LiteraSIP

23 Februari 2025

Puisi-Puisi Kha. Majdi

Oleh Kha. Majdi*

 

 

Rumah

apakah kita perlu meninggalkan rumah; sementara kasur ayah telah lapuk dan baju kebaya ibu telak lusuh. pintu-pintu rumah menyemburkan debu dan aroma dapur tak lagi berisi resep ibu: lumut hijau dan cabai kering setahun.

apakah kita perlu pulang ke rumah; sedang ayah hanya tinggal bayang dan ibu telah dijemput pelayaran dunia seberang. adakah tempat bagi kita di pangkuan mereka setelah tiada: doa terpanjat, langit terbelah, air mengairi mata kita.

batu kapur, tanah merah limau, dan kegelapan menghimpit mereka: menenggelamkan mata mereka dalam mimpi abadi. rumah adalah persemedian bagi sisa-sisa buaian. namun, setelah perpisahan berjuta detik menghantui bayang-bayang kita, rumah hanyalah peti mati bagi kesedihan: urat nadi ayah dan air mata ibu.

Lombok, 2024-2025

 

Kembali Sekali Lagi

kembali sekali lagi
sebelum petang datang. lalu pergi
sebelum sopir angkot hijau pulang
dan para penumpang menunggu sepi
sebelum aku, kau, dan kita benar-benar pergi
kembali sekali lagi
matamu kini jemu
memandang sisa-sisa rindu
lalu, aku membidikmu dari pucuk menara
dan para pejalan asing bersiap menonton pertunjukan kita

betapa kini tubuh kita terbelah;
antrean menanti pergi
lakon Putri Mandalika tamat
setelah laut selatan surut
kaki bulan melangkahi kepala kita

antrean kita masih panjang
kita butuh semalam lagi
untuk bisa menjejaki kepergian demi kepergian
hanya satu becak tersisa untukmu
dakilah pundaknya. lalu tidurkan tubuhmu
di atas ayunan kaki laki-laki tua

bangsal kita masih sama
namun, lakon kita belum selesai
setelah jam 2 malam
hujan memilih membawamu pergi
ke dinding pagi

Selong, 2025

 

Perihal Padi, Menafsirlah Angin

 angin hendak menafsir sajak-sajak padi. maka, izinkanlah ia
berlalu mengitari bulir-bulirnya di atas tanah paduka;
petani dengan dua sabda. membubuhi pupuk di sela-sela
berjuta batang, tanah basah, dan tarian dedaunan
sampai tiba layu lembayung senjakala

semilirnya memulai dengan menukil sepenggal sajak
dipisahkannya huruf demi huruf
kata demi kata. lalu, dengan mata angin
maka jadilah tafsir: kehidupan padi adalah akar
kesanggupan yang merahmati cakrawala

lalu, semilir berganti siul-siul daun nyiur
menyanyikan melodia dan nyanyian persembahan.
lalu, ia menatap paduka mematung di pematang
sementara, burung-burung gereja
turun mencuri biji padi sebatang

perihal padi,
menafsirlah angin:
tanah gersang yang menghapus
jejak kebusungan bumi:
lapar-dahaga kita

Toya, 2025

 

Betapa Aku Ingin

 betapa tubuh kita telah terbelah menjadi dua sabda:
jarak dan perpisahan. dua patah kata derita
betapa aku ingin membawamu sekali lagi
menengok langit dan siluet karang waktu itu
dan pulang menikmati hujan.

jam berdetak;
kita terhempas jarak

Kotaraja, 2025

 

Tiga Sajak Kecil Milik Dayu

 /
Dayu;
gadis cerdik yang terperangkap
di kampus jumud. lalu kaku tak bergeming.
tubuhnya simpang, enggan melawan.
tapi, mulut berlumur kata-kata:
sumpah serapah.

//
kata-kata tertulis rapi
di atas kertas bau toko miliknya
pena semakin tipis kelimis
menulis semua kata-kata revolusi
si tua berjubah datang:
enyah kau!

///
Dayu;
bocah lincah jenaka
suka memotret kesialan jendela kaca
bubuk kayu loak, cat hijau, wajah kemarahan.
dan keburukan sistemik!

Selong, 2025

 

===

*Kha. Majdi bernama lengkap Khaerul Majdi lahir di Aikmel, Lombok Timur, 9 Agustus 2002. Kuliah di Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor, Lombok Timur. Aktif berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (HIMMAH NWDI). Ia juga aktif di perpustakaan mini Keluarga Nomaden sebagai ketua pustaka. Tulisannya dimuat dibeberapa media online.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *