LiteraSIP

2 Februari 2025

Apakah Melukis Memerlukan Bakat?

Oleh Dadang Ari Murtono*

 

 

Aku bertemu Jim pada awal Juli. Matanya bengkak dan bibirnya pucat. Ia duduk tidak jenak di depanku. Setelah mengisap dua batang rokok beruntun dengan tangan gemetar, ia bercerita tentang suatu hari ketika Alfi membawanya melihat seekor gajah di kebun belakang rumah Alfi.

“Gajah yang jauh lebih berbakat ketimbang aku,” katanya sedih.

Aku tak tahu bagaimana Alfi bisa mempunyai seekor gajah yang ia pelihara di kebun belakang rumahnya. Setahuku, gajah bukanlah termasuk jenis binatang peliharaan seperti anjing atau kucing yang bisa diadopsi dari tempat penampungan atau dibeli dari toko binatang peliharaan. Namun itu sepertinya tidak penting benar mengingat bagaimana Jim tampak tidak tertarik menjelaskannya ketika aku menanyakan hal itu. Ia hanya menggeleng dan berkata bahwa Alfi adalah salah satu pelukis paling cemerlang di Indonesia.

“Harga satu lukisannya,” kata Jim, “kalau kau tahu, bisa tembus satu milyar. Kau tak akan bisa membayangkan apa saja hal yang bisa dilakukan oleh orang macam dia.”

Aku mengangguk dan tak memperpanjang urusan bagaimana Alfi bisa memelihara seekor gajah.

“Alfi menyuruh gajah itu duduk,” kata Jim kemudian. “Dan gajah itu duduk. Duduk dengan tenang di atas sebuah sofa yang sangat besar. Kau pasti bisa mengira-ngira sebesar apa sofa yang bisa diduduki seekor gajah, bukan?”

Aku kembali mengangguk.

“Alfi mencelupkan sebuah kuas besar ke dalam cat hitam,” lanjut Jim. “Dan ia juga meletakkan sebuah kanvas besar di depan si gajah. Lantas, Alfi membuat si gajah memegang kuas itu dengan ujung belalainya. Aneh sekali. Tapi itulah yang terjadi. Maksudku, gajah itu memegang kuas yang diberikan Alfi. Memegang dengan ujung belalainya. Dan ia melukis. Gajah itu melukis. Begitu saja.”

“Kukira,” aku menyahut, “aku pernah melihat seekor gajah melukis di Youtube. Apa yang aneh dari itu?”

Badan Jim berguncang. Ia menangis. Jim memang seorang yang tak sungkan-sungkan mengekspresikan apa yang sedang ia rasakan.

“Aku telah melakukan segala yang aku bisa,” kata Jim di sela-sela tangisannya, “tapi aku tidak mampu. Aku benar-benar tidak mampu.”

Aku kira aku mengerti apa yang sedang dialami Jim. Aku mengenal Jim beberapa bulan lalu sebagai seorang pelukis yang ambisius. Atau mungkin, seseorang yang ambisius menjadi pelukis. Pada masa-masa awal pertemanan kami, Jim bersemangat dan bangga bercerita bahwa ia bukanlah seseorang yang berasal dari keluarga seniman.

“Bapakku hanyalah petani,” katanya. “Tak ada dalam sejarah keluarga besar kami hingga leluhurku yang menjadi seorang pelukis. Tapi aku menjadi seorang pelukis. Bukankah ini hebat?”

“Itu sangat hebat,” kataku waktu itu.

Jim mengatakan bahwa dorongan untuk melukis itu timbul sekonyong-konyong pada suatu hari. Ia dan beberapa temannya sedang mabuk waktu itu. Tak jauh dari tempat ia minum campuran anggur merah dan bir, ada toko peralatan melukis. Dalam kondisi benar-benar mabuk, gagasan itu terbit.

“Itu adalah kanvas dan cat dan kuas pertama yang aku beli,” katanya.

Sebelum botol keempat tandas, ia telah menyelesaikan satu lukisan.

“Sehampar coret-coretan penuh tenaga,” kata Jim. Tentu saja dengan kebanggaan yang seakan tak pernah kering.

Teman-temannya, yang sama-sama dalam kondisi mabuk, menatap lukisan itu dengan mata tak berkedip.

“Benar-benar bagus,” kata mereka.

“Kau berbakat, Men,” tambah mereka.

Jim membawa lukisan itu pulang. Dan selama beberapa hari, ia menghabiskan waktu untuk memandangi lukisan tersebut. Bagaimanapun, meski lukisan itu tidak menampilkan satu pun citra yang bisa dikenali, Jim tetap merasakan energi luar biasa dengan satu dan lain cara.

Jim ingin orang-orang melihat lukisan itu.

Maka begitulah Jim mulai mencari informasi mengenai pelukis-pelukis yang mungkin bisa ia datangi. Dan tak butuh waktu lama, ia telah mengunjungi mereka satu per satu.

Sayangnya, tak ada satu pun pelukis yang menganggap lukisannya baik.

“Ini hanya coretan-coretan tak jelas,” kata salah satu pelukis yang gondrong rambutnya.

“Jelek saja belum,” kata salah satu pelukis yang punya tato di pipi kirinya.

“Cuih,” kata salah satu pelukis yang juling matanya.

Jim mendengus kesal menghadapi komentar-komentar seperti itu.

“Benar-benar tolol!” makinya, “bagaimana bisa mereka tidak melihat tenaga dalam lukisan ini?”

Jim, dalam kondisi marah dan frustasi, kemudian membawa lukisan itu ke museum di kotanya. Dengan diam-diam, ia menyelundupkan lukisannya dan memasangnya di salah satu dinding museum.

Setelah itu, ia pulang dan mencoba tidur.

“Aku telah melakukan apa yang aku bisa,” katanya, “jika orang-orang masih tidak menganggap lukisan itu baik, maka mungkin lukisan itu memang tidak baik.”

Jim mencoba melupakan lukisan tersebut.

Namun seminggu kemudian, ia melihat keributan di berita televisi lokal.

Seorang pengunjung museum yang pertama menyadari adanya lukisan di antara patung-patung peninggalan Majapahit di museum tersebut. Satu pemandangan yang menurut si pengunjung ganjil dan tidak pada tempatnya. Maka si pengunjung bertanya kepada petugas museum yang kemudian datang dengan terheran-heran.

“Kami juga tidak tahu bagaimana ada lukisan seperti ini di sini,” kata petugas museum, yang tampaknya tak pernah menganggap pekerjaannya sebagai sesuatu yang serius.

Si pengunjung mengambil foto dan video lukisan itu. Ia juga merekam komentar-komentar dari petugas museum. Dan demi konten media sosial yang bagus, si pengunjung sampai rela mencegat beberapa pengunjung yang lain dan mewawancari mereka tentang lukisan itu.

“Lukisan yang tidak jelas,” kata salah satu pengunjung, “namun ini unik karena ia bisa berada di sini. Di sebuah museum yang memajang benda-benda peninggalan Majapahit. Dan itulah kekuatannya. Ini bisa menjadi karya yang penting.”

“Cukup menyentak,” kata salah satu pengunjung yang lain. “Sangat kontemporer. Pelukisnya pasti seorang jenius.”

“Layak dicatat,” kata salah satu pengunjung yang lain lagi.

“Menarik,” kata salah satu pengunjung yang lain lagi. “Ngomong-ngomong, siapa pelukisnya?”

Si pengunjung tadi mengunggah video dan foto lukisan tersebut ke media sosial. Dan dari sanalah keributan dimulai.

Orang-orang mulai berdatangan ke museum untuk menyaksikan lukisan itu. Semakin banyak yang datang, semakin banyak yang merekam dan mengambil foto lukisan itu, semakin banyak pula yang mengunggahnya di media sosial, semakin banyak pula yang bertanya siapa pelukis lukisan yang luar biasa mengejutkan itu, dan wartawan pun mulai tertarik.

“Kesalahanku adalah,” kata Jim dulu, “aku tidak punya bukti apa pun yang menunjukkan bahwa itu lukisanku. Aku bahkan tidak membubuhkan tanda tangan. Untuk orang yang sama sekali tidak mengerti lukisan, aku tidak tahu bahwa hal-hal semacam itu penting.”

Jim datang ke museum itu beberapa jam setelah ia melihat berita keributan di televisi. Ia berusaha menjelaskan bahwa itu lukisannya dan bagaimana ia pada suatu hari diam-diam menyelundupkan lukisan itu ke sana. Museum, di mana pun, tak pernah benar-benar ketat dan itu memudahkan ia memasang lukisan tersebut.

Petugas museum memandangnya sambil tertawa tipis. “Anda orang keempat hari ini yang datang dan mengklaim bahwa itu lukisan anda.”

Jim berusaha menghubungi dan meminta tolong kepada sejumlah pelukis yang pernah ia tunjukkan lukisan tersebut.

“Jangan mengada-ada,” kata mereka, dengan redaksi yang berbeda-beda namun dengan maksud yang sama. “Tidak mungkin seorang pelukis pemula sepertimu bisa membuat karya sekuat itu.”

Kejadian itu membuat Jim kecewa, namun sekaligus menguatkan keyakinan Jim bahwa ia memang berbakat melukis. Terdorong oleh keyakinan tersebut sekaligus tekad untuk membuktikan bahwa itu memang lukisannya, maka ia mencoba membuat lukisan lain dengan gaya yang serupa.

Ia duduk berjam-jam di depan kanvas kosong.

Ia memikirkan garis semacam apa yang mesti ia buat untuk mengawalinya.

Namun ia tidak mampu.

Ia masih mencoba. Berjam-jam. Berhari-hari. Dan kanvas itu masih kosong.

Dan tiba-tiba Jim teringat bahwa ia membuat lukisan tersebut ketika ia mabuk. Maka ia membeli beberapa botol anggur merah dan bir. Ia menghabiskan semua seorang diri dan dalam kondisi benar-benar mabuk, ia mencoba untuk kembali melukis. Namun ia malah jatuh tertidur.

Atas saran teman-temannyalah kemudian Jim merantau ke Yogyakarta. Teman-temannya mengatakan bahwa Jim perlu sering-sering melihat lukisan, bergaul bersama sesama pelukis, dan lain sebagainya supaya ia bisa benar-benar menjadi pelukis yang handal. Dan di seluruh Indonesia, tak ada kota lain yang memungkinkan Jim melakukan itu selain Yogyakarta.

Dan itulah yang kemudian dilakukan Jim.

Di Yogyakarta pula aku dan Jim bertemu pertama kali di sebuah pembukaan pameran lukisan. Aku datang sebagai pengunjung biasa, sementara ia datang sebagai seseorang yang sedang merintis karir menjadi pelukis.

Kenyataannya, Jim selalu datang di setiap pameran lukisan. Ia juga berkunjung ke hampir semua rumah pelukis yang ia temui. Dan kepada setiap orang yang baru ia kenal, ia menceritakan pengalaman lukisan pertamanya yang ajaib, namun setelah itu ia tidak mampu lagi melukis. Tidak satu pun. Dan dari situ pula ia pada akhirnya bertemu dan berkenalan dengan Alfi. Ia menceritakan kesulitan-kesulitannya pada Alfi.

“Aku benar-benar kebingungan bagaimana memulai satu lukisan,” keluhnya. “Ada terlalu banyak pertimbangan dalam kepalaku.”

Alfi tertawa dan kemudian membawanya melihat seekor gajah di kebun belakang rumahnya.

“Kalau kau ingin melukis,” kata Alfi, “kau hanya harus duduk dan menggoreskan kuas di atas kanvas. Bahkan seekor gajah pun bisa melakukannya.”

Dan itulah yang kemudian disaksikan oleh Jim.

“Apakah melukis memerlukan bakat?” Jim tiba-tiba bertanya setelah tangisnya mereda.

Aku tak tahu harus menjawab apa.

 

ooOOoo

 

===

*Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), Cara Kerja Ingatan (novel, 2020), Sapi dan Hantu (kumpulan puisi, 2022), Cerita dari Brang Wetan (kumpulan cerpen, 2022), serta Peta Orang Mati (Kumpulan Cerpen, 2023). Buku Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019. Buku Cara Kerja Ingatan merupakan naskah unggulan sayembara novel Basabasi 2019. Buku Sapi dan Hantu adalah juara 3 Sayembara Manuskrip Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2021 dan merupakan nominee buku pilihan Tempo 2022. Ia juga mendapat Anugerah Sabda Budaya dari Universitas Brawijaya tahun 2019. Saat ini tinggal di Samarinda dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *