2 Maret 2025
Puisi-Puisi Ari Sakti Dwi Putra
Oleh Ari Sakti Dwi Putra*

Kontemplasi Tubuh
Di muka air kali
Dua tubuh saling menafsir
Meraba pokok waktu
sekalipun hari yang kulakoni adalah masa lawas yang ampas,
aku terus merambak di tapal sunyi nan waswas
Ada yang singset dalam penantian
Ada yang sungsang di puncak takdir nan cemas
Sepasang tubuh berpapasan di muka air kali,
sedang aku berpikir di simpang mana
penantian akan berakhir
Botani
Di sini, waktu meranggas begitu cepat
mengugurkan setiap jengkal dari peristiwa
Terang terus bersembunyi, entah takut pada siapa?
meninggalkan sederet rahasia
Sedang beratus-ratus derap langkah
terus memburu,
menyeret pada pelarian baru
Di sini, sapaan menjadi dogma tabu,
sebaliknya, diam serupa doa yang paling jitu
Melesat
Menembus ke daun waktu yang baru
Sudut Jendela
Di sudut jendela,
gemuruh mengantar pada batas mimpi di selatan
Di sudut jendela,
angin menjadi nyanyi bisu petualang yang memintal takdirnya lewat para penziarah nan linglung
Pada siapa pelukku akan mendarat?
Apakah padamu, yang gemar menari di depan cermin kamar mandi?
Semakin aku menjawab, semakin waktu bergegas ke selatan
Lagu Pejalan Sunyi
Kudendangkan sebuah lagu,
Lebih seksi dari musik dangdut
lagu tentang pelacur tanpa gincu
mati, di sebrang kali
tak ada doa yang mustajab,
atau air mata
Kudendangkan sebuah lagu
lebih tenang dari matahari senja
lagu tentang pak kusir dan kudanya yang lapar
kenyang cuman ada dalam mitos masa lalu
diciptakan lewat firman para perawi nan ulung
juga ada kebisingan klakson truk yang diburu waktu
Nikmati
Simpan
Dalam ingatan mu
Perebahan Terakhir
Bagaimana aku mencari mu?
Rahasia selalu datang mengajak bermain
Bagaimana aku memahami mu?
Semua orang selalu jawab dengan waktu
Aku menafsir mu lewat cemas
Di buru rahasia juga waktu
===
*Ari Sakti Dwi Putra, lahir di Tangerang, 1 Oktober 1996, adalah penulis naskah, sutradara, dan aktor. Ia meraih juara lomba baca puisi tingkat nasional, termasuk Piala Rendra (2016) dan Peksiminas (2018). Nominasi Aktor Terbaik Festival Drama Pendek Putu Wijaya (2018) dan Aktor Terbaik serta Pementasan Terbaik dalam Festival Dramatik Reading Kemdikbud (2021). Memulai perjalanan seni sejak SMA di Pondok Pesantren Sukamanah, ia kemudian aktif di Teater 28 Universitas Siliwangi, Legion 28, dan Beranda 57. Sebagai sutradara, ia menggarap berbagai pementasan, seperti Aktor Minor, Pada Suatu Hari, Akal Bulus Scapin, Prita Istri Kita, dan Annelies Mellema.Pada 2023, ia terlibat dalam Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA) dengan naskah Pohon Doa dan Antologi Eror.