4 Mei 2025
Puisi – Puisi Apriansyah Sang Puisi
Oleh Apriansyah Sang Puisi*

Di Antara Deru Sepatu dan Senyap Kenangan
Kau ingat, barangkali, pagi yang tak terlalu pagi di stasiun Gare du Nord,
di mana langkah-langkah manusia menjadi irama mekanis
—seperti orkestra kereta yang tak mengenal istirahat—
dan kita berdiri di tengah hiruk-pikuk dunia yang bergerak cepat
sementara waktu di hati kita enggan bergeser.
Ada dentang jam tua dari menara St. Pancras yang masih mengusung nostalgia imperium,
dan di sanalah, di antara koper-koper yang menggelinding
dan bau croissant hangat yang baru keluar dari oven Parisian,
kau bicara padaku tentang keinginanmu menjadi prajurit,
dengan mata yang jauh menatap ke masa depan
seperti wisatawan memandang langit Florence dari balkon Uffizi—
penuh harap, tapi tahu bahwa tak semua keindahan bisa dibawa pulang.
Kita pernah melewati hari-hari di jalanan berbatu Vienna,
di mana setiap bangunan memanggul sejarah,
dan kita duduk di kafe kecil—Cafe Central—tempat Trotsky dulu menulis,
kau bicara tentang dunia yang ingin kau jaga
sementara aku hanya berpikir tentang bagaimana menjaga pertemanan kita
yang tak mungkin dipertahankan oleh sekadar janji.
Di sana, di sela denting sendok pada gelas kaca
dan suara pelayan memanggil dengan aksen yang penuh disiplin,
kau menyusun impianmu seperti barisan parade di Champs-Élysées,
rapi, gagah, dan tak peduli pada arah angin.
Sementara aku, diam-diam mencatat dalam kepala
betapa pertemanan kita terasa seperti pasar malam di Barcelona:
meriah, penuh lampu, tapi akan selalu berakhir
dengan satu per satu stan ditutup tanpa peringatan.
Lalu kau pergi.
Tak dengan tangisan,
tak dengan pelukan,
hanya dengan sorot mata yang tiba-tiba terasa seperti langit London—
berawan, tapi tak juga hujan.
Kini kau mengenakan seragam—warna zaitun
yang tampak begitu kontras dengan warna musim semi di Strasbourg,
dan entah di mana kau bertugas:
di garis perbatasan yang tak kutahu,
di tanah lapang tempat suara tembakan menggantikan suara Mozart.
Dan aku masih di sini,
duduk di pojok kafe Roma yang menyuguhkan espresso terlalu pahit
dan kenangan yang terlalu manis,
menatap gelas kosong di hadapanku
seperti jendela kereta yang tak pernah terbuka—
menyimpan bayangmu,
seperti toko buku tua di Budapest menyimpan buku-buku yang tak lagi dibaca.
Kawan,
kau tahu, persahabatan bukan tentang seberapa sering kita bicara,
tapi tentang bagaimana senyap yang kita miliki
tak pernah terasa sepi.
Kau mungkin dikelilingi suara peluit, sepatu berat, dan perintah tegas,
tapi di suatu sudut benakmu,
aku berharap masih ada suara gelak kita
yang dulu melayang di udara Praha,
di antara jembatan Charles dan riak Vltava,
ketika dunia belum terlalu serius,
dan kita belum terlalu dewasa.
Dan jika nanti kau kembali—
mungkin di musim gugur,
mungkin saat daun-daun di Munich gugur seperti luka yang dilepas pelan—
kita akan kembali duduk,
mungkin tak bicara banyak,
tapi saling tahu:
meski waktu memisahkan langkah,
kita masih saling berjalan
dalam kenangan yang tak bisa dibatalkan.
Seperti jam di Basel yang terus berdetak,
meski kereta tak selalu datang tepat waktu.
Pagar Alam, April 2025
Catatan dari Kota yang Lupa Tidur
Malam di Jakarta tidak hitam. Ia abu-abu:
warna dari sisa napas knalpot dan janji yang digulung spanduk.
Dan jalanan—seperti seorang lelaki tua—terus bercerita,
padahal tak ada yang mendengarkan.
Di lampu merah, waktu berdiri.
Sementara kita duduk dalam mobil yang diam,
pikiran terus melaju—menuju sesuatu
yang bahkan tidak kita kenali.
Siapa yang pertama kali memanggil ini “kehidupan”?
Seseorang yang mencintai peluh? Atau
seseorang yang takut pada sunyi?
Kota ini dipenuhi pertanyaan
yang tak sempat dijawab karena orang-orangnya terburu waktu.
Tiap pagi, kita bangun untuk sesuatu
yang malam tadi gagal kita temukan.
Di perempatan Senayan,
seorang gelandangan menatap langit:
mungkin mencari Tuhan,
atau sekadar menghitung kabel listrik
yang kusut seperti pikiran kita.
Dan harapan?
Mungkin itu yang tersembunyi di balik kaca kantor lantai 17—
tempat seseorang menulis laporan,
sambil diam-diam memimpikan laut.
Jakarta tidak punya jantung.
Yang ada hanyalah mesin—berdetak dengan gaji bulanan
dan alarm jam 6 pagi. Tapi masih ada yang menggambar bintang
di belakang truk penuh debu.
Dan entah mengapa,
itu cukup. Sebab kota ini,
tak pernah benar-benar hidup,
tapi juga tak pernah betul-betul mati.
Jakarta, 6 April 2025
Di mana Letak Ayah Menyembunyikan Waktu?
Ayah pergi seperti senja yang tidak lagi kembali menjadi pagi. Tidak ada isyarat, hanya udara yang tiba-tiba jadi ringan, seolah sesuatu—atau seseorang—telah diangkat dari dunia. Kami tak sempat bicara banyak, kecuali beberapa kalimat yang biasa-biasa saja. Seperti cuaca, atau harga beras. Tapi mungkin memang begitu cara cinta laki-laki bekerja: sunyi, padat, dan tak pernah selesai dijelaskan.
Kini aku berjalan di rumah yang telah kehilangan satu arah mata angin. Ruang makan tetap di situ, dengan kursi kayu yang satu sisinya kosong. Dan tiap malam, aku duduk di depan meja tua itu, menyentuh cangkir teh yang tak lagi diisi siapa-siapa. Waktu, tampaknya punya kebiasaan buruk: ia terus bergerak maju, meski kita masih tertinggal di percakapan yang tidak selesai.
Aku belajar, bahwa duka bukan tentang air mata, tapi tentang tak tahu harus bicara kepada siapa, saat tiba-tiba ingin bercerita tentang sesuatu yang kecil. Tentang pohon mangga di pekarangan yang mulai berbuah, atau tentang rasa lelah yang tak bisa dijelaskan kepada dunia. Sebab hanya ayah yang tahu bagaimana caraku diam. Dan sekarang, ia tidak ada.
Kadang, aku berpikir: ke manakah perginya orang-orang yang kita cintai setelah mereka meninggalkan bumi? Apakah mereka menjadi angin? Menyusup ke ruang-ruang hening dan berbisik dalam bentuk kerinduan? Atau menjadi waktu itu sendiri—tak terlihat, tapi menentukan segalanya?
Di antara banyak malam yang membeku, aku mulai menulis surat yang tak kutujukan ke mana-mana. Kepada Ayah, mungkin. Atau kepada diriku yang tak bisa menerima kehilangan dengan utuh. Surat-surat itu tidak memiliki alamat, dan tidak akan pernah dijawab. Tapi mereka membuat sepi itu menjadi lebih manusiawi.
Karena sesungguhnya, kehilangan bukanlah akhir. Ia hanyalah bentuk lain dari menyimpan. Dan ayah, mungkin kini tersimpan di tempat yang tidak bernama—di dalam kepalaku, di antara sunyi, di bawah bantal, atau di cara aku memperlakukan anak-anakku nanti. Dengan sabar. Dengan tidak banyak kata. Dengan cinta yang tidak memaksa dikenali.
Dan malam-malam ini,
aku masih mencarinya.
Bukan untuk membawa pulang,
tapi untuk belajar pergi
dengan cara yang utuh.
Pagar Alam, April 2025
===
*Apriansyah Sang Puisi, adalah nama pena dari Apriansyah, S.Pd penulis kelahiran Kota Pagaralam 24 November ini merupakan guru matematika di MTs GUPPI Pagaralam dan anggota Rumah Sastra Pagar Alam.