31 Agustus 2025
Puisi-Puisi Agrus Riyan
Oleh Agrus Riyan*

Membaca Kita yang Dilelapkan Keadilan
Dari rinai senja, kita tandaskan nepotisme pada kulminasi pekan
menyantap aneka polemik yang bercokol apik dalam jemalamu
sejenak sebab betapa distorsi teramat kacau menjamumu
mencetuskan kronik sengketa; riuh sampai ricuh
pun kita saksikan humanitas gentas mengingu keadilan di kujur rusuk tamadun.
Dalam rangum probabilitas republik kita berandai-andai diasuh keadilan
sebab kini; yang menyuara benar digampar sampai memar, iktirad ditikam tajamnya rajam
mengobral rupa-rupa rekognisi yang mengobarkan
tikus-tikus berdasi mengulum haram tahkik gelandangan
membekap lapar nan berdenging onar dalam balada orang-orang pinggiran.
Kita tunaikan tirakat demokrasi pun merayakan riuh konfrontasi
—sampai kapan hawar memejam lolong nekromansi?
Yang lampau meruahkan bahadur sekadar prolog konsepsi
sengkarut adikara ialah kudap yang kita santap saban pagi
mengaram ibu mengusut perut kelompang pun sangar berdikari
melamunkan dogmatisme bangsa di ranah patriarki.
—Bakso Gerobakan, 29/06/2025
Hikayat Nusantara di Tubuh Iktikad Teruna
Sebab kemandang ikrar suci putra-putri ialah abadi di negeri kami yang puguh berdikari.
(1)
Begitu getol kami pantau ragam suara muda-mudi negeriku amat puguh melarung bahana
mengusung luhur tanah pusaka yang nenenda beri selepas kungkung kolonialis angkara
sedemikian rupa meriwayatkan tumpah darah kulawangsa di tubuh ukara,”Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah yang satoe, tanah air Indonesia.”
jua bersahaja di limbung modernitas; gaung intifadah bangsa mengabadi dalam jeluk kalbu taruna.
(2)
Dalam jemala kemanunggalan ibunda mengusut kulawangsa yang bersahaja mengharumkan persatuan bangsa dalam ikrar, “Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe berbangsa yang satoe, bangsa Indonesia.”
yang semestinya baka jagat Nusantara diriba kesatuan bangsa di musim kanaknya
meriwayatkan putra-putri nan bangga menjujung luhur bijana
di limbung kelaliman zaman yang bersetia mengiring tanah merdeka.
(3)
Semenjana di telatak moyang melahirkan ragam tutur bangsa,
putra-putri mengusut luhur bahasa-bahasa persatuan
yang laun baka termaktub di tubuh iktikad pemuda, “Kami poetra dan poetri Indonesia menjoenjoeng bahasa persatoean: Bahasa Indonesia.”
setakat purna negeriku bermahkota kemanunggalan yang kekal di tubuh bahasa ibunda
mengabadi di jeluk alterasi peradaban—yang naim melarung distorsi kesatuan bangsa.
—Sudut Urban, 26 November 2024.
Keriau Intifadah di Tubuh Kidung Podho Nonton
Dalam babad Bayu ialah grahita merdeka mengakar saban bangkar nadi perjuangan ranah Blambangan.
Betapa menggenang air mata mengaram limbung tubuh terkapar ketar—geletar nadi mengalir anyir dalam ingar gagak-gagak liar
sedang bapanda mengelus lila dari kelompang lekum yang diusung perut-perut lapar
menyuap mala dari pleidoi tuan-tuan tanah—yang kaulnya sekadar ujar belaka
menghimpun tadah bumiputra dari riuh pulasara kolonialis angkara
menjelma tulah ibunda dalam ukara, “Para putra, kejalan ring kedung lewung. Ya, jalan jala sutra, tampange tampang kencana!”
Semenjana dalam rangkum intifadah yang mengendus anyir independensi
bapanda meruwat khalwat rezim di rakung riwayat Jagapati
bahadur negari yang engkah mendedah serdadu Netherlands di rahim merdeka
begitu bangkar lekturmu membakar semangat juang kawula muda yang terpahat dalam di tubuh gita, “Lare angon, gumuk iku paculana. Tandurana kacang lanjaran, sak unting ulih perawan”
“Kembang abang selebrang tiba ring kasur. Mbah Teji balenana! Sun enteni ring paseban!”
menyeruak saban sanubari bumiputra—Blambangan memekik genderang yuda
mengerang semangat juang hingga purna mengentas sungkawa
pada Netherlands yang tunggang-langgang dari Bayu menuju Ulupampang
setakat panji-panji kemerdekaan mengibar kulminasi juang
mengusaikan bingar perang jua mewalimahkan merdeka bumi Blambangan.
—Banyuwangi, 21 Agustus 2024.
===
*Agrus Riyan. Lahir dan besar di Banyuwangi, Jawa Timur. Mahasiswa Akuntansi yang hobi menulis puisi dan cerpen. Dengan hobi yang ia geluti semasa duduk di bangku putih abu-abu ini mampu mengantarkannya meraih prestasi tingkat nasional di bidang puisi yaitu Juara 1 Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional dalam Festival Kenduri Sastra yang diselenggarakan oleh Universitas Ahmad Dahlan (2025) dan Pemenang Utama Sayembara Puisi Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Diponegoro (2024).