LiteraSIP

18 Juni 2023

Puisi-Puisi Riki Utomi

Oleh : Riki Utomi*

 

 

Semacam Suara

adakah kau dengar sesuara itu.
merambat jauh pada lubang telinga.

muncul saja ia dari relung paling dalam.
tidak dibuat-buat atau jauh dari kepalsuan.
ia lapar namun dahaga lebih ketara.
ia hingar namun amarah tumpah menggoda.

adakah kau cermati sesuara itu?
menyusup paling lekat ke dasar telinga.

ia ungkap dalam, paling dalam menyemai
luka-luka. ia harap paling gugup di antara
nyawa. lirih dan pasti meski senyap datangnya.

Selatpanjang, 2022

 

Selat Rengit, 1

pada jarak lima tatapan mata, aku datang padamu.
dermaga berteman sepi dan gigil pagi. riak selat
rengit tenang tak bergemuruh. namun hitam
warnanya seperti pekat hatiku. menjejakkan labuh
di tanah merbau. apakah yang dapat kukatakan?

sejarak pandang menerobos kabut, aku singkap
gusar ini. kempang berdentum memecah pagi.
nelayan rumit mukanya untuk dicermati; gusar
tak tertebak. namun aku tak lekang membawa
pekat hatiku ke tanah pulau merbau. kan kutunjuk
segala garang meski degup tak berkurang.

Selatpanjang, 2023

 

Selat Rengit, 2

antara alai dan semukut, pertalian waktu terus mengikat.
debar tergulung arus sungainya. debar melebur bersama
pekak kempangnya.

antara alai dan semukut, sampaikan asaku pada dermaganya.
sebelum rapuh segala takdir, sebelum hinggap gigil di tanah.

anatara alai dan semukut, kata-kata menjelma ikan yang
meliuk di garis sungai. kata-kata di sambut burung yang
duduk di ranting.

antara alai dan semukut, matamu membius langkahku.
dermaga tinggal dua jejak lagi. namun perjalanan telah ditutup
kabut pagi.

Selatpanjang, 2023

 

Selat Rengit, 3

: imam

akarmu tertanam kuat di tanah semukut.
tubuh kukuh sedalam rindu terurai terbiar
di arus hitam itu. tumbuh menjalar liar
di hampar rimbun tanahmu.

daunmu menghijau setiap hari di tanah
semukut. sedap pandang dan harum di hidu.
biarkan kupu-kupu hinggap. mungkin ada
setitik cinta berlabuh. biarkan rama-rama
mendekat, mungkin segores harap kelak
di tuai.

bungamu mekar awal lembut matahari pagi.
meninggalkan wangi dan segala hidu melepas.
menyusup harap membawa debar
tetap berjalan di sini.

Selatpanjang, 2023

 

Kurau

mengalir apakah pipa besi itu? panas memanggang
tanah gambut. serat-serat di tepi parit cukup sejuk.
untuk berendam. namun sejuk badan tak sepadan
panas pikir. gelegaknya seperti lekat matahari yang
memanggang tiap aliran pipa.

sepanjang apakah pipa besi itu? ukurlah jejakmu sendiri
ketika berlabuh. tanah merbau telah letih berkabar.
batas-batas kawat dan baja telah semakin kuat.

rupa jalan dan debunya menyesak dada. tapak kakimu
membekas seperti kabar yang jauh terhapus waktu.

Selatpanjang, 2023

 

==

*Riki Utomi kelahiran Pekanbaru 1984. Buku puisinya Amuk Selat (2020). Buku cerpennya Mata Empat (2013), Mata Kaca (2015), Sebuah Wajah di Roti Panggang (2017), Anak-Anak yang Berjalan Miring (2020). Kumpulan Esai Menuju ke Arus Sastra (2017), dan buku nonfiksi Belajar Sastra Itu Asyik (2020). Puisinya tersiar di Koran Tempo, Kompas, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Banjarmasin Pos, Serambi Indonesia, dll. Juga termaktub dalam antologi Banjarbaru’s Rainy Day Festival, Dari Negeri Poci 5, Puisi untuk Lombok, Jazirah Sastra, dll. Kini bekerja dan bermukim di Selatpanjang, Riau.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *