LiteraSIP

31 Agustus 2025

Malam di Meja Biliar

Oleh Dwi Indah Prasetyowati*

 

 

Entah pukul berapa, kala itu aku memutuskan untuk meninggalkan kantor. Sebagai redaktur di media massa, bekerja hingga larut sudah menjadi kebiasaan. Malam itu  berbeda dari malam-malam biasanya, ada dorongan aneh untuk berkendara menikmati malam.

Kukendarai motor besar tanpa tujuan, membiarkan angin malam menerpa wajahku. Jalanan sudah  sepi dan lengang, hanya diterangi lampu-lampu jalan yang mulai redup, terlihat beberapa kendaraan melintas. Saat hampir berbelok, mataku menangkap cahaya neon hijau di kejauhan. Oh kuingat benar disana ada sebuah tempat biliar. Roda motor ini engan berbelok menuju arah rumahku, terus bergerak menuju ke tempat biliar itu.

Aku berhenti di depan café n billiard, nampak sepi, kuparkir motor, lalu melangkah masuk, di dalam suasana ruangan  remang-remang, warna lampu warna-warni dengan beberapa meja biliar berjejer rapi. Terlihat beberapa orang tampak bermain, tapi suasananya terasa sunyi. Kuterus melangkahkan kaki ke ujung ruangan, mencari meja biliar yang tak dipakai, aku tertarik untuk bermain sebentar menghibur diri.

Saat mencari stik biliar, kutersadar bahwa tempat ini terasa semakin sepi,  suara-suara yang tadi kudenar menghilang begitu saja.

“Cari stik ?” Aku menoleh, suara lembut tapi dingin menyapaku. Seorang perempuan berdiri di hadapanku,  bergaun ungu yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya panjang tergerai, kulitnya pucat, dan matanya menatap sayu tajam.

“Iya,” jawabku singkat.

Dia tersenyum samar, menyerahkan salah satu stik padaku, sambil berkata. “Mau bermain?”

Ragu sejenak, tapi.. akhirnya aku mengangguk dan bertanya “Kamu nggak main dengan temanmu?”

Dia menggeleng. “Aku lebih suka bermain dengan orang baru,” ucapnya.

Aku memang tidak pernah datang kemari, bermain biliar pun sesekali di rumah bosku yang tajir melintir.

Kami mulai bermain, gerakan perempuan itu  luwes, setiap pukulannya nyaris sempurna. Dibalik itu semua ada sesuatu yang menggangguku, setiap kali dia bergerak, hawa dingin mengalir di sekelilingku.

“Sering main di sini?” tanyaku, mencoba mengabaikan perasaan tidak nyaman itu.

Dia tersenyum kecil. “Cukup lama, aku sering main di sini, terutama malam-malam begini.” Jawabnya datar.

Aku mengangguk, berpura-pura fokus pada permainan, tapi semakin lama, semakin banyak hal ganjil yang kusadari, langkahnya terlalu sunyi, seolah-olah dia melayang, lebih aneh lagi, ruangan ini terasa kosong. Orang-orang yang tadi kulihat sudah tidak ada lagi, semakin merinding aku.

Saat aku membidik bola terakhir, sesuatu yang mustahil terjadi, bola-bola yang sudah masuk ke dalam lubang tiba-tiba kembali ke atas meja,  tak ada sentuhan, bulu halusku mulai berdiri, menambah detak jantung ini semakin kencang.

Aku menoleh padanya, dia tersenyum. “Bagus, kan? Permainan ini bisa diulang terus-menerus,” ucapnya dengan senyuman sedikit mengoda.

Tubuhku menegang, ada sesuatu yang menggelitik naluriku… sesuatu yang tidak wajar. Wajahnya kutatap lebih lama, dan saat itulah aku melihat perubahan yang sangat mengerikan. Bedak dan perona pipi di wajahnya memudar, matanya semakin kosong, dan warna kulitnya berubah kebiruan, seperti tubuh yang telah lama membeku.

Aku menelan ludah, mencoba tetap tenang. Sambil bertanya dengan suara bergetar “Apa kamu…?”

Dia hanya tersenyum lebar, lebih lebar dari seharusnya, menambah ketakutanku. “Aku sudah lama di sini. Aku suka menemani orang bermain biliar,” ucapnya dengan suara yang lebih besar.

Keringat dingin mengalir di pelipisku, aku mundur perlahan, namun kakiku terasa berat, seolah ada sesuatu yang menahanku.

“Jangan buru-buru pergi,” katanya dengan suara yang kini terdengar seperti bisikan dingin.

“Aku belum selesai bermain,” ucapnya lagi menahanku pergi.

Aku berusaha menggerakkan tubuh, memaksa kaki untuk melangkah. Bersyukur dapat kugerakan kakiku dengan cepat, kuletakkan stik biliar di atas meja dan berlari ke arah pintu. Sekilas aku menoleh, dia masih berdiri di sana, melambaikan tangan dengan senyuman yang tak lagi  ramah.

Begitu keluar, aku buru-buru menyalakan motor dan melaju secepat mungkin, menjauh dari tempat itu.

Di perjalanan, pikiranku kalut. Semuanya terasa nyata, tapi ada begitu banyak hal yang tak masuk akal.

Setibanya di rumah, aku tidak bisa langsung tidur. Rasa penasaran membawaku mencari informasi tentang tempat biliar itu. Beberapa artikel lama muncul di layar ponselku. Salah satunya membuatku terpaku.

Beberapa tahun yang lalu, seorang perempuan ditemukan tewas di tempat tersebut. Dia adalah pemain biliar yang sering datang ke sana. Penyebab kematiannya misterius, dan sejak itu, banyak yang percaya bahwa arwahnya masih gentayangan, mencari teman bermain.

Tanganku gemetar, kumenutup layar ponsel. Kini aku sadar… malam itu, aku bukan sekadar mencari hiburan. Tanpa kusadari, aku telah bermain biliar dengan seorang hantu cantik dan seksi. (*)

 

16 Februari 2025, Villa Anggrek, Pendowoharjo, Sewon Bantul Yogyakarta, Indonesia :

 

===

*Dwi Indah Prasetyowati,  biasa dipanggil Indah, lahir di Yogyakarta pada 8 April. Saat ini tinggal di Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, dan bekerja sebagai guru sekolah dasar.

Sejak SMP, Indah sudah menulis cerita dan artikel. Karyanya banyak terbit di media cetak, juga dalam beberapa buku: Balas Budi Ikan Hiu (kumpulan cerita anak karya tunggal), satu buku pelajaran, serta dua buku cerita anak , empat buku mini fiksi bersama Gol A Gong terbitan SIP Publishing

Indah paling menikmati menulis cerita horor dan cerita anak, dua genre yang kontras, tapi sama-sama memberinya ruang untuk berimajinasi. Selain menulis, ia juga aktif sebagai foto model dan punya ketertarikan besar pada sejarah serta tempat-tempat bersejarah.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *