26 Februari 2023
Pulung Gantung *(1)
Oleh : Risda Nur Widia**

Tujuh koak gagak pagi itu menyeret kabar kematian seorang janda di desa Kelor. Kentongan ribut bertalu mengabarkan duka pada setiap telinga yang mendengarnya. Berduyun-duyun orang berkumpul mengamati tubuh si janda yang ternyata telah kaku terbaring di atas ranjang dengan leher terjerat tampar berwarna coklat pudar yang diikat pada kaki tempat tidurnya. Wanita itu mati menggantung, tapi tidak benar-benar menggantung. Cara mati gantung diri si janda hanya seremonial semata. Karena kematian ganjil itu, para penduduk mengira pulung gantung datang menemuinya semalam.
Dua orang pemuda dengan wajah berkerut serta tangan bergetar segera membereskan mayat si janda. Tali yang menjerat lehernya dilepaskan. Orang-orang yang melihat leher janda tersebut bingung, karena tidak ada bekas memar. Namun ketika memperhatikan ekspresinya, wanita itu tampak sangat menderita.
“Hari ini juga kita harus menguburnya!” Kata ketua adat. “Kalau tidak kutuk akan kembali menimpa desa!”
“Apakah tidak sebaiknya memberi kabar kepada keluarganya dahulu?” Jawab kepala desa kampung Kelor.
“Orang yang mati karena rayuan pulung gantung tidak boleh dikabarkan kematiannya. Hal itu malah membawa petaka,” tambah ketua adat. “Tapi wanita ini sepertinya sudah lama tinggal sendiri tanpa keluarga.”
Wanita malang itu sudah lama hidup sebatang kara. Suaminya dulu mati karena dibunuh orang ketika musim politik. Polisi yang melacak kasus itu hingga kini belum selesai memeriksanya. Ada yang mengatakan kalau kematian suaminya sebagai tumbal politik warga kampung yang menginginkan bantuan dana desa. Sementara dua anaknya merantau ke Sumatera, dan tidak pernah pulang sampai kematian si janda itu.
Ia sering tampak tidak bahagia, karena penyakit paru-paru menggerogoti tubuhnya. Setiap malam, bila ada orang yang melintas di depan rumahnya, selalu terdengar suara batuknya yang menyedihkan.
“Pasti Pulung Gantung semalam mengabulkan doanya!” Itu bisik-bisik dari warga.
Pertanyaan-pertanyaan mengenai kematian si janda tidak putus memadati mulut warga. Sebagian dari mereka bahkan teringatan mengenai peristiwa yang terjadi pada Tarno. Pria tua umur 55 tahun itu sempat menceritakan kalau dirinya melihat seberkas cahaya merah melintasi genteng-genteng rumah warga desa Kelor. Cahaya merah dan berkedip-kedip itu menyibak alas Jati di ujung desa.
Tarno pun menceritakan cahaya pulung gantung tersebut di Balai Desa.
“Aku melihat pulung gantung!” tandas Tarno. “Dia melintas di atas rumah-rumah warga.”
“Kau jangan bergurau!” timpal kawan seumurannya.
“Aku tidak bohong!” suara Tarno terengah. “Aku melihat pulung gantung.”
“Halah! Tidak ada pulung gantung!” timpal warga lainnya yang lebih muda. “Itu hanya cerita bohong.”
Malam itu, dua pengertian terpecah setelah mendengar cerita Tarno. Para orang tua yang hidup dengan cerita masa lalu merasa risau mengetahui kisah Tarno. Sementara warga desa yang telah berpikir modren—yang jumlahnya lebih banyak dari warga lama—menganggap cerita Tarno hanya halusinasi. Pulung Gantung bagi mereka hanya sebuah tahayul yang dibuat-buat untuk menakuti anak-anak agar tidak keluyuran malam hari.
Karena sudah tidak begitu mempercayai mitos itu, warga segera melupakannya. Mereka seperti tidak peduli dengan segala peristiwa yang pernah terjadi mengenai kasus gantung diri di desa-desa lain. Cuma pagi itu, saat melihat kematian aneh si janda secara langsung, orang-orang yang sempat meragukan mitos tersebut seketika masygul.
“Kita harus segera menguburkan dan membuat ruwat desa!” Ketua adat menatap warganya. “Pokoknya jangan sampai membawa masalah bagi penduduk lain.”
“Tapi apakah benar kematian wanita ini karena pulung gantung?” Kepala desa masih meragukan. “Itu hanya mitos yang tidak kita ketahui kebenarnaya.”
“Apakah cara kematian wanita ini kurang menjelaskan?” Ketua adat kukuh memberikan pengertian. “Kematian karena pulung gantung sering berdampak buruk bagi desa lainnya.”
Ada kepercayaan yang sampai sekarang masih diamini oleh orang-orang dahulu, yaitu bila seseorang ditemukan mati gantung diri, arah wajah si mati itu akan membawa kutukan bagi desa atau rumah yang dipandangnya. Wajah dan mata wanita itu mati menghadap ke arah barat. Jadi mungkin sebentar lagi kampung atau rumah yang tak jauh dari tempat wanita ini ditemukan akan terkena kesialan. Jika hal itu terjadi, maka secara sosial desa Kelor harus membayar denda kutukan pulung gantung.
“Baiklah,” putus kepala desa merasa terdesak. “Saya ikuti seluruh keingian anda.”
Pagi itu pemakaman pun dilakukan. Sebelum pukul 08.00, si mayat sudah dikuburkan tanpa berita lelayu atau doa-doa. Kemudian, seluruh warga desa pun melakukan bersih desa secara rahasia pula.
***
Tiga hari setelah kematian wanita itu kehidupan berjalan normal. Tak ada kabar muram yang menyusul seperti yang didengungkan ketua adat mengenai kutuk yang menimpa setiap orang. Tapi warga desa Kelor tetap bungkam membicarakan kejadian itu. Obrolan di alas dan Balai Desa juah dari peristiwa muram tersebut. Warga menganggap hal itu tidak pernah terjadi. Namun seminggu menjelang, seorang warga, bernama Tukiman, menjelaskan kalau dirinya beberapa kali melihat gerombolan anjing liar di desa.
Munculnya para anjing liar itu diikuti dengan berembus kabar kalau banyak kambing dan anak sapi yang mati mengenaskan di desa Wiladeg. Desa Wiladeg sendiri adalah desa yang berbatas langsung dengan desa Kelor di sisi Barat persis dengan arah wajah si janda yang mati menghadap ke barat. Di desa Wiladeg, banyak hewan ternak mati dengan tercabik-cabik tubuhnya di kandang.
“Apakah kematian kambing-kambing dan anak sapi itu karena pulung gantung?” Warga Kelor mulai risau. “Semoga bukan.”
“Itu pasti ulah hewan liar biasa!” Warga lainnya saling menenangkan.
Tidak ingin membebani diri dengan ketakutan, sebagian warga percaya pembunuh hewan-hewan itu adalah hewan liar biasa. Namun, kematian hewan-hewan ternak mulai tidak masuk akal. Ada beberapa kasus hewan ternak mati hanya menyisakan tubuh tanpa jantung; pernah juga mati dengan kehilangan alat kelamin; atau mati dengan tubuh kering tanpa darah. Kematian tidak wajar hewan itu melahirkan ketakutan bagi warga.
Malam di desa Kelor akhirnya seperti kuburan tua Jawa. Lincak-lincak *(2) yang biasanya ramai untuk bermain kartu atau menggosip seputar tanaman menjadi sepi. Tarno sendiri sebagai warga dan ketua RW merasa tidak diuntungkan dengan keadaan warganya. Ia berusaha menuntut kepada kepala desa kejadian itu.
“Aku sudah mendengarnya,” kata kepala desa. “Aku juga sudah mendengar semua kematian ganjil hewan-hewan ternak itu.”
“Ini bukan ulah hewan buas biasa.” Tarno bercerita. “Pasti ada hubungannya dengan kematian si janda.”
Kepala desa tertegun. Sepasang matanya melompat ke arah Tarno. Desa akan riuh dengan mitos ganjil itu, gumam kepala desa. Kepala desa juga ingat sebentar lagi musim politik datang. Hal itu hanya akan menambah kekisruhan warga karena dapat terpecah belah.
“Kita jangan melakukan apapun!” cetus kepala desa.
Tarno akhirnya pulang tidak mendapatkan solusi dari kepala desa. Tapi ia tidak menyerah menuntut keamanan desanya. Ia mendatangi kepala adat.
“Aku tahu kalau kau ingin menceritakan soal matinya hewan-hewan itu. Ini ulah Pulung Gantung. Wujud aslinya memang cahaya merah. Tetapi, Pulung Gantung juga bisa berubah menjadi hewan liar seperti anjing atau harimau. Kalian tahu Pulung Gantung juga bisa dimanfaatkan untuk mencari ilmu hitam dan jimat!”
Tarno sebagai pria yang sudah cukup lama tinggal di desa Kelor, acap mendengar cerita Pulung Gantung dapat menjelma hewan buas. Ia pernah mendengar pula kalau Pulung Gantung dapat digunakan untuk jimat dengan memberi tumbal. Bila musim politik datang dahulu, sering ia melihat cahaya yang berterbangan di atas genting, lalu hinggap dan mengabarkan kabar duka.
“Kita harus mengadakan bersih desa lagi,” tambah ketua adat. “Sebentar lagi kita juga akan memasuki musim politik. Jangan sampai warga kampung di sini mati menjadi tumbal.”
***
Seminggu kemudian bersih desa dilakukan. Kepala desa sempat melarang prosesi tersebut. Kalah suara, kepala desa akhirnya mengikuti keinginan warga. Masyarakat Kelor dikumpulkan di Balai Desa. Mereka kemudian berkeliling sembari mengarak kuda lumping. Di setiap pohon, sungai, atau simpang jalan diletakkan sajen. Selain itu, sebelum pulang, warga desa diberikan tangkai padi muda untuk diletakan di depan rumah sebagai cara menolak roh jahat.
“Semoga seluruh kutukan ini pergi,” harap ketua adat. “Semoga leluhur melindungi kita.”
Mitos kematian itu—setelah bersih desa—mulai menghilang. Namun ketika musim politik tiba, mendadak Tarno melihat lagi cahaya merah melintas di atas pohon jati rumahnya. Cahaya mereh itu diikuti anjing-anjing berjumlah sembilan ekor yang berjalan cepat. Dengan bergetar, Tarno memastikan arah larinya anjing-anjing dan pulung gantung itu.
“Kutukan apa lagi ini?” Tarno ketakutan.
Cahaya itu terus terbang dan diikuti anjing-anjing liar ke arah rumah Tukiman yang baru saja terkena PHK pabrik tepung di kota. Tarno pun tidak bisa tidak menahan kencing di celananya saat melihat seekor anjing liar berubah menjadi kepala desa. Kepala desa lantas masuk ke rumah Tukiman. Tarno segera berlari menyelamatkan diri.
***
Pagi harinya, kentongan bertalu. Seluruh warga desa melihat tubuh Tukiman tergantung dengan posisi bersimpuh dengan selendang menceret lehernya. Wajah Tukiman pucat menghadap ke timur. Lalu, selang tak lama, kepala desa datang dengan tingkah tidak percaya atas kejadian itu. Melihat wajah kepala desa, Tarno mendadak ingat kalau kepala desa tahun ini akan mencalonkan diri sebagai lurah. (*)
==
**Risda Nur Widia. Kini sedang menempuh program doktor Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UNY.
*(1) Tumbal Pulung adalah nama lain dari Pulung Gantung, mitos lokal kematian di Wonosari, Gunung Kidul Jogja. Mitos ini selalu disertai dengan peristiwa gantung diri yang sering terjadi di sana.
*(2) Lincak-lincak, pos ronda
Pingback: - SIP Publishing
Pingback: Ruang LiteraSIP edisi 26 Februari 2023 - SIP Publishing