LiteraSIP

22 Januari 2023

Perempuan yang Hanya Bisa Mencium Bau Telur Rebus

Oleh : Dian Chandra*

 

Mulanya, perempuan itu sangat senang mencium berbagai aroma yang ke luar dari toko kue. Kadang ia rela bolak-balik melewati toko kue yang bernaung di bawah atap mall ternama. Kadang ia membeli kue atau roti yang baunya enak. Kadang-kadang ia tak membeli sama sekali, hanya sekadar menghirup aroma yang ke luar dari balik kemasan roti.

Aroma kesukaannya adalah vanilla bercampur coklat dengan sedikit bubuk kayu manis. Ia juga menyukai aroma sedikit hangus pada roti yang baru ke luar dari panggangannya.

Suatu pagi, lain cerita yang ia temui. Perempuan berambut potongan bob itu mendadak tak dapat mencium bau apapun selain bau telur rebus.

Dicobanya mencium aroma yang ke luar dari sarapan paginya, berupa ikan jebung panggang. Bukan bau amis khas ikan yang dapat ia cium, melainkan bau telur rebus.

Dicobanya lagi untuk mencium bau makanan yang ada di atas meja makannya. Kali ini ia mencoba untuk menghirup aroma selai kacang. Nihil, bau telur rebus masih menggelayut di hidungnya.

Perempuan yang hidup sendirian itu mencoba untuk menarik napasnya dengan sesantai mungkin, setenang yang ia bisa. Lalu pelan-pelan ia dekatkan penciumannya pada ketiaknya.

Voila! Bau telur rebus!” gumamnya.

***

Suatu ketika di hari ketiga, perempuan berdarah ningrat itu merasakan hal yang berbeda pada lidahnya. Seakan saraf perasa di lidahnya tak dapat berfungsi. Ya, meski tidak sepenuhnya.

Dimasukkannya sepotong kue beraroma nanas ke dalam mulutnya. Seketika lidahnya menyambut dengan antusias, bergoyang-goyang di balik bibir merahnya. Namun, hingga potongan kue berwarna coklat itu lenyap seluruhnya menuju tenggorokan dan perut rampingnya, tak dapat ia nikmati rasa dari kue yang dijanjikan oleh si pemilik toko kue.

Dicobanya lagi pada makanan lainnya. Kali ini ia mengunyah sepotong penuh daging kambing. Ia makan dengan perlahan-lahan. Berusaha menikmati setiap rasa yang harusnya melimpah ruah di dalam mulutnya. Namun, lagi-lagi hanya satu rasa yang tertinggal. Rasa yang tidak seharusnya ada pada sepotong daging kambing, tidak pula pada sepotong kue beraroma nanas.

Penasaran, dicobanyalah lagi.

Segera saja ia merebus air hingga mendidih. Lalu menuangkannya pada gelas yang berisi mie instant mentah. Tertulis “Ramen Instans Spesial Rasa Tom Yum“.

Dengan liur yang hampir menetes ia keluarkan bumbu-bumbu yang tersedia. Lalu ia rekatkan kembali gelas mie instant tadi. Menunggu matang sekitar tiga menit lagi.

Mie ramen pun siap diseruput hingga ke kuah-kuahnya. Begitu pikir perempuan muda itu. Tangannya cekatan menyuapkan ramen yang kelihatan begitu menggiurkan itu. Sayang, tak ada rasa ramen tom yum dalam segelas ramen instant itu. Perempuan berbadan mungil itu pun menyudahi ritual makannya dengan perasaan kecewa.

“Bagaimana bisa sekarang lidahku tak dapat merasakan apapun, selain rasa telur rebus?” geramnya.

“Kemaren aroma telur rebus, sekarang rasa telur rebus. Mungkin lusa aku hanya melihat telur rebus!” rutuknya. Kesal sekaligus bingung.

“Tapi, aku yoo, pengen ketawa jadinya!” Ia pun tertawa keras hingga perutnya terasa kram.

***

Hujan semalam begitu lebatnya. Paginya menyisakan beberapa kubangan air, dan tentunya aroma selepas hujan. Perempuan yang hanya bisa mencium bau telur itu bangun pagi jauh lebih cepat dari hari-hari sebelumnya. Sengaja. Sebab ia memang ingin menguji hidung mancungnya. Apakah masih berfungsi ataukah masih beraroma telur rebus?

Dengan mengenakan cardigan rajut berwarna merah muda, ia keluar dari rumahnya. Tak jauh dari rumahnya memang terdapat taman kecil, tempat orang-orang melakukan berbagai kegiatannya. Banyak dari mereka terlihat sedang berolahraga ringan, semacam lari-lari kecil, dan yoga. Ada pula yang memang sengaja datang sepagi ini hanya untuk menenangkan pikiran. Pun jarang ada yang datang hanya untuk menguji fungsi hidungnya, seperti yang dilakukan oleh perempuan tadi.

Tatkala perempuan itu tiba di taman, seharusnya ia disambut oleh wangi segar aneka bunga dan sejuknya air yang berjatuhan dari balik dedaunan. Pun harusnya ia dapat merasakan segarnya aroma tanah selepas hujan semalam.

Namun, hingga siang menjelang dan mengeringkan air di balik dedaunan, perempuan itu hanya mencium bau telur rebus. Lagi-lagi telur rebus.

Menyerah. Tentu saja ia ingin. Hanya saja, haruskah ia membiarkan hidupnya hanya dapat mencium dan menikmati rasa: telur rebus.

Ahh, seharusnya ia tak boleh menyerah begitu saja.

Bahkan ia belum ke dokter, apalagi bertanya secara anonim di beberapa media online.

Mendadak semangatnya muncul. Lekas ia kembali ke rumahnya untuk berganti baju dan sarapan terlebih dahulu.

***

Malamnya, selepas kunjungan ke dokter spesialis, perempuan itu merasa harapan untuk hidup normal telah terbit kembali. Ia membayangkan dapat berjalan-jalan ke beberapa toko roti, lalu menyesap aromanya dengan tenang dan santai.

Sungguh tak sabar ia.

Malam kian larut. Rumah bergaya klasik peninggalan kakeknya itu tampak suram dan seram. Terlebih penghuninya hanya perempuan itu seorang. Kadang-kadang ada pula Bu Ote yang kerap datang untuk membantu bersih-bersih di akhir minggu. Selebihnya, perempuan itu benar-benar sendirian. Ia seorang yatim piatu, sudah sejak sepuluh tahun yang lalu, sedang umurnya sudah tiga puluh di tahun ini. Ia bahkan belum memiliki kekasih.  Temannya hanya ada beberapa. Itu pun sudah sibuk masing-masing dengan berbagai aktivitas dan keluarga baru.

***

Waktu berjalan sungguh cepat. Perempuan itu pun mulai jenuh. Jenuh terhadap telur rebus, jenuh hidup dalam kesunyian di dalam rumah tua itu.

Tadi pagi ia kembali ke klinik dokter. Obat yang seminggu telah ia minum, nyatanya tak membuahkan hasil barang sedikit pun.

Perempuan itu mulai muak dengan aroma dan rasa telur rebus. Namun, ia masih bersyukur tak mendapat penglihatan yang aneh-aneh, misalnya berupa hamparan telur rebus. Tentu itu akan menjadi mimpi buruknya.

Dokter tua bernama dr. Adrian itu tampak mengernyitkan dahi. Jelas sekali ia berpikir keras. Dipandanginya wajah perempuan muda di hadapannya dengan penuh selidik. Sepertinya ia menemukan penyebab dari permasalahan telur rebus si pasien.

“Kamu stres, ya?” todong dr. Adrian. Perempuan itu pun terkejut setengah mati. Tak menyangka akan mendapat pertanyaan semacam itu dari mulut seorang dokter.

Perempuan itu pun mulai berpikir dan menimbang-nimbang, benarkah ia mengalami stres?

“Jika demikian, saya sarankan kamu untuk berkonsultasi dengan seorang psikolog. Jangan khawatir! Pergi ke psikolog tidak akan membuat kamu dianggap gila, tetapi lebih bertujuan membahas masalahmu, lalu menemukan solusinya sesuai versimu,” urai dr. Adrian, membuat si pasien perempuan di hadapannya terpaksa mengangguk dengan lemas.

***

“Coba kamu nikmati hidupmu. Jangan terlalu tegang. Mungkin bila kamu memiliki uang lebih, kamu bisa pergi ke suatu tempat untuk menyegarkan pikiranmu. Selain itu juga melatih kembali dua indramu yang sempat hilang itu. Jika tidak, maka berkebunlah, nikmati musik favorit, atau sekadar membaca buku dan menonton film kesukaan!” tutur sang Psikolog, tatkala usai berdiskusi dengan perempuan itu.

Lagi-lagi perempuan itu hanya mengangguk. Kali ini anggukannya jauh lebih bertenaga. Nampaknya diskusi permasalahannya dengan si psikolog berjalan lancar. Kini hatinya jauh lebih lapang. Ia pun memilah-milah kegiatan apa yang lebih membuat hatinya tenang dan senang.

Akhirnya, ia memilih untuk berkelana dari satu daerah ke daerah lainnya. Agar tak hanya dua indranya saja yang kembali, tapi juga agar indra-indra lainnya menjadi jauh lebih peka.

Kehidupannya akan jauh lebih bebas. Tak terkurung dalam sunyi lagi. Seluruh indranya akan bersetuju dengannya.

Kelak ia akan bebas mengecap, mencium, meraba, melihat, dan mendengar. (*)

 

===

*Dian Chandra adalah nama pena dari Hardianti, S.Hum.,M.Hum. Ia mengajar sebagai tutor PKBM GEMAR, di Toboali, Bangka Selatan. Telah menetaskan karya berupa satu novel solo dan lima buku kumpulan puisi

 

4 thoughts on “Perempuan yang Hanya Bisa Mencium Bau Telur Rebus”

  1. Bagus ceritanya aku suka. Mengkonsumi apapun itu haruslah sewajarnya hingga tidak terjadi efek samping. Setiap pagi hidungnya dipaksa untuk mencium aroma kue yang ia suka hingga Indra perasa pun lemah dan sakit.

  2. Pingback: Ruang LiteraSIP edisi 22 Januari 2022 - SIP Publishing

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *