23 Februari 2025
Semua Tentang Bapak
Oleh Erniati Efendi*

“Bapak yang buat jendela itu dulu, lho, Gin.” Bude kembali membicarakan tentang Bapak.
Di sela kami menggulung karpet yang akan dicuci di halaman rumah, Bude terus saja membicarakan Bapak, membuatku terus menghela napas. Kami bekerja sama menggelar karpet di tiang jemuran. Aku berlari mengambil selang dan mulai menyemprotkan air ke semua bagian karpet. Menyingkirkan kotoran yang mulai luntur saat terkena air. Bude beranjak menjauh, mengambil detergen cair dan menungguku selesai menyemprotnya.
“Biasanya Bapak yang selalu nyuci karpet ini, ya, Gin?”
Hampir saja aku menghentikan kegiatan saat mendengar Bude kembali membicarakan tentang kebiasaan Bapak saat di rumah. Aku menahan rasa muak sedari tadi. Entahlah apa tujuan Bude memuji Bapak.
Masih ada dua karpet di rumah yang harus kami cuci. Bukan hanya karena lama tidak dibersihkan saja, tetapi karpet-karpet itu memang sudah buluk. Agak bau dan berminyak. Ibu menaruh sedikit demi sedikit detergen, lalu kami mulai menyikatnya bersama dalam diam.
Bapak memang sangat baik, sehingga ketika dia pergi, membuat kami merasa keteteran dalam segala hal. Kalau dipikir-pikir, semua Bapak yang kerjakan. Bapak yang pasang gas elpiji. Bapak yang cari uang. Bapak yang pasang jendela, bikin pintu, meja dan kursi. Bapak juga yang suka betulkan genting yang rusak. Kalau keran rusak, Bapak lagi yang mengerjakan. Kalau ada pegawai bank, Bapak yang pakaiannya lusuh yang menghadapi. Kalau ada tikus, Bapak yang ngejar-ngejar sampai dapat. Kalau ada ular masuk, Bapak terus yang bawa karung dan sebilah kayu. Bapak lagi, Bapak lagi. Masih banyak yang Bapak kerjakan. Namun, Bude tahu apa tentang Bapak? Walau Bapak adiknya, Bude tidak sebegitu memperhatikan Bapak selama ini.
“Baru satu minggu, pohon nangka sudah rimbun lagi, ya, Gin? Bapak tidak ada, sih.”
Kupikir sudah selesai tentang Bapak, ternyata belum. Bude masih tenggelam dalam pikirannya mengenai Bapak. Entah sudah berapa kata Bapak yang Bude sebutkan. Semenjak Bapak pergi, semua hari tentang Bapak.
Mulai dari bubuk kopi di toples yang utuh saja karena hanya Bapak yang minum kopi di rumah. Dari sarung Bapak yang belum juga dicuci karena belum sempat, lalu kopiah buluk Bapak yang tertinggal dan masih digantung di paku. Kursi duduk milik Bapak pun tidak dapat diabaikan, dijadikan pembicaraan dan menceritakan bagaimana Bapak membuatnya dulu. Bapak memang tukang kayu. Kalau tidak jualan kayu bakar, ya jualan kusen, pintu dan mebel lainnya. Itulah alasan rumah kami juga dipenuhi hasil kerja Bapak.
“Dulu Bapak…”
“Sudah dong, Bude. Gina capek dengernya.” Aku langsung memotong kalimat Bude karena mulai lelah.
“Astagfirullah, Gin, Gin. Gitu saja capek. Gimana sama Bapak, yang kerja banting tulang. Kamu dengerin Bude ngomong saja sudah bilang capek.”
Aku pun memilih masuk ke dalam rumah tanpa menyelesaikan tugas membersihkan karpet, walau Bude teriak memanggil. Sudahlah, terlanjur sakit hati. Masuk kamar dan mulai menangis. Bukan, bukan karena aku benci Bapak atau benci dengarkan Bude.
Aku hanya kesal Bude terus membicarakan Bapak yang sudah tiada. Saat masih ada, Bapak tidak terlihat. Saudaranya menjauh dan tidak pernah memuji Bapak. Lelahnya tidak dilihat hanya karena miskin, seolah miskin itu artinya tidak mau bekerja. Bapak sering sembunyi kalau kelaparan, kadang juga menjauh kalau tidak dapat uang. Bapak selalu diam. Jadi Bapak selalu diam di pojokan seraya menyeruput kopi yang kadang tanpa gula karena kehabisan, sambil menggosok meja buatannya yang entah siapa akan beli.
Saat Bapak ada uang, semua tentang kebutuhan. Bapak pun kembali di pojokan, menggosok mebel buatannya di sana sampai malam. Tidak ada yang melihat Bapak berusaha. Tidak ada yang melihat Bapak lelah. Semua hanya melihat kami miskin dan kekurangan.
Namun, sekarang semua tentang Bapak. Semua membicarakan kebaikan Bapak. Bapak sering membantu membersihkan masjid karena cuma beliau yang nganggur. Bapak giat ikut kegiatan desa. Bapak yang pendiam dan lugu, tidak banyak tingkah dan terkenal rendah hati. Ada hal yang paling membuatku kesal, saat orang-orang bilang Bapak orang yang bertanggung jawab dan gigih. Ke mana saja pujian itu selama ini? Saat Bapak tidak bisa mendengarnya lagi, mereka barulah memujinya. Andai Bapak bisa mendengarnya, pasti Bapak akan merasa bangga menjadi dirinya sendiri. Bapak pasti akan lebih menikmati hidup dan bersyukur. Tidak banyak tekanan dan merasa dihakimi hingga sakit-sakitan.
Benar apa yang dikatakan banyak orang, manusia mati meninggalkan nama. Bapak memang miskin, tidak ada yang dia tinggalkan selain kursi yang belum selesai dibuat. Bapak meninggalkan banyak kebaikan, itu sebabnya orang-orang hanya mengingat kebaikannya.
Kuusap pipiku menghapus sisa air mata. Menyadari tangisanku yang sia-sia. Seharusnya aku lega, mengetahui bahwa Bapak meninggalkan nama baik pada keluarga dan warga di sekitarnya. (*)
===
*Erniati Efendi. Gadis yang lahir di Banjarnegara. Penulis novel yang aktif di berbagai event dan memiliki saudara kembar.