LiteraSIP

2 April 2023

Vaginismus

Oleh: Abul Muamar*

 

Seorang janda kembang ditemukan tewas dengan sebuah gagang sikat toilet tertancap pada kemaluannya di sebuah indekos yang berada di Jalan Buntu, Kecamatan Buntu. Di dalam kamar mandi tempat jasad perempuan berusia 28 tahun itu ditemukan, terdapat dilator berbagai ukuran, botol cairan pelumas yang tumpah setengah isinya, serta telepon genggam yang layarnya retak. Darah yang telah mengering tercecer di lantai di sekitar jasad perempuan itu.

Berdasarkan hasil olah TKP, polisi menduga bahwa perempuan berinisial NS itu merupakan korban pemerkosaan dan pembunuhan terencana. Hingga kini, polisi masih mendalami kasus ini dengan mengumpulkan keterangan saksi-saksi dan alat bukti lainnya.

 ***

 Aku merinding saat membaca berita itu lewat unggahan sebuah akun Instagram yang sering membagikan peristiwa-peristiwa kriminal. Bulu kudukku meremang. Bukan karena kengeriannya, tetapi lebih karena aku mengenal perempuan itu.

Dalam versi berita yang lebih lengkap, diterangkan kalau lima hari sebelum jasadnya ditemukan, suaminya—mereka belum sah bercerai secara hukum—sempat berkunjung ke indekosnya. Keterangan itu disampaikan oleh seorang perempuan berinisial WT, tetangga kamar indekosnya, yang menjadi saksi utama yang diperiksa polisi. Namun, WT menyampaikan bahwa hingga suaminya pulang, dia masih baik-baik saja dan sempat mengantarkan suaminya sampai ke gerbang.

Dia adalah temanku—walau juga bisa dikatakan bukan. Dia pisah ranjang dengan suaminya saat usia pernikahan mereka belum genap setahun, tepatnya enam bulan yang lalu. Sejak saat itu, dia memutuskan untuk tinggal sendirian di sebuah indekos karena belum siap untuk memberitahu orang tuanya perihal keretakan rumah tangga mereka. Aku akan menjelaskan kenapa mereka pisah ranjang, tetapi nanti.

Aku mengenalnya sejak kami sama-sama kuliah di salah satu kampus di Yogyakarta enam tahun lalu. Setelah lulus kuliah, ia bekerja sebagai guru PNS di salah satu sekolah negeri di Semarang. Sejak menikah, dia cukup sering mengabariku tentang kehidupan rumah tangganya dan dia sering mengeluh tentang perilaku suaminya. Keluhan yang sama terus ia ulang setiap kali menghubungiku. Perihal keluhannya, akan kuberitahukan nanti.

Media massa dan beberapa akun media sosial ramai memberitakan kematiannya. Mereka mengeksploitasi fakta bahwa ada benda yang tertancap di kemaluannya sebagai sudut pemberitaan, seakan-akan bagian itulah yang paling penting dari peristiwa kematian itu. Saat kutelusuri di Google, hampir semua media memasukkan frasa ‘tertancap di kemaluan’ dan “gagang sikat toilet” dalam judul berita mereka. Banyak juga media yang menggunakan frasa ‘janda muda’ atau ‘janda kembang’. Padahal, dia belum resmi bercerai—hanya pisah ranjang. Mereka mengontraskan keadaan matinya dengan status sosialnya sebagai seorang guru. Frasa-frasa seperti “tewas telanjang”, “kemaluan tertancap gagang sikat toilet”, “janda muda”, disandingkan dengan “seorang guru cantik” atau “guru muda”.

Polisi juga begitu. Mereka mengumbar kondisi tubuhnya saat ditemukan, seolah sengaja supaya wartawan menangkap poin itu untuk dijadikan sudut pemberitaan, alih-alih fokus pada pengungkapan fakta-fakta kasus kematiannya.

***

Sampai dua minggu kemudian, polisi masih belum berhasil menemukan penyebab kematiannya. Polisi bingung karena berdasarkan hasil visum et repertum, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuhnya. Orang yang paling dicurigai, yakni suaminya, telah dibebaskan karena tidak terbukti membunuh. Rekaman CCTV yang menunjukkan bahwa suaminya sudah pulang tiga jam sebelum dia terakhir kali keluar kamar untuk menjemur pakaian (waktu itu pukul 12 siang), turut menyelamatkan suaminya dari tuduhan dan kecurigaan orang-orang.

Sementara polisi menemui kebuntuan dalam mendalami penyebab kematiannya, muncul kabar miring di lingkungan indekos tempat dia tinggal. Warga dan para penghuni indekos lainnya dengan cepat menyebarkan gosip tentangnya, yang beberapa kali jalan dengan laki-laki yang berbeda-beda semasa tinggal di indekos itu. Mereka menyimpulkan kalau dia seorang perempuan hiperseks.

“Makanya dia pakai sikat toilet itu,” ucap seorang pria setengah baya yang suka menggosip.

“Gila bener ya, Pak,” sahut warga lain.

“Pantas ditinggal suaminya,” timpal yang lain.

***

Bagaimana aku tidak merinding. Pada malam sebelum kematiannya, seperti biasa, dia meneleponku sambil menangis dan menceritakan tentang kondisi rumah tangganya. Dia menyampaikan padaku bahwa suaminya akan menceraikannya jika dalam waktu sebulan ia masih belum bisa memuaskan hasrat suaminya. Mertua dan keluarga besar suaminya juga ikut mendorong rencana itu.

Dia semakin tertekan ketika tetangga-tetangganya tahu kenapa dia belum juga hamil dan kenapa suaminya jarang pulang ke rumah. Dan dia semakin putus asa ketika beberapa dokter dan psikiater yang ia temui malah ikut menyudutkannya, menganggapnya tidak rileks saat berhubungan badan.

“Bukannya saya tidak mau, saya sangat mau. Dan bukannya saya tidak rileks, tapi sakit itu sungguh-sungguh tak terbilang,” katanya berulang kali kepada dokter dan psikiater yang tidak mampu memahami penyakit yang ia derita.

Kalimat itu juga yang disampaikannya padaku setiap kali ia menelepon malam-malam setelah gagal memuaskan suaminya. Dan kalimat itu pula yang terngiang-ngiang di kepalaku saat mendengar kabar kematiannya.

***

Sekarang, aku akan memberitahu tentang alasan dan teka-teki yang kutunda tadi. Perihal mengapa dia pisah ranjang dengan suaminya dan mengenai keluhan yang selalu ia sampaikan padaku, jawabannya satu: vaginismus*.

Seharusnya ia menemukan harapan untuk sembuh dari penyakit itu sekitar dua bulan lalu ketika ia mendapat informasi tentang seorang dokter yang ahli mengobati penyakit itu. Dokter laki-laki itu terbukti telah menyembuhkan banyak perempuan penderita vaginismus, termasuk mereka yang telah memiliki pasangan. Namun, suaminya, yang terpengaruh oleh kebiasaan menonton film porno, mengancam akan menceraikannya apabila ia tetap mengunjungi dokter itu. Bagaimanapun, perceraian mereka memang benar-benar mendekati kenyataan meskipun ia mendatangi dokter itu secara diam-diam.

Setelah beberapa kali menjalani pengobatan dengan dokter itu, dia tak kunjung sembuh karena tak mendapatkan dukungan dari siapa pun. Suaminya sendiri sudah tak peduli apakah ia akan sembuh atau tidak karena sudah menemukan saluran untuk memuaskan hasrat birahi.

Dalam percakapan terakhir kami di telepon malam itu, dia sempat memberitahuku soal pengobatannya yang gagal itu. Kepadaku ia titipkan suaminya. “Puaskan dia,” katanya. Aku sungguh terkejut dan tak menduga dia akan mengatakan demikian.

Meski kini aku bisa memiliki suaminya secara utuh tanpa dituding sebagai pelakor, tetapi diam-diam aku tak bisa menahan kesedihan atas kematiannya yang tragis itu. (*)

(Yogyakarta-Semarang, Agustus 2022-Maret 2023)

Keterangan:

Vaginismus adalah kondisi di mana otot di sekitar vagina mengencang dan lubang vagina mengatup dengan sendirinya sehingga penis tidak bisa penetrasi saat berhubungan badan. Perempuan dengan penyakit vaginismus bukannya tidak mau ataupun tidak rileks dalam melakukan hubungan seksual. Vaginismus tidak ada hubungannya dengan pikiran. Mirisnya, penderita vaginismus kerap mengalami pengucilan.

==

*Abul Muamar, lahir dan besar di Perbaungan, Serdangbedagai. Menulis beberapa cerita pendek sejak 2013.

 

1 thought on “Vaginismus”

  1. Pingback: Ruang LiteraSIP Edisi #12 - SIP Publishing

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *