendarai kencang.

Sepanjang perjalanan, kebisuan menyelimuti aku dan anakku. Tidak ada canda tawa seperti yang biasa aku dan anakku lakukan setiap pergi jalan-jalan sore melintasi taman, sawah serta perkebunan warga.

Sampai di rumah, aku dengan nada kencang menyuruh anakku langsung masuk ke dalam kamarnya. Istriku kaget melihatku tidak seperti biasanya. Aku membentaknya untuk tidak ikut campur atas apa yang kulakukan. Ia tidak terima lalu mengungkit uangnya yang habis kupakai untuk mendanai usahaku tapi aku gagal karena kupakai main judi online dan sekarang terlilit hutang. Pertengkaran kecil terjadi. Kemudian diakhiri “perang dingin”.

***

Aku baru saja diberitahu seorang warga kalau anakku berbuat ulah di gedung yang selesai dibangun seminggu lalu. Aku bergegas ke sana. Istriku sudah kuajak tapi ia tidak peduli. Menatapku ketika bicara pun tidak. Kulihat ia meludah saat membelakangiku. Aku kaget tidak percaya apa yang kulihat. Istriku benar-benar tidak punya rasa menghargaiku lagi setelah pertengkaran semalam.

Di gèdung baru, aku melihat tembok dan teras penuh ludah. Aku tidak menyangka ia benar-benar melakukannya.

“Lihat kan apa yang anakmu perbuat.” Seorang warga menuduh anakku pelakunya. Aku tidak percaya.

“Apa buktinya?”

“Ada CCTV.” Ia menunjukkan CCTVnya. Tersorot jelas wajah anakku saat meludahi tembok dan teras gedung baru.

Aku kaget melihatnya. Tapi aku coba tutupi rasa kagetku dari warga dan anakku. Karena kulihat sejumlah warga mengarahkan kamera hape mereka ke arah kami berdua.

Risih aku melihatnya. Kuambil hapeku lalu mengarahkan kameranya ke warga. Suasana berubah tegang. Seorang warga yang dituakan tampak kulihat berusaha menenangkan. Meminta warga tidak mengarahkan kamera hape mereka ke arah kami berdua. Sedang aku bicara berbisik dengan anakku.

“Nak, Ayah kan sudah bilang jangan lakukan panjat sosial seperti Ayah kemarin tapi kenapa kamu melakukannya?”

“Ayah, aku kan sudah bilang pingin cepat terkenal seperti Ayah. Aku tidak peduli hinaan, makian, dan cacian netizen nanti.” Anakku malah menjawab dengan suara kencang.

Aku kembali kaget anakku masih mengingat kelakuanku tempo hari.

“Ooo jadi yang dicontoh Ayahnya. Pantas!!” Seorang warga yang mendengar jawaban anakku berkata ketus.

Kucoba menenangkan anakku, sambil melihat di sekelilingku tampak sejumlah warga kembali mengarahkan kamera hape mereka, kali ini ke arah anakku. Menanti responnya.

“Ayahku penguasa wilayah sini. Kalian enggak bisa tangkap aku, wahai SDM rendah.” Anakku malah menantang warga lalu tertawa kencang.

Aku kaget mendengarnya. Kulihat beberapa warga tersulut emosinya merangsek maju hendak memukuli anakku. Segera kutarik ia ke belakang badanku. Melindunginya dari amarah warga.

“Jangan sentuh anakku atau kalian semua kuludahi.” Ancamanku tidak membuat mereka gentar.

Sebagian warga tetap mengarahkan hape mereka ke arah kami berdua. Sebagian lagi menarik tangan anakku dan badanku. Berusaha memisahkan aku dan anakku. Sontak, aku meludahi wajah mereka satu per satu. Mereka tidak terima. Langsung mendaratkan tangan dan kaki mereka ke badanku yang kupakai melindungi badan anaķku. Seorang warga desa yang dituakan melerai mereka.

“Oo, jadi kalian berdua sedang berlomba panjat sosial. Ingin terkenal kan? Oke, kita kabulkan. Unggah video omongan dan kelakuan keduanya!!” Seorang warga yang masih muda berujar lantang.

Aku kaget lantas berusaha mencegahnya. Memohon-mohon agar tidak disebarluaskan. Tapi mereka tidak mau mendengarkanku. Tetap mengunggahnya.

“Tunggu akibatnya nanti.”

Mereka meninggalkan aku bersama anakku yang langsung memelukku sembari menangis tersedu. Aku menenangkannya. Anakku berangsur tenang.

“Setelah ini apa yang akan menimpa kita, Yah?”

“Entahlah, Nak. Ayah tidak tahu.”

“Lalu apa yang kita harus lakukan, Yah?”

“Seperti yang lainnya, kita nanti bikin video minta maaf.”

“Apakah permintaan maaf kita akan diterima, Yah?”

“Tidak perlu kamu pikirkan itu. Biasanya netizen akan lupa sendiri saking banyaknya panjat sosial baru yang muncul nanti.”

Anakku melepaskan pelukannya. Lalu mengangguk pelan. “Aku menyesal, Yah.” Anakku menitikan air mata.

“Tenanglah, Nak. Yang penting kamu harus tetap sekolah. Nanti biar Ayah yang jelaskan ke sekolahmu.” Aku mengusap air matanya. Anakku mengangguk. Kulihat anakku tersenyum.

***

 

*) Yogyakarta, 28 November 2024

 

===

*Herumawan Prasetyo Adhie, seorang pejalan kaki yang memilih naik trans Jogja atau becak ketika lelah melanda, juga pemerhati sepak bola dan suka sekali menulis apapun. Mulai artikel sepak bola, cerita remaja, cerita pendek, cerita lucu hingga cerita misteri (mistik/seram). Beberapa karya cerpen saya pernah dimuat di Kompas.id, Apajake.com. Bangka Pos, Banjarmasin Pos, Harian Analisa Medan, Harian Rakyat Sultra, Majalah Story, Majalah Kuntum, Minggu Pagi, Koran Merapi Pembaruan, Koran Pantura, Inilah Koran, Kedaulatan Rakyat, Harian Jogja, Harian Joglosemar, Republika, Radar Banyuwangi, Radar Bromo, Radar Lampung, Radar Jombang, Radar Mojokerto, Radar Surabaya, Solopos, Sastra Harian Cakrawala Makassar, Serambi Ummah, Tabloid Nova dan Utusan Borneo.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *