LiteraSIP

27 April 2025

Puisi-Puisi Riswo Mulyadi

Oleh Riswo Mulyadi*

 

 

Saat Hujan, Aku Menunggu

aku menunggumu
dengan sepenuh rasa yang tak bisa disebut rindu
di ujung senja basah hening-sunyi

karena tak pandai berkata-kata

kau tahu, hujan turun tiba-tiba
seperti cintaku yang datang melewati sela doa yang tak sempat usai
di lorong sunyi dalam dada

aku menunggumu
seperti bumi yang setia menanti matahari
meski tahu malam akan datang lagi

kau tak harus datang dengan kata-kata
karena cinta kadang tak butuh suara
hanya isyarat kecil di ujung mata

dan debar dada yang tak berirama

aku menunggumu
bersama secangkir kopi
dan buku yang tak pernah rampung kubaca
karena setiap kalimatnya mengingatkanku padamu

aku menunggumu
seperti daun yang jatuh diam-diam ke tanah
ia tak bertanya kapan angin kembali
ia hanya tahu, ia runtuh bersama waktu

maka datanglah
atau tidak sama sekali
aku tetap di sini

mencintaimu seperti doa yang tak pernah selesai

Cilangkap, 13 April 2025

 

Di Antara Diam
—dari seseorang yang tak bisa tidak mencintai

ada malam-malam di mana cinta tak tumbuh dari kata
melainkan dari diam yang menolak pulang

ia hadir sebagai jarak
yang tak bisa salahkan siapa-siapa
kita duduk berdampingan sibuk saling mendengarkan suara dalam dada
yang tak mampu diterjemahkan dalam kata-kata

aku ingin berkata bahwa mencintaimu adalah belajar menunggu
tanpa mengenal batas penantian

di matamu musim semi tak mau datang sepenuhnya
di dadaku ada taman yang terus menanti
tanpa pernah benar-benar tahu kapan bunga mekar

cinta kita seperti langit dan laut
saling menatap dari jauh berbagi warna
tapi tak bisa saling memeluk

hari-hari berlalu tanpa kata-kata
cinta tumbuh seperti rerumputan di sela batu
keras kepala dan tetap hijau meski hujan tak turun

Cilangkap, 13 April 2025

 

Lebur

malam ini, hujan tak sekadar jatuh
ia menyusup ke dalam rindu
menjadi zikir yang tak lagi butuh kata-kata

rindu seperti embun, turun tanpa suara
menyentuh daun paling sepi di ujung subuh

kau hadir bukan sebagai tubuh
adalah nyala kecil dalam gua paling gelap dalam diri

di hadapanmu segala bentuk hanyalah debu
dan aku adalah angin yang bersujud dalam gerak waktu

cinta bukan lagi pertemuan dua nama
melainkan leburnya dua aku dalam satu rahasia

maka ketika kau tiada aku tidak kehilangan apa pun
sebab cinta telah berjalan di dalam diriku.

Cilangkap, 10 April 2025

 

===

*Riswo Mulyadi, lahir di Banyumas tahun 1968, aktif menulis puisi dan geguritan bahasa Banyumasan. Kini aktif sebagai pendidik di MI Ma’arif NU 1 Cilangkap.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *