18 Mei 2025
KURSI GOYANG IBU KOTA:
LEGENDA PARA PEMINDAH HALUAN
Oleh Muhammad Bahrudin Chabib

Di tengah gemerlap gedung-gedung pencakar langit Ibu Kota, kursi goyang itu berdiri, tak terlihat oleh kebanyakan orang, namun sangat dirindukan oleh mereka yang tahu arti sebenarnya dari kekuasaan. Kursi itu bukan sekadar tempat untuk duduk, tetapi simbol dari semua yang dapat dibeli dan dijual—ideologi, prinsip, bahkan martabat. Kursi goyang ini adalah milik para pemindah haluan, mereka yang tahu cara bermain dalam permainan kotor politik yang terbuat dari transaksionalisme dan perubahan ideologi demi kekuasaan.
Sudah banyak orang yang duduk di sana, dan tak pernah ada yang bertahan dengan ideologi yang sama setelah beberapa tahun. Di ruang-ruang ber-AC yang mewah dan rapat-rapat tertutup yang penuh intrik, politisi-politisi ini berbicara dengan nada tenang namun berbahaya. Mereka tahu, kursi goyang adalah tujuan akhir, dan di sana mereka akan menemukan kenyamanan, meskipun dengan harga yang harus dibayar mahal.
Hari itu, dua politisi tengah duduk berhadapan di sebuah ruang pertemuan yang mewah. Ruangan itu dipenuhi dengan aroma kopi mahal, dan angin AC yang sejuk bertiup pelan, menambah ketenangan suasana. Politisi muda yang baru saja naik daun, dengan senyum licik di wajahnya, duduk dengan sikap yang penuh percaya diri. “Pak, saya rasa saatnya untuk kita berbicara lebih serius. Kursi goyang itu semakin dekat dengan kita,” katanya, matanya berkilat.
Politisi tua yang duduk di kursi goyang itu mengangguk pelan. Usianya sudah tak muda lagi, namun pengalaman politiknya begitu dalam. “Kau benar, Nak. Dunia terus berputar, dan kita harus terus mengikutinya. Kursi goyang ini bukan untuk mereka yang tetap kaku, tapi untuk yang tahu kapan harus berputar,” ujarnya, suaranya datar, tetapi penuh makna.
Politisi muda itu tersenyum lebar, menatap politisi tua itu dengan penuh harapan. “Saya siap untuk pindah haluan, Pak. Tidak ada lagi waktu untuk ideologi-ideologi yang sudah usang. Yang terpenting adalah duduk di kursi itu. Saya ingin jadi bagian dari permainan besar ini.”
Politisi tua itu menggoyangkan kursinya dengan pelan, suara kayu yang berderak seolah berbicara sendiri. “Jangan terburu-buru, Nak. Kau harus belajar, bahwa di sini, yang kita jual adalah prinsip. Kita bisa berubah sesuka hati, tapi yang kita dapatkan adalah kekuasaan. Ingat itu.”
Mereka berbicara lebih dalam tentang perjanjian-perjanjian yang akan dilakukan, tentang pengalihan dukungan politik, dan tentang perubahan arah yang menguntungkan. Semua itu demi satu tujuan: kursi goyang. Tidak ada tempat bagi mereka yang berpegang pada prinsip jika ingin tetap bertahan di permainan ini. Semua akan berubah, karena itulah yang dibutuhkan Ibu Kota. Setiap langkah mereka didorong oleh ambisi untuk menguasai kursi goyang itu, meski dengan mengorbankan apapun yang sebelumnya mereka yakini.
Beberapa minggu setelah pertemuan tersebut, politisi muda yang sebelumnya dikenal sebagai seorang reformis dan pejuang rakyat tiba-tiba mengumumkan peralihannya ke kubu yang berseberangan. Ia bergabung dengan partai yang dulu ia kritik habis-habisan, dan menyatakan bahwa perubahan haluan ideologi adalah hal yang wajar. “Saya melakukan ini untuk masa depan bangsa,” ujarnya dengan penuh keyakinan saat konferensi pers.
Rakyat marah. Di luar gedung parlemen, demonstrasi besar meletus. Aktivis yang dulu bersamanya merasakan pengkhianatan yang begitu mendalam. Mereka tidak percaya apa yang mereka dengar, karena politisi muda itu telah mengorbankan semua yang dulu ia perjuangkan. Namun, di dalam gedung, politisi-politisi itu tertawa, menikmati hasil dari permainan mereka. Mereka tahu bahwa kekuasaan adalah milik siapa yang bisa bergerak cepat dan tepat, bukan milik siapa yang bertahan pada prinsip.
Namun, seiring berjalannya waktu, sesuatu mulai terasa tidak beres. Para demonstran yang marah semakin keras, menuntut agar politisi muda itu mengembalikan keputusan yang telah ia ambil. Tapi politisi tua yang duduk di kursi goyang hanya melihat ini sebagai bagian dari proses. “Mereka akan lelah. Di sini, kita yang menentukan. Mereka hanya menonton,” katanya kepada politisi muda yang duduk di sampingnya.
Namun, di luar dugaan, ada sesuatu yang lebih besar sedang berjalan. Ketegangan di Ibu Kota semakin memuncak. Masyarakat mulai curiga. Mereka mulai bertanya-tanya, apakah perubahan haluan ini hanya sekadar permainan politik atau ada yang lebih dari itu? Sesuatu yang lebih gelap, lebih berbahaya.
Suatu malam, saat politisi muda itu kembali ke rumah setelah pertemuan tertutup lainnya, ia mendapat telepon yang mengubah segalanya. Di layar ponselnya, muncul nama yang tak asing—seorang oligarki yang sangat berpengaruh di Ibu Kota.
“Pak, ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda,” kata suara di telepon. “Anda pikir Anda sedang mengendalikan permainan ini, tetapi saya yang mengendalikan kursi goyang itu.”
Politisi muda terdiam sejenak. “Apa maksud Anda?”
Suara di telepon itu kembali terdengar, kali ini lebih tegas. “Selama ini, Anda hanya dijadikan boneka untuk melancarkan rencana kami. Anda mengira kursi goyang itu milik Anda, tapi sebenarnya, kursi goyang itu sudah lama menjadi milik kami. Kami yang menentukan siapa yang boleh duduk di sana, bukan Anda.”
Politisi muda itu merasa dunia seakan runtuh di sekitarnya. Selama ini, ia telah bermain dalam permainan yang lebih besar, dan kini ia menyadari bahwa ia hanyalah pion dalam skema yang jauh lebih jahat. Semua langkah yang ia ambil, semua perubahan haluan yang ia lakukan, hanyalah bagian dari rencana orang-orang di belakang layar—orang-orang yang benar-benar mengendalikan kursi goyang itu.
Di luar sana, demonstrasi semakin membesar. Rakyat kini tidak hanya marah, mereka merasa dibohongi. Tapi bagi politisi tua yang duduk di kursi goyang itu, semuanya sudah terlambat. Ia tahu, bahwa permainan ini tidak pernah benar-benar tentang siapa yang duduk di kursi goyang, tetapi siapa yang memegang tali yang menggerakkan kursi itu.
Kursi goyang itu terus berputar, dan siapa yang duduk di atasnya hanyalah bayangan dari kekuasaan yang sebenarnya.
===
Jika kau berhasil membaca tulisanku, apakah kau ingin mengenalku? Tidak ingin, tidak apa-apa. Aku seorang manusia yang suka kopi, suka saja. Seorang pria yang suka menulis, suka saja. Seorang pria yang tengah mencari nama pena dan sebuah judul. Itu aku.