LiteraSIP

5 Oktober 2025

Dompet Merah dari Thailand

Oleh Rumondang E. Sitohang*

 

 

 

Langit sore di kota Medan mulai menggelap saat Rina dan suaminya, Bayu, menyusuri trotoar jalanan yang basah sisa hujan. Daun-daun pohon trembesi tampak mengilap oleh genangan air, sementara lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu. Suasana yang biasanya terasa hangat kini berubah muram bagi Rina. Wajahnya tegang, sorot matanya gelisah.

“Sayang, kamu yakin lewat sini tadi pagi?” tanya Bayu sambil menahan payung, berusaha mengikuti langkah cepat istrinya.

“Iya, aku ingat betul. Aku turun dari angkot di depan toko fotokopi itu, lalu jalan kaki ke kantor. Dompetku pasti jatuh di sekitar sini…” jawab Rina, suaranya lemah.

Dompet merah kesayangannya hilang. Bukan hanya berisi KTP dan ATM, tetapi juga uang tunai satu juta rupiah hasil arisan minggu lalu. Rina merasa seperti kehilangan separuh hidupnya. Setelah satu jam menyusuri jalan yang sama, bertanya pada pedagang kaki lima, tukang parkir, hingga petugas kebersihan, hasilnya tetap nihil. Langkah Rina mulai melemah, tapi matanya masih berharap.

“Kalau ada orang jujur yang nemu, mungkin dia menunggu pemiliknya mencari,” ucap Bayu menenangkan, meskipun nada suaranya sendiri terdengar ragu.

Malam itu, Rina dan Bayu membuat pengumuman di beberapa grup WhatsApp, baik di lingkungan kantor maupun kompleks perumahan:

“Mohon bantuan teman-teman. Istri saya kehilangan dompet warna merah di sekitar jalan menuju kantor. Di dalamnya ada KTP atas nama Rina Sari, ATM, dan uang tunai. Bagi yang menemukan akan diberikan imbalan yang pantas. Terima kasih banyak.”

Namun hingga keesokan harinya, tak satu pun yang memberikan kabar. Grup WhatsApp hanya berisi obrolan lain yang tak ada hubungannya dengan dompet merah. Tidak ada secercah harapan. Tidak juga sebuah candaan ringan untuk meredakan kekhawatiran.

Setelah dua hari penuh pencarian sia-sia, Rina menyerah. Ia mendatangi kantor polisi untuk membuat surat kehilangan. Di depan petugas, ia menjelaskan kejadian itu dengan raut pasrah.

Lalu, ia pergi ke kantor Dukcapil untuk mengurus KTP baru. Antrean panjang, petugas yang tak terlalu ramah, serta suasana yang pengap membuat harinya makin buruk. Terakhir, ia mengantre di bank untuk membuat ATM baru, berharap saldo tabungannya tidak sempat dikuras orang yang menemukannya.

“Setidaknya ini sudah beres,” ucap Bayu sambil menggenggam tangan Rina. “Sekarang kamu bisa tidur lebih tenang.”

Rina mengangguk kecil. Tapi hatinya tetap terasa kosong. Ia masih memikirkan dompet itu—bukan karena nilai uangnya semata, tapi karena itu hadiah ulang tahun dari Bayu dua tahun lalu. Dompet merah dari Thailand yang mereka beli bersama dalam perjalanan bulan madu.

***

Seminggu berlalu.

Pagi itu, Rina tengah menyiram tanaman di halaman rumah ketika ponselnya berbunyi. Notifikasi WhatsApp dari keponakannya, Elsa, yang sedang kuliah di Kuala Lumpur. Senyumnya mengembang sejenak—setidaknya ada kabar baik di antara hari-harinya yang suram.

Namun senyuman itu seketika menghilang saat ia membaca isi pesan dari Elsa.

“Tante Rina, makasih banyak ya hadiahnyaaa! Lucu banget dompet merahnya! Itu yang dari Thailand, kan? Aku suka banget! Dan makasih juga buat uangnya. Udah aku pakai buat beli tas sama sepatu. Tapi… kok di dalam dompet ada KTP Tante dan ATM juga? 😅 Kirain itu bonus. ATM dan KTP-nya udah aku kirim balik lewat pos, ya. Hehehe.”

Rina membatu. Matanya terpaku pada layar ponsel. Kakinya terasa lemas. Dalam sekejap, semua kepingan puzzle itu tersusun sempurna di kepalanya.

“Bayuuuu!” serunya dari teras.

Bayu muncul dari dalam rumah dengan ekspresi panik. “Kenapa? Ada apa?”

Rina mendekatinya sambil menunjukkan pesan dari Elsa.

Bayu membaca pelan, lalu menatap Rina dengan dahi mengernyit. “Jadi… dompet merah kamu yang hilang itu…?”

“…Aku kirim ke Elsa. Salah bungkus! Seharusnya aku kirim dompet yang satu lagi, yang belum dipakai. Tapi di laci lemari waktu itu ada dua dompet yang sama persis. Aku ambil yang satunya, ternyata itu dompetku sendiri!” jawab Rina, hampir  menangis, tapi bukan karena sedih. Karena geli dan malu. Karena tak percaya bisa seceroboh itu, padahal dia dikenal sebagai orang yang teliti di kantornya.

Bayu terduduk di kursi rotan. Kemudian tertawa terbahak-bahak.

“Jadi kita sudah dua kali keliling jalanan, bikin surat kehilangan, urus KTP dan ATM baru, semuanya… cuma karena kamu salah bungkus kado?!”

Rina ikut tertawa sambil menutup wajah dengan kedua tangan. “Aduh, rasanya pengin kabur ke hutan terus bertapa semalam suntuk!”

Dua hari kemudian, sebuah paket datang. Rina menerimanya dengan tangan sedikit gemetar. Di dalamnya, KTP dan kartu ATM miliknya terbungkus rapi dalam plastik bening, disertai sticky note berwarna pink:

“Lain kali jangan bungkus kado dengan buru-buru ya, Tante. Tapi aku tetap suka, kok. Dompetnya bagus dan uangnya udah jadi tas dan sepatu kece. Hehe. Love you Tante.

Elsa ❤️

Rina membaca pesan itu sambil menghela napas panjang. Tertawa dan lalu terdiam.

Bayu, yang ikut membaca, berujar santai, “Kita ganti judul cerita ini jadi ‘Dompet Merah yang Tak Pernah Hilang’, ya.”

“Betul,” sahut Rina, tersenyum. “Dompetnya nggak hilang. Cuma lagi jalan-jalan … ke Kuala Lumpur.”

 

===

*Rumondang Ernawati Sitohang adalah seorang perempuan perantau asal Medan. Lahir pada tanggal 8 April, ia adalah ibu dari tiga anak, sekaligus sosok yang tak pernah berhenti belajar, berbagi, dan berkarya.

Sejak lama, Rumondang jatuh cinta pada kata-kata. Ia menemukan pelarian, kelegaan, dan kekuatan dalam membaca serta menulis. Dari kecintaannya itu telah lahir berbagai karya, mulai dari cerpen, puisi, esai, hingga catatan perjalanan yang hangat dan menyentuh hati.

Di sela kesibukannya sebagai guru dan ibu, beliau senang mengisi waktu dengan membaca, menulis, dan menjelajah tempat-tempat baru. Baginya, menulis bukan sekadar mencurahkan isi hati—tapi juga bentuk keabadian kecil, di mana cerita-cerita bisa hidup lebih lama dari usia manusia.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *