11 Mei 2025
Puisi-Puisi Yuliyatul Unsiyah
Oleh Yuliyatul Unsiyah*

Sebuah Montase di Kazakhstan
Setelah sepasang tengkorak kepala meledak
tidak ada montase yang dibentuk menjadi bangkai
dalam beberapa kitab kutemukan pasase
tentang ruh yang ditiupkan di atas ubun-ubun,
kemudian mengembara menuju Kazakhstan
tempat 130 hunian dan artemisia.
Di Kazakhstan, kehidupan menolak runyam
lampion yang memeluk lazuardi
seluruhnya akan menjelma ayat-ayat puisi
tidak ada culas dan cemas,
di mana-mana nikmat aroma halwa
menyembur bungah dan tabah
yang berselimut potongan burdah.
Engkau dapat menyaksikan beberapa montase
amsal ukiran garis surealis yang menjelma spionase
atau coretan impresionisme yang menjanjikan
rasa gamang terbang bersama sekawan kumbang.
namun alkisah, tidak ada montase yang abadi
bagi penyair di hadapan sang dewi.
Madura, 2025
Satta
Aku hanya bisa mengandai-andai dan berusaha menepis kegelisahan yang terpencil dalam undakan sejarah. berharap segala mimpi buruk terbungkus di pangkal paha.
Mewakili apapun, bunga bunga bakung di kapel tidak kalah romantis dengan seikat mawar yang kau petik di keningku.
Kuberi tahu:
rasa kasihku sperti josephine kepada kekasihnya. bahkan melebihi itu. terlalu pengap memendam kecemasan yang dibentengi langit dan bumi. rupanya nasib punya rencana kejam untuk kembali padamu-padaku-pada kita.
Tapi janganlah menjadi pengecut. doa yang belum terkabul dalam dada, di atas nabastala, di antara surga dan neraka, berharap selalu dipuja dan dicinta. hingga dalam rahimku ada benih cahaya yang kau cipta bertahun-tahun lamanya.
Sumenep, 2025
Melankolis
Segera aku membaca kegelisahan
sebelum ia punah dari kosa kata
mumpung engkau benar-benar pergi
aku ingin izin menunaikan judi
lama sudah tidak bertaruh kepedihan
hingga detak jantung meminta dialamati.
Cerita sepanjang masa
tentang perawan dan perjaka
telah kau tubruk dengan bencana
api dan air menyulam rencana
bagai ibu dan si tiri
yang berkelana di atas reranting matahari.
Sejak aku tumbuh dewasa
sajak-sajak terinfeksi melankolia
nyaris dalam catatan undakan sejarah
tidak ada sesosok Laila atau Cleopatra
hanya Firaun yang bersembahyang
menghampar sajadah di atas kepala.
Sumenep, 2025
Ayat Misoginis
— Joan of Arc
Perempuan dan laki-laki
tercipta dari cipratan mani,
sewindu selepas itu
himne ditembangakan di antara
kabut yang beringsut.
Saat ketuban pecah, kantung seperti lembah
dipupuknya rasa tabah dengan dupa
yang dirangkai dari kitab heroik purba.
Tidak ada serangkaian ritus gadai balada
bagi hawa dan neraka di pundak-Nya
ayat-ayat ini telah ditakwil
saat sekepal tanah bermain petak-umpet
dari deru yang mendesah mencakar
punggung sepanjang zaman berdarah.
Sumenep, 2025
Zarathustra
Di hari-hari berkarat
aku melihatmu, Zarat
mengentakkan keadilan
menjadi spektrum kegelapan.
Di tanah Balkh,
bedil membidik jantungmu,
dengan duka paling gerhana.
Di sini, tidak ada keranda yang bersangkur baja
sebab legenda telah menjadi elegi
dalam kantung kitab suci.
Sedang bayang-bayang Chista
yang kau tunggalkan nyaris
menjadi berhala
dan butir air mata.
Kemudian, kau gurat nadimu
hingga meneteskan sepercik tirta amerta
yang mengekal dalam soneta.
Sesungguhnya, Zarat, kau sudah syahid
dalam liang elysium 2.500 tahun lamanya.
Kau pun menemui Ahura
di langit yang tak berwarna.
dan Chista melucuti pakaiannya seperti iluminasi
yang tak butuh pada tembang atau puisi
Sumenep, 2025
===
*Yuliyatul Unsiyah, lahir di Sumenep, 01 Januari 2003. Mahasiswa Universitas Annuqayah, Guluk-guluk Sumenep. Puisinya tersebar diberbagai media, lokal dan nasional. Anggota Forum Lingkar Pena (FLP). Aktif di komunitas Sanggar Sareang dan Teater Alfatihah.