LiteraSIP

20 April 2025

Para Penyewa Rumah

Oleh Muhammad Faisal Akbar*

 

 

Hanya manusia bertangan dinginlah yang sanggup menghadapi tantangan dalam usaha penyewaan rumah. Para pelakunya dituntut dalam beragam hal seperti mengkaji nilai sewa, melakukan pemeliharaan rutin agar tak terjadi kerusakan, menukar perabot yang hilang, hingga menagih tunggakan yang menggunung berbulan-bulan lamanya.

Di samping itu, menyewakan rumah juga berarti memaklumi adanya pertemuan sekaligus perpisahan, bahwa akan ada yang datang dan pergi. Pelaku usaha ini harus siap dengan orang-orang asing. Setidaknya, itulah yang aku rasakan setelah tujuh tahun berkecimpung di bisnis ini.

Aku sebelumnya bekerja sebagai pegawai pemerintah, tepatnya di bidang pengadaan. Bisa dibilang, karierku cukup cemerlang. Namun ada satu kebodohan masa lampau yang kini membuat hidupku pelik. Setelah reformasi, aku bangkrut lantaran tak mempunyai persiapan tabungan yang matang.

“Soal uang, kamu itu agak ceroboh,” ejek sejawatku berkali-kali, “atau katakan saja naif.”

Penataan finansial yang kumaksud di sini ialah mengumpulkan pundi-pundi setebal mungkin. Dan cara yang paling ampuh, sebagaimana yang dilancarkan para kolegaku dulu, adalah memainkan anggaran. Pada dasarnya, hasilnya menggiurkan: kepemilikan bisnis dan tanah yang menjamur, baik di tepian kota maupun desa leluhur.

Mereka kerap berseloroh, siapa yang dapat memprediksi keruntuhan sebuah rezim yang telah bercokol selama tiga dekade? Sehingga, mereka berulang kali menyarankanku untuk menimbun kekayaan sebanyak yang aku mampu agar bumi tak berputar secepat mengedipkan kelopak mata.

“Anggap saja uang itu sebagai upaya membuka lapangan kerja. Bisnis dijalankan secara profesional, kan?” ucap mereka.

Sayangnya, kesempatan itu telah sirna. Aku sudah kadung pensiun. Maka, sebagai ikhtiar terakhir, aku lantas mencoba peruntungan di bisnis properti dengan menggunakan rumahku sebagai satu-satunya harta yang tersisa. Sebagai mantan pejabat, rumah seluas empat ratus meter persegi ini toh bisa dibelah menjadi dua bagian. Tiga perempat untuk keluargaku, sementara selebihnya untuk para penyewa.

Strategi pemasarannya pun tergolong mudah. Harga rumah yang kian melangit menyebabkan permintaan rumah sewa berada di titik yang stabil. Orang-orang cenderung memilih untuk mengontrak daripada menghabiskan seumur hidupnya mencicil sepetak bangunan mati dengan gaji yang pas-pasan.

Untuk itu, demi kesinambungan profit, aku berusaha mempertajam kadar profesionalitasku dalam mengelola bisnis sebagaimana yang senantiasa ditekankan teman-temanku. Kendatipun begitu, aku tetap saja menemui beberapa kesulitan.

***

Ada kepercayaan yang menyebut bahwa bisnis tak ubahnya anak sendiri; mereka mengandung kisahnya masing-masing. Dan entah mengapa, aku sedikit banyak mengamini hal itu. Buktinya, aku masih dapat mengingat secara jelas segenap tetek bengek yang terjadi bahkan saat rumah ini untuk pertama kalinya disewa dua tahun penuh oleh sepasang suami istri yang baru saja menikah.

Lewat sebuah celah kecil di dinding pemisah rumah, aku seolah dapat merasakan petualangan rumah tangga belia itu. Tiap akhir pekan yang basah, misalnya, aku sayup-sayup mendengar desahan dan derit ranjang dari kamar mereka. Di lain waktu, bisa pula kunikmati pertengkaran yang diwarnai suara benda-benda kaca yang berjatuhan di lantai. Lalu setelah setahun, bisa kudengar lolongan bayi yang mengalun di sepanjang malam.

Sejujurnya, aku hendak menimbrung. Aku ingin sesekali menawarkan bantuan yang aku dapat melalui pernikahanku yang berusia hampir tiga dasawarsa ini. Namun aku sadar, aku harus bersikap profesional karena ini hanyalah bisnis semata. Uang adalah kunci.

***

Penyewa ketiga merupakan salah satu yang paling kukenang. Betapa pun menyebalkan tabiatnya karena sempat berupaya mengelabuiku, ia tetap berhak atas satu bilik di dalam memori. Bukankah kenangan terburuk adalah yang paling membekas dalam jiwa manusia?

Mulanya, seorang pria menghubungiku lewat ponsel, menanyakan ketersediaan rumah untuk disewa. Kami pun bernegosiasi ringan perihal fasilitas. Tak lama setelah aku bilang bahwa rumah bisa dihuni seminggu selepas renovasi, ia segera membayar uang muka. Dan dari situlah malapetaka berawal.

Setelah hampir dua bulan, penyewa itu jarang sekali memunculkan batang hidungnya. Ia hanya mengeluarkan mobil dari garasi di pagi hari, pulang setelah satu jam, lalu menggerendel pintu utama hingga malam tiba. Seiring berjalannya waktu, aku baru mengetahui bahwa si sialan itu menjadikan rumahku sebagai tempat pelacuran sekaligus petopan.

Perbuatannya itu kuketahui di suatu malam, ketika aku mengantarkan kudapan bikinan istriku. Pintu kuketuk tiga kali. Tak ada jawaban. Aku lantas mengintip lewat sela-sela tirai yang tersibak. Mataku terbelalak, menjurus ke arah sofa, di mana ada dua wanita telanjang sedang mengulum batang pria yang tak pernah kujumpai sebelumnya. Di seluruh temboknya pun terdapat peredam suara, sekat-sekat tripleks di ruang tengah, serta sebuah meja judi di sebelah teve.

Aku sebetulnya ingin sekali mengusir para begundal ini, menyeretnya langsung ke kantor polisi. Tapi aku harus menggenggam teguh prinsipku untuk bertindak profesional. Bisnis tetaplah bisnis. Lagi pula, penyewa inilah yang tak pernah menunggak, dan justru senantiasa melipatgandakan biaya sewanya tiap akhir tahun.

***

Musim silih berganti. Roda terus menggelinding. Bisnisku tambah setia meniupkan angin sejuk ke dalam brankas. Keuanganku berangsur membaik. Aku semakin memperlebar jarak dengan kemiskinan. Namun, kondisi ini kelihatannya akan menemui ujiannya tersendiri setelah penyewa terakhir itu tinggal di rumah sewaku.

Mereka sejatinya ramah, bahkan lebih santun jika dibandingkan dengan tetanggaku yang lain. Orang-orang itu gemar menyapa saat aku menjumput koran di pagar atau sekadar berbasa-basi ketika aku sedang bersantai di teras. Bila ada lawan jenis yang hendak bermalam, mereka pun selalu meminta izin. Setelah ditelusuri, para penyewa itu rupanya bekerja sebagai lembaga swadaya masyarakat.

Rasa penasaran lantas mendorongku lebih jauh. Bagaimana tidak? Dari semua penyewa yang pernah bermukim di situ, merekalah yang paling sering menerima tamu dengan wajah yang berbeda setiap harinya. Hampir tanpa jeda. Maka, melalui celah mungil di dinding pemisah itu, aku lagi-lagi usil menguping percakapan.

Pernah suatu waktu aku mendengar isak tangis perempuan usai mengadukan pelecehan yang dialaminya. Lalu, adakalanya aku menangkap pembicaraan sekelompok warga mengenai sengketa tanah. Yang teranyar, dan ini yang paling menggelisahkan, ada rombongan mahasiswa yang menggelar konsolidasi untuk mengadakan demonstrasi besar-besaran imbas dari situasi politik yang memanas.

“KKN bangsat!” tempik mereka seraya menggebrak meja.

Detik itu pula, entahlah, terbayang kawan-kawanku yang masih memegang kendali di sejumlah instansi negara. Ingin rasanya melaporkan peristiwa yang terjadi di samping rumahku ini kepada mereka. Tapi di sisi lain, aku juga ingin memberi tahu para penyewa itu bahwa pihak-pihak yang mereka lawan tak lain adalah sobatku sendiri.

Namun, seperti yang sudah-sudah, aku tetap berusaha untuk bersikap profesional. Sebab bagaimanapun, ini hanya masalah bisnis belaka. Tak lebih dari itu.

 

Depok / Desember 2024

 

===

*Muhammad Faisal Akbar lahir di Jakarta dan merupakan lulusan Hubungan Internasional yang menyukai sastra, komedi, dan sepak bola indah. Sejumlah karyanya terbit di berbagai media. Penulis dapat dijumpai melalui Instagram @icalbar.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *