LiteraSIP

26 Januari 2025

Intrik

Oleh Sulyana Dadan*

 

 

“Pak Wabup, mohon segera pulang. Pak Bupati ditangkap KPK malam ini!”  Begitu isi pesan singkat dari Sekda Urip yang masuk ke telepon genggamku. Kubaca sekali lagi pesan singkatnya. Ya, aku tidak salah baca. Jelas sekali, “Bupati Banyuperak ditangkap KPK!”

Kulihat jam, sudah jam sebelas malam. Beberapa menit kemudian, telepon genggamku dipenuhi panggilan dan pesan singkat whatsapp. Tak satu pun kuangkat dan kubaca. Aku yakin, semua panggilan dan pesan singkat itu hanya ingin menginformasikan atau memastikan kabar penangkapan Bupati.

Kumatikan telepon genggamku, lalu kumasukan ke dalam tas yang berisi dokumen penting tentang laporan keuangan Kabupaten Banyuperak, tempat dimana aku menjadi wakil bupati.

Aku tertegun. Duduk mematung di tempat tidur. Berita penangkapan bupati oleh KPK, membuatku gelisah.

Kucoba menenangkan diri. Kurebahkan badanku. Kasur empuk hotel bintang lima ini jadi terasa tak nyaman lagi. Aku tercenung, menerawang kampung halamanku, yang saat ini pasti sedang geger dengan peristiwa penangkapan bupatinya.

*****

Tiga tahun lalu, Kabupaten Banyuperak menggelar Pilkada. Nuansanya sangat berbeda dari pilkada sebelumnya. Warga yang biasanya tidak peduli dengan politik, kali ini antusias menyambut Pilkada. Penyebabnya satu, aku sendiri –Bagus Subangun–yang mencalonkan diri dan terpilih menjadi wakil bupati.

Sebelum menjadi wakil bupati, aku dikenal sebagai aktivis LSM. Aku dianggap  pahlawan oleh masyarakat karena beberapa kali menjadi pembela petani, ketika berurusan dengan para tuan tanah dan pemerintah.

Bupatinya, Sugiharta. Lelaki yang umurnya sudah kepala tujuh ini adalah orang yang sangat berpengaruh. Hartanya berlimpah. Tanahnya di mana-mana. Dia juga punya pabrik yang mempekerjakan penduduk desa.

Awalnya, semua orang tidak menyangka jika Sugiharta dan aku akan berdampingan menjadi bupati dan wakil bupati. Dulu, aku dan Sugiharta adalah musuh bebuyutan. Sebagai pengusaha dan tuan tanah, Sugiharta sering melakukan berbagai hal yang merugikan petani. Dari penyerobotan lahan sampai persoalan pengupahan yang tidak manusiawi kepada para pekerjanya.

Sebagai aktivis, aku adalah orang yang paling sering mengkritik dan melawan Sugiharta. Beberapa kali aku mengerahkan masyarakat untuk mendemo Sugiharta. Pernah juga aku dan Sugiharta bertarung di pengadilan. Tentu saja, Sugiharta yang menang. Dengan kekuatan uangnya, dia bisa membeli pengadilan. Perseteruanku dengan Sugiharta, sudah jadi rahasia umum di Banyuperak.

Titik balik hubunganku dengan Sugiharta terjadi setahun menjelang Pilkada. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba muncul berita bahwa Sugiharta akan mencalonkan diri menjadi bupati. Banyak yang nyinyir kala itu, karena semua orang tahu siapa Sugiharta.

Di antara sekian banyak yang nyinyir itu, tentu saja ada aku. Aku berbicara ke semua orang, menolak Sugiharta. “Kalau Sugiharta sampai jadi Bupati, dunia akan kiamat!” Kataku kepada teman-temanku sesama aktivis dan para  petani.

Sampai suatu ketika, ada orang suruhan Sugiharta datang ke rumahku. Dia mengatakan bahwa Sugiharta sudah tobat. Sugiharta ingin membaktikan dirinya untuk membantu warga agar bisa sejahtera.

Aku tidak percaya. “Orang licik seperti dia, mana mungkin punya pikiran mau mensejahterakan rakyat. Yang ada, malah menyengsarakan rakyat,” batinku.

Namun, isu Sugiharta mencalonkan diri menjadi Bupati semakin santer. Beberapa tokoh masyarakat terang-terangan mendukung Sugiharta. Kyai Mahmud, yang selama ini dipandang sebagai orang bijak pun, ikut mendukung. “Nak Bagus, niat baik Pak Sugiharta harus dihormati. Jangan su’udzon dulu, beri dia kesempatan untuk membuktikan diri,” tutur Kyai Mahmud, ketika kutemui di pondok pesantrennya.

Saran dari Kyai Mahmud itulah yang mengubah pendirianku. Aku tidak lagi sibuk mencari dukungan untuk mengkritik dan menolak pencalonan Sugiharta. Bahkan ketika orang suruhan Sugiharta datang lagi ke rumahku dan memintaku menjadi wakil bupati, aku tidak menolaknya.

“Pak Sugiharta minta Pak Bagus untuk menjadi wakilnya. Untuk kampanye, beliau siap menyiapkan dananya. Pak Bagus mengurus masyarakat saja, bagaimana caranya agar Pak Sugiharta dan Pak Bagus terpilih nanti,” ucap orang suruhan Sugiharta kala itu.

Aku tentu saja tidak sulit untuk meraih suara. Dengan modal relasi dan jaringan selama menjadi aktivis LSM, serta dukungan orang-orang yang pernah kubantu, aku dan Sugiharta berhasil memenangkan Pilkada.

Beberapa bulan kemudian, Sugiharta dan aku dilantik menjadi bupati dan wakil bupati. Sugiharta yang tidak punya pengalaman dalam menjalankan roda pemerintahan, merasa kewalahan dengan berbagai aturan yang harus dijalankan. Sementara aku yang mantan aktivis LSM, tentu sudah paham dengan berbagai aturan dan sistem pemerintahan yang sering jadi sasaran kritikku di masa lalu.

“Untung kamu jadi wakilku, Gus. Kalau tidak ada kamu, saya sudah mundur sejak tahun pertama jadi Bupati,” kata Sugiharta, ketika kutemui di ruang kerjanya.

Aku tersenyum kecil, “Sudah sewajarnya kita saling bantu, Pak. Semuanya demi rakyat,” Jawabku sambil mengumpulkan berbagai dokumen yang baru saja ditandatangani Sugiharta.

Ya, Sugiharta dan aku sudah sangat dekat. Urusan minta tanda tangan dokumen penting pun, aku yang pegang. Sekda Banyuperak, Pak Urip, yang seharusnya mengurus administrasi pemerintahan, menyerahkan sebagian wewenangnya kepadaku.

Lama-lama, sebagai wakil bupati, aku jadi punya kewenangan besar. Urusan pengelolaan keuangan dan penempatan pejabat pemerintahan Kabupaten Banyuperak, diatur seluruhnya olehku. Sementara Sugiharta hanya menjalankan urusan kecil saja, seperti membuka dan menutup acara resmi pemerintahan.

Aku pun semakin disegani. Sebagai wakil bupati, aku dianggap mampu membantu Sugiharta menjalankan tugas sebagai bupati. Cerita tentang permusuhan Sugiharta dan aku di masa lalu pun, perlahan hilang. Berganti dengan cerita keharmonisan di antara kami berdua.

***

“Tok…tok..tok!” Aku terkejut ketika pintu kamarku ada yang mengetuk. Kulirik jam dinding, sudah jam dua dini hari. “Siapa?” kataku.

“Siap, mohon izin, Pak. Saya Sigit.”

Kubuka pintu dan kulihat di luar sudah berdiri Sigit, ajudanku yang beberapa hari ini menemani perjalanan dinasku di ibu kota.

“Ada apa, Git?” tanyaku.

“Mohon izin, Pak. Ini Pak Sekda mau bicara, penting katanya. Dari tadi mencoba menghubungi Bapak, tapi tidak tersambung,” kata Sigit.

“Oke, nanti saya telepon balik Pak Sekda,” kataku sambil menutup pintu.

Aku bergegas mengambil telepon genggamku. Setelah kunyalakan, kubaca beberapa situs berita online yang memberitakan penangkapan Bupati Banyuperak oleh KPK.  Dalam berita disebutkan, Bupati Sugiharta diduga sering melakukan transaksi jual-beli jabatan dan terlibat korupsi dana bantuan dari pemerintah pusat. Bupati tidak bisa mengelak setelah KPK menemukan bukti-bukti di ruang kerjanya. Semua tanda tangan bupati ada di semua dokumen bukti-bukti itu.

Sesaat kemudian, telepon genggamku berdering. Kulihat layarnya, Sekda Urip yang menelepon. Kuangkat teleponnya dan kudengar Sekda Urip berkata dengan suara bergetar, “Selamat  ya  Pak Bagus, perjuangan kita berhasil. Sebentar lagi, Bapak akan jadi Bupati menggantikan Pak Sugiharta. Jangan lupa perjanjian kita setelah ini ya, Pak!”

Aku pun terdiam. Mematung lagi.

Purwokerto, Oktober  2024

 

===

*Sulyana Dadan, tinggal di Purwokerto dan bekerja sebagai Dosen di Unsoed (Universitas Jenderal Soedirman) Purwokerto.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *