9 Maret 2025
Kisah Lelaki Tua dari Gudang Hirang
Oleh Dionisius Agus Puguh Santosa*

Abah Sadikun, demikian orang-orang kerap menyapa lelaki tua itu. Tidak hanya di pasar, tetapi juga ketika menjumpainya di antara ruas jalanan kota tua berjuluk “Gudang Hirang”. Nama Abah Sadikun cukup terkenal.
Konon sejak ditinggal pergi oleh istri tercintanya sepuluh tahun silam, Abah Sadikun seperti orang yang hilang ingatan. Kadang dia tampak sibuk berjalan kesana-kemari menyusuri ruas jalanan yang itu-itu saja.
Semenjak itu, Abah Sadikun pun hampir-hampir tak pernah pulang lagi ke rumahnya. Sebuah rumah mewah berlantai tiga yang terletak tak jauh dari Pasar Rakyat Gudang Hirang.
Seekor kucing abu-abu terlihat selalu menemaninya kemana-mana. “Lupi”, demikian Abah Sadikun sering memanggil nama binatang kesayangannya ini.
Meski hampir-hampir tak pernah pulang ke rumah mewahnya, namun penampilan Abah Sadikun tetap terlihat besih dan rapi. Sebuah bintang tanda jasa sebagai seorang pejuang veteran senantiasa tersemat di kemejanya. Di masa lalu, dia seorang pejuang kemerdekaan yang pernah ditakuti oleh musuh-musuhnya.
Karena penampilannya yang selalu tampak rapi, orang-orang yang baru pertama kali menjumpainya hampir-hampir tak percaya ketika menyadari kenyataan bahwa Abah Sadikun telah hilang ingatan.
*****
Sore itu hujan baru saja reda, ketika Abah Sadikun selesai menyantap semangkok soto banjar hangat di sebuah kedai yang terletak di sudut Pasar Rakyat Gudang Hirang.
Acil Imah menyodorkan segelas teh “Gunung Satria” hangat kepada lelaki tua itu. Dengan bergegas Abah Sadikun meraih gelas tersebut. Aroma harum daun teh yang diseduh dengan air hangat begitu memanjakan indera penciumannya.
Sembari menikmati seteguk demi seteguk teh hangat, ingatan Abah Sadikun kembali melayang ke masa lalu. Wajah istrinya yang selalu tampil cantik dengan riasan sederhana dan pupur dingin, secara tiba-tiba muncul di pelupuk matanya.
Jika di pagi hari Abah Sadikun selalu menikmati sajian kopi hitam bermerk “Laba-laba”, maka di sore harinya sang istri pasti akan menyeduhkan segelas teh hangat untuknya, “Teh Gunung Satria” yang sudah terkenal keharumannya sejak dulu kala.
Sebelum menghabiskan sisa tehnya, Abah Sadikun mengeluarkan beberapa lembar pecahan lima ribu rupiah dari saku celananya. Harga untuk semangkok soto banjar dan segelas teh, seluruhnya genap limabelas ribu rupiah.
Acil Imah hanya tersenyum tipis menerima sodoran uang dari Abah Sadikun. Sejurus kemudian Acil Imah kembali disibukkan dengan aktivitas melayani para pembeli yang lumayan berjubel di kedai sotonya sore itu.
Setelah memperbaiki posisi topinya, Abah Sadikun bergegas pergi beranjak meninggalkan kedai tersebut. Langkah kedua kakinya mantap menyusuri trotoar di kawasan pasar. Kegagahan postur tubuhnya di masa silam masih terpancar.
Sebuah tempat yang ditujunya sore itu adalah salah satu tempat favoritnya di muka bumi ini, adalah “Komplek Makam Warga Gudang Hirang” – yang berlokasi tak jauh dari pasar itu. Di komplek makam inilah Abah Sadikun kerap mendatangi pusara mendiang istrinya.
Di langit semburat jingga kian lama kian meredup tergantikan oleh awan abu-abu, yang kemudian lambat laun berubah menjadi hitam dan gelap, yang mengambil alih suasana sebelumnya.
Pada salah satu pojok komplek makam, tampak Abah Sadikun terduduk dalam posisi bersimpuh di samping pusara istrinya, ditemani sebuah lentera tua yang nyala apinya bergoyang-goyang dimainkan embusan angin malam. Di pangkuannya tertidur si Lupi sejak tadi.
Tak jauh dari tempat itu terdapat sebuah pohon beringin tua, yang usianya mencapai ratusan tahun. Menurut kisah yang dituturkan secara turun-temurun, di masa perang kemerdekaan, pohon beringin itu menjadi “portal gaib” untuk masuk ke alam lain. Pintu yang selalu dituju oleh para gerilyawan untuk bersembunyi dan lari dari kejaran tentara Belanda. Dan pintu itu akan menghantarkan para pejuang menuju “Alam Roh”.
*****
Pagi baru saja terjelang tatkala sinar sang surya baru bertandang di ufuk timur. Titik-titik embun masih tampak menghiasi lembar dedaunan ilalang di kawasan makam tersebut.
Rupa-rupanya Abah Sadikun masih bertahan di tempat ini sejak malam tadi. Tersebab renta tubuhnya tak kuat lagi menahan dinginnya udara malam yang terasa begitu menusuk tulang, maka dia pun segera beranjak ke sebuah pos jaga yang terletak tak jauh dari pusara istrinya. Ketika itu waktu hampir lewat tengah malam.
Di pos jaga itulah Abah Sadikun membaringkan badannya dan segera tertidur demi menjemput kembali mimpi-mimpinya. Sementara si Lupi tertidur di dekat kakinya.
Dan pagi itu Abah Sadikun terbangun saat terdengar suara rintik hujan yang begitu riuh memukul-mukul atap pos jaga yang terbuat dari lembaran seng tua.
“Kletok, kletak, kletok…,” demikian kurang lebih bunyi curahan air hujan di atas atap bangunan tua – tempat Abah Sadikun bernaung.
Tentu tidak akan ada yang pernah menyangka, bahwa orang sekaya Abah Sadikun bersedia tidur di pos jaga yang penampakannya tak terawat itu. Apalagi jika orang-orang mengetahui bahwa Abah Sadikun memiliki gedung rumah berlantai tiga yang terbilang mewah di kota tua itu. Letaknya persis di kawasan Gudang Hirang.
Sedangkan fakta yang diketahui orang-orang selama ini hanyalah sosok Abah Sadikun, sebagai seorang lelaki tua yang selalu pergi kemana-mana bersama kucing kesayangannya.
Apalagi banyak orang meyakini, bahwa kondisi kejiwaan Abah Sadikun telah terganggu. Mereka menganggap Abah Sadikun tak lebih seorang lelaki tua yang berteman dengan masa lalunya.
Banjarmasin, 15 Februari 2025
===
*Dionisius Agus Puguh Santosa, SE, MM lahir di Blora, 24 November 1978. Lulusan S-1 Manajemen STIE Pancasetia Banjarmasin (2013) dan S-2 Magister Manajemen di kampus yang sama (2019). Sampai hari ini penulis telah menghasilkan berbagai tulisan dan artikel yang dimuat di media cetak maupun daring; sebagian tulisan telah dibukukan dalam bentuk antologi maupun solo. Peserta pernah menjadi 15 finalis terpilih Inkubator Literasi Pustaka Nasional 2022 Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan, dan peserta penulisan feature perjalanan bersama Duta Baca Indonesia 2024, yang diterbitkan dalam buku berjudul “Buhan Hanya Bekantan” terbitan Perpusnas Press. Penulis juga menekuni profesi sebagai editor dan penyunting buku, pengisi suara (voice over talent), konten kreator, dan blogger.