12 Oktober 2025
PERDEBATAN ANTARA SEPATU RAKYAT DAN SEPATU POLISI
Oleh Muhammad Bahrudin Chabib*

Aku lahir dari kulit murahan yang dijahit seadanya oleh tangan buruh di pabrik kecil. Namaku tidak penting. Aku hanyalah sepatu rakyat. Solku tipis, warnaku kusam, dan tubuhku sudah berulang kali dijahit ulang oleh tukang sol depan pasar. Pemilikku seorang mahasiswa, anak kontrakan berisi enam orang yang hidup dengan mie instan, rokok lintingan, dan idealisme yang kadang terasa lebih lapar daripada perutnya sendiri.
Setiap hari aku menapak jalanan berdebu menuju kampus, ruang kuliah yang kursinya bolong, atau ruang diskusi yang hanya bercahaya lampu lima watt. Tetapi lebih sering, aku justru menapak aspal panas demonstrasi. Suara toa, poster-poster lusuh, dan bendera kain yang tak sempat disetrika menjadi pemandangan sehari-hari. Aku menggendong langkah tuanku menuju barisan massa, tempat suara rakyat dipaksa bersaing dengan suara sirine.
Hari itu matahari terasa lebih garang. Ribuan kaki berdesakan di depan gedung bercat putih yang catnya mulai mengelupas. Teriakan mahasiswa pecah:
“Turunkan harga, turunkan pajak, turunkan pengkhianat rakyat!” Asap ban terbakar melingkar ke langit, menciptakan doa beraroma gosong yang entah ditujukan kepada siapa.
Dan di sanalah aku bertemu dengannya—sepatu polisi.
Dia berkilau. Semir hitam menutup setiap pori kulitnya. Solnya tebal, keras, dan setiap langkahnya terdengar seperti pukulan palu hakim: duk, duk, duk. Aku tahu, setiap kali ia menghentak, bumi sedikit bergidik. Ia berdiri tegak bersama barisan polisi yang membentuk pagar besi manusia.
Kami hanya benda mati. Tapi saat itu, entah bagaimana, aku mendengar suaranya.
“Kau tampak lelah,” katanya, suaranya kaku seperti protokol upacara.
Aku tertawa getir. “Lelah? Aku sudah aus sejak lama. Benang jahitku longgar, solku menipis, warnaku berubah jadi lumpur. Aku dipakai untuk berlari menghindar dari pentungan, dipakai untuk melompat di genangan air hujan saat hujan mengejek demonstrasi, dipakai untuk menendang batu karena marah tak pernah sampai ke telinga penguasa.”
Sepatu polisi bergeming. Semir hitamnya memantulkan matahari sore.
“Tugasku sederhana,” katanya. “Aku dipakai untuk menjaga barisan. Aku bukan milikku sendiri. Aku hanya tubuh yang diikat tali, dipaksa melangkah sesuai irama komando. Jika aku harus menginjakmu, itu bukan pilihanku. Itu adalah perintah yang mengalir dari kepala, dari seragam, dari negara.”
Aku menatapnya lama. “Jadi kau bangga jadi alat? Kau diinjak oleh tuanmu, lalu menginjakku. Kau pikir itu adil?”
Ia terdiam sejenak. Kemudian suaranya melemah, seperti semir yang perlahan terhapus air hujan.
“Aku pun aus, kawan. Kau pikir aku bahagia karena tampak berkilau? Tidak. Setiap kali solku menghantam tubuhmu, aku merasakan dentumannya di hatiku sendiri. Aku menelan keringat rakyat, darah mahasiswa, jerit buruh. Aku dipaksa menjadi keras, padahal aku ingin lembut. Tapi ikatan tali ini lebih kuat dari doa.”
Aku tertunduk. Debu masuk ke pori-poriku.
“Maka kita sama-sama diinjak,” kataku pelan. “Kau oleh seragam, aku oleh sistem. Bedanya hanya siapa yang lebih cepat sobek.”
Kericuhan pecah. Gas air mata meletus, menyalakan kepanikan. Tubuh mahasiswa berlari, dorongan tameng merapat, dan aspal menjadi medan tarian tak seimbang. Aku terseret oleh langkah tuanku yang menabrak pagar betis polisi. Sepatu polisi terseret oleh tuannya yang mengayun pentungan.
Kami berdua saling beradu di aspal panas. Aku menghantam lutut, dia menghantam dada. Aku terendam lumpur, dia terpercik darah. Dan di tengah kekacauan itu, aku mendengar suara tuanku berteriak:
“Hidup rakyat!” Sementara tuannya berteriak: “Bubar! Mundur!”
Dua suara itu bertabrakan di udara, sama-sama keras, sama-sama haus kemenangan. Aku dan sepatu polisi hanya bisa saling pandang sebentar, di antara teriakan dan asap. Pandangan itu cukup untuk mengatakan segalanya: bahwa kami sama-sama ingin berhenti, tapi kaki-kaki di atas kami terlalu keras kepala untuk mendengar.
Malamnya, aku tergeletak di pojok kontrakan. Tubuhku basah, sobek, penuh noda hujan dan air mata. Tuanku meringkuk di kasur tipis, wajahnya lebam, tetapi matanya masih menyimpan api.
Di pos penjagaan, sepatu polisi pun beristirahat. Ia berbau keringat seragam, bercampur debu dan asap gas air mata. Tuannya duduk diam, membuka helm, menyalakan rokok murah. Wajahnya letih, tak jauh beda daripada wajah yang ditindasnya.
Kami berdua sama-sama diam, terpisah jarak, tapi aku tahu kami sedang berbicara dalam hati.
“Kalau saja kita bisa bertukar kaki,” bisikku dalam imajinasi. “Tuanku akan tahu betapa beratnya berjalan dengan sol tebal yang dipaksa menginjak saudaranya sendiri. Dan tuanmu akan tahu rasa berjalan dengan sol tipis yang harus menanggung janji basi.”
Hari-hari berikutnya, kami kembali bertemu. Di jalan yang sama, dengan teriakan yang sama, dengan luka yang sama. Perdebatan kami tak pernah selesai, karena setiap kali kami mulai bicara, kaki-kaki besar selalu menyeret kami ke arah yang telah ditentukan.
Namun di satu titik, aku mengerti.
Yang berbeda hanyalah siapa yang memakai kami.
Kami, dua sepatu, sama-sama dipaksa menanggung langkah yang bukan milik kami.
Di satu sisi, aku adalah suara rakyat yang terinjak.
Di sisi lain, ia adalah kaki kekuasaan yang terikat.
Dan di bawah langit kota yang semakin gelap, kami sama-sama tahu: perdebatan ini tidak akan pernah selesai— selama kaki-kaki manusia di atas kami sibuk bertarung,
tanpa pernah benar-benar berjalan bersama.
===
*Muhammad Bahrudin Chabib. Ig @sekali_kata