LiteraSIP

11 Mei 2025

BECAK AYAH

Oleh Siti Anisah*

 

 

Apa yang bisa diceritakan dari sebuah becak? Kesulitan hidup, perjuangan keras, rasa kasihan? Jangan salah, ada banyak cerita lain yang bisa disampaikan dari sebuah becak, jika becak itu adalah becak ayahku.

Suatu hari, beliau memaksa mengantarku ke sekolah dengan mengendarai becak yang dikayuhnya dengan bangga. Ia ingin seluruh siswa sekolahku, melihat si siswi berprestasi yang menjadi langganan juara paralel ini, diantar oleh ayahnya yang menaiki becak.

Tapi berbeda dengan kebanggan ayahku, aku sama sekali tidak bangga. Aku malu sekali. Apalagi ayahku mengayuh becak dengan penuh aksi. Beberapa orang siswa dan guru melihat kami. Aku tak sempat melirik ekspresi mereka, karena terlalu sibuk dengan perasaanku sendiri. Rasa malu yang seolah tak tertahankan lagi. Aku malu karena ayahku memaksa mengantarkanku dengan menaiki becaknya, padahal ia sama sekali bukan tukang becak.

Ya, ayahku seorang wiraswasta sukses. Ia punya banyak karyawan. Usaha yang digelutinya adalah usaha pengolahan drum bekas. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan bidang transportasi, apalagi becak.

Ayahku mengayuh becak hanya sebagai hobi. Entahlah, ia memang orang yang sering berpikiran nyeleneh. Suatu ketika, ia tiba-tiba ingin memiliki becak. Sebagai seorang kaya, dengan mudah ia bisa mendapatkan keinginannya. Ketika pagi itu ia menginginkan becak, maka sore harinya ia telah mendapatkannya. Ia asyik mengayuh becak berkeliling kota. Bahkan ia rela mengantarkan penumpang, seolah ia adalah tukang becak yang sebenarnya.

Ada lagi kisah lain yang tidak kalah menyebalkan. Suatu sore, ayahku berkeliling kota dengan mengayuh becaknya. Tiba-tiba, seorang tukang becak lain menjejerinya. Tukang becak itu sudah tua. Ia tampak ngos-ngosan mengayuh becaknya yang tidak kalah tua.

“Tolong saya, Pak. Saya sedang membutuhkan uang untuk biaya sekolah anak saya,” kata Pak Tua itu memelas.

“Saya tidak bermaksud meminjam uang pada Bapak. Saya tahu kita sama-sama tukang becak. Penghasilan juga tidak seberapa, apalagi saat sepi begini,” lanjut Pak Tua itu.

Ia tidak tahu kalau ayahku jutawan.

“Lalu, apa yang bisa saya lakukan untuk menolong Bapak?” tanya ayahku.

“Begini, Pak. Saya akan menjual becak ini pada Bapak. Lalu setiap hari saya akan mengayuh becak ini dan mencari penumpang. Setiap sore saya akan ngasih setoran sama Bapak,” Pak Tua itu menjelaskan.

Tak butuh banyak pemikiran, Ayah langsung merogoh kantong dan menyerahkan beberapa lembar ratusan ribu pada Pak Tua itu. Pak Tua itu langsung sumringah. Berulang kali ia membungkuk mengucapkan terima kasih. Ia lalu berpamitan, dan itulah pertama dan terakhir kalinya ayah berjumpa dengannya. Ia kabur membawa becak dan uang Ayah yang diberikan dengan rasa simpati. Rasa simpati yang sering diberikan Ayah pada orang lain ketimbang pada keluarga sendiri.

Ibu seharusnya menjadi pihak yang paling dirugikan. Ia berhak untuk marah, karena uang itu tentu akan lebih berguna jika diberikan padanya. Tapi Ibu adalah orang paling legowo di dunia. Ia tidak terkejut dengan cerita Ayah tentang penipuan tukang becak yang dialaminya. Ibu adalah wanita berdikari. Sejak dulu ia terbiasa menghidupi diri sendiri serta anak dan suami. Karena itu, ia tidak marah mendengar cerita Ayah.

Sebaliknya, yang marah-marah justru Ayah. Dan anehnya, ia bukan marah karena tertipu, atau marah pada tukang becak itu. Ayah marah pada Ibu. Karena hal lain yang tidak ada kaitannya dengan perbecakan. Entahlah, aku tidak tahu. Yang kutahu, Ayah memang sering uring-uringan dan marah tanpa sebab yang jelas, sifat yang juga menurun padaku. Hari itu Ayah sangat jengkel, lalu pergi dari rumah dengan mengayuh becaknya. Sampai larut malam, ia tidak pulang. Karena sudah terbiasa dengan tabiat Ayah, Ibu tidak gelisah.

“Nanti kalau sudah reda marahnya, pasti ayahmu pulang sendiri,” begitu kata Ibu.

Benar juga. Di pagi hari ketiga, Ayah pulang ke rumah. Wajahnya tampak kusut, mungkin terlalu sering tidur di luar dan terkena angin malam. Tapi ia tidak menunjukkan raut perdamaian. Dengan sombong, ia justru membuka dompet di depan Ibu.

“Lihat! Pergi dari rumah sebentar saja, aku bisa dapat uang segini banyak dari mengayuh becak,” kata Ayah pongah.

Ibu melirik beberapa lembar uang dalam dompet itu, tapi ia diam saja.

Tak lama kemudian, datang seorang petugas berseragam. Ayah langsung menyambutnya, dan tak lama kemudian keduanya telah terlibat obrolan seru. Ibu pun meninggalkan mereka.

“Bu, tadi ada petugas, katanya petugas PLN. Ia mengatakan bahwa kita memenangkan undian perbaikan instalasi listrik. Instalasi listrik kita akan diperbaiki dengan biaya didiskon 50%. Kita tinggal membayar 50% saja. Ayah sudah membayarnya dengan uang Ayah hasil menarik becak. Ibu harus ganti dengan uang modal usaha kita,” kata Ayah.

Dengan santai, Ibu pun menjawab.

“Nanti kalau petugas itu datang lagi untuk memperbaiki instalasi listrik kita, maka Ibu akan mengganti uang Ayah.”

Ayah terpaksa bersabar menunggu. Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, bahkan hingga bulan berganti, petugas itu tidak pernah kembali lagi. Ternyata ia adalah petugas palsu, dan Ayah sekali lagi tertipu.

Dan kisah penutup rangkaian cerita becak Ayah, adalah kisah berikut ini. Suatu hari, tiba-tiba datang seorang lelaki lusuh ke rumah kami. Ia memohon pada Ayah agar diberikan pekerjaan. Ia berasal dari desa, dan pergi merantau untuk mencari kerja. Tapi ia tidak mendapatkannya. Sekarang ia sudah kehabisan uang. Ayahku yang berhati lugu, langsung menerima orang itu menjadi pekerjanya.

Awalnya, pekerjaan orang itu cukup baik. Lalu suatu ketika, ia meminta pada Ayah agar diijinkan mengayuh becak Ayah di sore hari untuk mencari tambahan penghasilan. Ayah mengijinkan. Beberapa hari kemudian, setiap sore orang itu mengayuh becak Ayah dan mencari penumpang.

Namun suatu hari, orang itu tidak kembali lagi. Ayah merasa cemas, bukan cemas pada becaknya, tapi cemas pada pekerjanya itu. Jangan-jangan terjadi sesuatu pada orang itu? Mungkin ia mengalami kecelakaan? Mungkin ia tertangkap razia? Beberapa hari Ayah berusaha mencari kabarnya.

Dan suatu ketika, Ayah melihat seseorang mengayuh becaknya. Ayah sangat mengenal becak itu, karena itu adalah becak yang sangat disayanginya. Tapi anehnya, pengendaranya bukan pekerja Ayah. Tapi orang lain.

“Pak, becak ini milik Bapak, ya?” tanya Ayah ramah.

“Iya benar. Saya baru saja membelinya,” jawab orang itu.

“Bolehkah saya tahu, siapa yang menjual becak ini?” tanya Ayah.

“Oh, namanya Pak Samaji. Dia hidup merantau, tidak punya uang untuk balik kampung. Saya sangat kasihan padanya. Akhirnya saya membeli becaknya,” orang itu menjelaskan.

Dan berakhirlah kisah becak Ayah. Ia tertipu lagi. Dan kini ia tidak punya becak lagi yang penuh tragedi.

 

–Selesai–

 

===

*Siti Anisah adalah penulis yang berasal dari Ponorogo, Jawa Timur. Ia adalah sarjana lulusan Kimia, Universitas Negeri Malang, Program Studi Pendidikan. Ia memiliki hobi menulis. Ia menulis banyak cerita yang dimuat di berbagai majalah anak serta remaja. Cerpen sains karyanya yang berjudul “2031 Madsquare,” dinobatkan sebagai pemenang pertama Lomba Cerpen MIPA Expo UGM. Ia juga menulis buku-buku anak yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit nasional.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *