LiteraSIP

7 September 2025

Joglo Tua

Oleh Wahyu Annisha*

 

 

“Arundhati, buka pintu!” suara Arya menggelegar bersama gedoran di pintu kayu  rumah joglo tua di Yogyakarta. Jendela tak berkelambu membingkai Arya yang menggenggam laras pendek.

Jantung Arundhati seperti pindah ke telinga. Susah payah ia merangkak di lantai kusam menjauhi pintu. Ia ingat semuanya.

Lebih dari lima tahun lalu Arundhati meninggalkan rumah joglo tua itu. Rumah itu awalnya milik almarhum Kakek dan Nenek buyut lalu diwariskan kepada orang tua Arundhati.

Rumah itu jadi milik Arundhati karena truk pasir melindas motor lalu kabur membawa nyawa Ayah Ibu. Saat itu Arundhati baru kelas XI.

Paman dan Bibi tidak datang di pemakaman. Mungkin mereka takut dengan gunungan hutang peninggalan Ayah Ibu.

Tetangga biasanya datang mengantar makanan untuk Arundhati. Namun semangat itu surut berganti dengan banjir cibiran berbumbu fitnah tentang utang-piutang Ayah Ibu.

Arundhati rapuh. Ia meninggalkan sekolahnya menuju stasiun kereta api. Dengan uang sisa belasungkawa orang tuanya, Arundhati membeli tiket termurah menuju Jakarta.

Di Jakarta, Arundhati tinggal di jalanan. Ia bekerja apa saja asal halal untuk mengganjal perut. Kadang ia menjual suara sumbangnya dari rumah ke rumah. Kadang ia mengais sampah menjual botol bekas. Namun sekeras apa pun dia berusaha, perutnya jarang merasa kenyang. Jakarta memang keras.

Saat mencari botol bekas di pasar tradisional, Arundhati bertemu Tante Jose, pemilik toko kelontong. Tante bercerita punya anak seumuran Arundhati tapi wafat saat melahirkan. Bayinya tidak selamat. Suami anaknya pergi tak peduli.

Tante Jose mengajak Arundhati ke rumahnya untuk tinggal sebagai anak angkat. Namun binar mata Arundhati padam ketika dia memergoki mata suami Tante Jose mengulitinya dengan tatapan nakal.

Arundhati kembali ke jalanan. Untuk mengganjal perut ia terpaksa berutang pada Susi, sang Ratu anak-anak jalanan.

“Lu bayar utang atau gue tumpahkan darah lu!” suatu hari Susi datang menagih.

“Akan aku lunasi,” Arundhati berlutut merintih minta waktu tiga bulan.

“Kalau lu bohong, ke ujung lubang biawak pun akan gue kejar!” ancam Susi.

Pagi itu pintu kayu rumah joglo di Yogyakarta menyambut kepulangan Arundhati. Debu dan bau pengap menyergap hidungnya. Rumah tua itu makin renta setelah kosong.

Arundhati menyusuri setiap jengkal rumahnya. Ia mengenang kembali kehangatan rumah itu sebelum ia pergi ke agen penjual properti.

Krak!

Arundhati terkejut, ternyata dasar lemari kayu Ibu menyisakan satu laci tersembunyi. Arundhati meraih selembar foto dari laci itu. Bayi gemuk lucu berpose dengan bayi lesu tanpa daging. Arundhati Ekaputri dan Arya Ekoputra. Lahir di Yogyakarta, 9 September 2001, begitu tulisan di belakang foto.

Ada dua helai kertas lagi di laci itu. Sehelai kertas fotokopian menerangkan tentang kelahiran Arya Ekoputra anak dari Ayah dan Ibu yang sama dengan Arundhati. Sehelai kertas lagi berisi alamat rumah di Solo. Arundhati segera menuju stasiun kereta api.

“Apakah ini rumah Arya Ekoputra?” tanya Arundhati pada Lelaki paruh baya membawa gunting tanaman, mungkin dia tukang kebun di rumah itu. Di depan Arundhati berdiri rumah putih megah berlantai marmer beralamat sama dengan kertas yang dibawanya.

Lelaki itu mengangguk. Ia menyuruh Arundhati menunggu.

Tak lama kemudian datang seorang Lelaki muda menghampiri Arundhati. Wajah kuning langsat itu tidak hanya terawat tapi juga tersirat berpendidikan tinggi. Wangi elegan menguar darinya.

Arundhati melirik kulitnya yang terbakar matahari. Rambutnya pecah-pecah merah kurang gizi.

Arundhati memperkenalkan diri. Ia lalu menyampaikan maksudnya mencari orang bernama Arya Ekoputra yang ada di foto.

“Itu namaku tapi mengapa ada di situ?” Arya menatap foto.

“Itu juga yang aku ingin tahu,” ujar Arundhati.

“Boleh aku pinjam foto ini? Mungkin Papa dan Mama lebih tahu,” ujar Arya.

Arundhati ragu tapi akhirnya ia mengangguk. Arya minta Arundhati datang lagi besok sore ke rumah itu.

Malam itu Arundhati tidak kembali ke Yogyakarta demi menghemat uang. Ia tidur di emperan toko seperti dulu saat hidup di Jakarta.

“Mama dan Papa tidak bisa menemuimu karena masih mengurus bisnis tapi mereka bilang..,” Arya menatap Arundhati tajam, “kau dan aku kembar. Kau anak tertua,” suaranya serak sambil mengembalikan foto.

Bibir Arundhati terkatup. Ia menyembunyikan jemarinya yang bergetar.

“Aku lahir dengan kelainan jantung. Orangtua kita memberikanku pada pasutri yang tidak punya anak tapi punya dana besar untuk biaya operasi jantungku. Pasutri itu kini jadi Papa Mama angkatku. Papa pernah menghubungi orangtua kita tapi orangtua kita minta bantuan keuangan yang sangat besar untuk melunasi utang-utangnya. Papa membantu tapi karena berkali-kali diminta, Papa tidak sanggup lagi. Orangtua kita marah, komunikasi terputus,” Arya menunduk.

Arundhati mengangguk. Ia berusaha menerima penjelasan Arya.

“Bagaimana kabar orang tua kita? Ceritakan tentang hidupmu,” Arya menatap Arundhati.

Arundhati tergagap. Semua jalan hidupnya kembali terputar bagai sebuah film.

“Ijinkan aku membantumu dengan menggalang dana,” tawar Arya saat Arundhati mengakhiri ceritanya.

Arundhati mohon penggalangan dana kurang dari tiga bulan. Ia ingat punya janji melunaskan utang-utangnya pada Susi.

Arya menyanggupi. Ia minta alamat rumah di Yogyakarta sebelum Arundhati pamit pulang.

Sudah tiga bulan matahari berganti. Pagi-pagi Arundhati memberanikan diri menemui Arya. Sayangnya, Tukang kebun bilang Arya sudah pergi.

Arundhati menunggu di ujung jalan. Benar saja ternyata Arya baru hendak pergi mengendarai mobil mewahnya.

Arundhati menagih janji tapi Arya memberondong Arundhati dengan sumpah serapah. Ia memekik uang sudah dipakai untuk menyokong bisnisnya yang terpuruk karena utang.

Arundhati kecewa. Ia pulang ke Yogyakarta. Dia tidak mengerti mengapa dia dan Arya mengalami kesulitan keuangan seperti orangtua mereka. Apakah ini warisan genetika keluarga mereka?

Azan maghrib baru saja usai. Rumah joglo tua itu bercahaya lilin. Listrik sudah lama diputus.

Tiba-tiba pintu depan berdentum-dentum dipukul, “Arundhati, buka pintu!”

Bulu kuduk Arundhati menjelma serupa jarum-jarum beracun ketika dari jendela terlihat laras pendek di tangan Arya. Arundhati lemas terseok-seok menjauhi pintu depan.

Brak!

Pintu kayu kusam terpental. Wajah ganteng Arya berubah jadi iblis. Ia membidik dahi saudari kembarnya dengan pistol, “Aku muak dengan tingkahmu menagih uang seperti dulu orangtua kita minta pada Papa dan Mama!” teriaknya.

Arundhati terbelalak. Dalam hati dia berdoa minta kesempatan hidup sekali lagi. Dia ingin melunasi semua utangnya dan utang Ayah Ibu dengan cara halal.

Dor! Dor! Dor!

Amarah menggetarkan tangan Arya. Tembakannya meleset dan menghantam dinding kayu rapuh yang digerogoti waktu.

Krak!

Kayu itu retak. Suara gemeretak menggema, makin keras, makin dekat.

Bum!

Dinding itu roboh! Sepotong bilah kayu tajam bak panah liar melesat cepat, menghantam dahi Arya.

 

===

*Wahyu Annisha. Penulis tinggal di Yogyakarta. Penulis senang belajar membuat cerita pendek.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *