20 April 2025
Puisi-Puisi M. Najibur Rohman
Oleh M. Najibur Rohman*

Sebuah Potret dari Taman Saigon
dalam gemetar yang belum tuntas
sebuah jerit datang dari utara
seperti isyarat yang menanti
dari arah gelap
di Ba Dhin sana, bayang-bayang terbelah dua
menyusuri dinding mausoleum
sebelum disatukan oleh bait revolusi
di musim gugur
langit jingga di atas katedral
menuntun sekawanan burung pemalu
memburu hening sarang
pada tepian ranting dan kembang
selepas pasar menguarkan hingar yang ganjil
kelakar tersimpan dalam peta
kecemasan bergerak perlahan
dari tepi jalan
di ambang pintu graha
Paman Ho menatap jiwa kota
menjaga madah janji
dan misteri angin raksi
semuanya adalah waktu yang menjadi
menyelamatkan kebahagiaan
untuk esok pagi.
Sepotong Roti di Brussel-Noord
sepotong wafel terlalu ringan
untuk meluncur ke perut
dalam dingin yang canggung
dimana siluet patung roda hitam beradu cepat
dengan matahari petang
pada lanskap biru pekat
dengung konvoi meresap
dalam mie instan yang juga kupesan
dan gelak tawa terdampar di langit-langit toko
setelah Les Diables Rouges
mencuri poin krusial dalam pertandingan
di barak bus,
perempuan muda menelusuri tas hitam
seperti merayapi palung dalam
yang belum terjamah oleh kasih sayang
dan taksi hitam
menerbangkan bungkus camilan
yang luput dimasukkan keranjang
perjalanan pulang setengah jalan
roti dan mie menumbuhkan buih ingatan
berbisik sepanjang sunyi pada sudut kenangan
yang terkadang ada terkadang hilang
sebab waktu tak tahu arah belakang
apakah kita mempunyai cukup kebahagiaan
setelah makan malam?
Paris
Lutetia adalah namamu
dalam diam Bastille
selepas samar serenade
dari seberang sungai
dentum meriam
langit bopeng
batalion bersorak
dalam kanvas
di puncak menara
sepenggal bunga dan pelana
beradu nasib bersama
gelora sepasang kekasih
ayam jantan berkokok
di gerbang basilika para Galia
kata-kata menjadi bayangan
merambat sepanjang jembatan tua
ketika salju hinggap
malam putih basah
selarik kalimat jatuh dari beranda:
“aku berpikir maka aku ada”. *)
______________________
*) diambil dari ungkapan terkenal Rene Descartes: cogito ergo sum.
Wat Arun
ketika hari di ambang zenith
dua penjaga masih tak bergeming di Wat Arun
menerima titah dengan gagah
dan bunga ungu tergeletak di altar
menjadi derma atas kegembiraan
yang tiada terbilang
seorang pangeran datang ke singgasana
menggantikan raja yang tiada
dan para pendoa berbaris
mengharap bintang yang sama
tiap kali kapal berbelok dari Chao Phraya
kilat emas meremas pagoda
mengirimkan pesan cinta untuk Ping dan Nan
sebelum berakhir bahagia di teluk selatan
sesekali hujan lebat berdentang
sebelum tetirah di ujung pembicaraan
keresahan lahir dari pundak sendiri
mengering bersama pelukan panjang
di luar gerbang sebuah kidung terekam
dalam geliat mega dan pasar
menghibur para pengembara
yang akan kembali lusa.
Kepada Desember
kepada Desember kau berkata
bulan sedang rindu
di pucuk malam
dan tembok jumud
seperti bungkus kecap
lonceng terpukul
detik berkarat
montase lenyap
terbang ke cakrawala
iklan diskon di gang-gang
meninggalkan bunyi lirih
seperti lokomotif tua
dan rintih pengelana
yang mungkin terjadi
adalah mimpi terluka
dan gumam rahasia
dari seorang ahli nujum
masih ada asa, barangkali
menyelinap dalam tabir
untuk merenggut jeri
yang tak perlu
bulan sembilu
menadah tubuh hari
bayang melankoli
dalam dingin puisi.
===
- Najibur Rohman, lahir di Rembang, 1986. Sesekali menulis puisi yang diterbitkan di media cetak dan daring serta terkumpul dalam antologi bersama, antara lain, Antologi Puisi Progo 9 (2024), Gambang Semarang (2020), Sesapa Mesra Selinting Cinta (2019), Jazirah 2 (2019) dan When the Days were Raining (2019). Puisinya jadi salah satu pemenang pilihan dalam Sayembara Cipta Puisi Payakumbuh Poetry Festival 2024. Bekerja dan bermukim di Semarang.