5 Oktober 2025
Puisi – Puisi Moehammad Abdoe
Oleh Moehammad Abdoe*

Kitab Keempat Perihal Gusi Domba
Telah dibunyikan gong dari bahan taring ular
dan bulan takzim menetes lewat sela genting tua
di halaman bekas ladang kuaci dan ceracau nenek moyang
tergolek seekor domba
berbulu seputih frasa yang belum sempat diucap nabi
ia mengunyah sabda dari akar pepaya
membaca gigi manusia seperti kitab usang
dalam bahasa yang hanya dimengerti tikar pandan:
hari ini aku akan jadi puisi paling pendek
tiga huruf dan merah
para juru sembelih dengan tangan dari logam itu
membawa liturgi dalam ember cat
dan menapak dengan langkah geometri yang tak logis
satu di antara mereka berkumis dari benang jahit
dan yang lain mengukur takwa dengan pita meteran
di situ, suara-suara tumbuh dari bayangan sendiri
bicara dalam jeda antara takbir dan diskon
sambil menjilat sisa kopi dari bibir doa
sebuah kamera terangkat, menangkap potret yang tak pernah dikembalikan
dan seekor lalat mengkhotbahkan kehampaan dari atas belulang
domba tersenyum
giginya bergetar dalam tempo mazmur lama
gusi yang menua diwarnai semacam euforia
dan ia mengerti
tak ada darah yang jatuh kecuali tinta,
karena bumi terlalu letih menelan yang sama
dan langit tak lagi mencatat pengorbanan tanpa tinta
dalam detik ganjil, satu anak manusia mencatat:
Hari Raya adalah museum penderitaan yang disponsori harapan kolektif
dan Tuhan, mungkin sedang mencicipi metafora baru
di sela gulungan daging,
menunggu siapa yang akan menyembelih dirinya sendiri terlebih dahulu
dengan pisau tak kasat mata
bernama:
kejujuran tanpa saksi
(2025)
Antropologi Domba yang Melupakan Dirinya
domba itu
berjalan tanpa peta
melintasi gerimis yang lupa menghitung hari
dulu ia ingat
bagaimana rumput menjadi tawa di ujung pagi
tapi kini suara pisau adalah lagu pengantar tidur
(2025)
Liturgi Paling Sunyi
1.
Pagi tadi, embun tidak sempat lahir.
Ia tertahan di kelopak rumput,
seperti doa yang enggan disampaikan.
Udara terlalu tenang untuk menampung kehilangan,
dan jalanan lengang tak menunggu siapa pun pulang.
2.
Di sebuah bangsal sunyi,
seorang ibu menyebut nama anaknya
dalam hati,
karena lidahnya sudah lama disimpan
bersama luka yang tak sempat sembuh.
Suster melintas, membawa sepiring instruksi,
dan di balik tirai,
Tuhan tetap diam.
Seperti biasa.
3.
Seekor kambing melihat bayangannya
di air yang tak bergerak.
Ia tidak tahu mengapa harus ada yang mati
untuk merayakan hidup.
Tapi ia berdiri saja, tenang,
karena keheningan
adalah satu-satunya jawaban yang tidak bisa dibantah.
4.
Darah mengalir ke dalam kantong bening
dengan suara yang nyaris seperti puisi.
Tidak berima,
tidak berirama,
tapi mengandung segalanya:
kesabaran, kehilangan,
dan harapan yang tidak sempat tumbuh.
5.
Takbir terdengar dari corong masjid,
namun barisan langit tetap kelabu.
Bukan karena Tuhan jauh,
tapi karena manusia terlalu bising
untuk mendengar bisikan-Nya.
6.
Malam turun perlahan
seperti kelambu.
Dan di antara lipatan selaput hematokrit,
ada nama-nama yang tak sempat dikenang.
Mereka yang dikurbankan
bukan untuk dosa,
melainkan untuk rutinitas
yang terus mengunyah makna
tanpa pernah mengucapkannya.
(2025)
===
*Moehammad Abdoe, lahir di Malang, pelopor komunitas Pemuda Desa Merdeka, penikmat film, sejarah, dan sastra. Karyanya berupa puisi dan cerpen dimuat di sejumlah surat kabar dan majalah nasional.