LiteraSIP

18 Juni 2023

Azab Kudisan Sebelum Mati

Oleh : Saeful Huda*

 

 

Terik matahari siang ini begitu panas. Sudah beberapa minggu tidak hujan. Tanah di depan rumah mengering, keras hingga menebarkan debu halus yang terbawa angin. Panas itu membuat suasana seperti di padang mahsyar, kata guru ngajiku.

Siang bolong begini, Bapak sudah terbiasa tidur di risbang usang yang pastinya sudah keropos termakan rayap putih. Bapak terbiasa tidur memakai bantal dari gombal bekas pakaian Ibu dulu. Merasa gerah juga karena panas, terbiasalah Bapak tidur tanpa memakai baju. Badannya yang berotot kelihatan kekar, karena sering membawa kayu bakar dari ladang dekat kuburan.

Tadinya aku juga mau ikut tidur, tapi perutku sedang menyanyi dengan suara yang sumbang. Aku tengok ke belakang, masih belum juga menemui barang selauk pun. Ibu masih sibuk berdagang sayur keliling, belum menghasilkan banyak uang, sampai-sampai belum menaruh sedikit pun makanan di sini. Tak apalah.

Tapi aku baru ingat kalau kemarin Ibu dan Ani – adikku, ke Balai Desa mengambil bantuan sosial dari pemerintah. Langsung aku cari mie instan di sudut dapur. Tanpa pikir panjang langsung aku masak. Inginnya dengan telur, tapi kata Ibu itu stok makan buat besok. Tak apalah. Mie saja sudah cukup untuk mengisi kekosongan perutku hari ini.

Aku siapkan masak sekadarnya. Sembari menunggu mie matang, aku teringat sekali kemarin Ani cerita waktu di Balai Desa. Ani masih kelas lima SD. Secara perawakan mungkin sudah dianggap besar. Kata tetangga, dia anak yang biyungen. Selalu saja mengikuti kemana Ibunya pergi, termasuk berdagang.

“Mas, orang yang gelangan emas itu kan kaya yah?” tanya Ani penasaran.

Aku pikir ini pengaruh sinetron yang dia tonton akhir-akhir ini dengan Ibu. Maklum, dia belum boleh pegang HP oleh Ibu. Lebih tepatnya, belum mampu untuk beli HP. Pelampiasannya jadi ke arah alat elektronik lain, apalagi kalau bukan televisi. Jadi dia tahunya orang kaya itu ya mereka yang punya mobil, rumah bertingkat, pakai emas di tangan, leher dan kaki.

“Iya, An. Kenapa emang?”

“Ani tadi lihat Lik Sumi ikut antri soalnya, Mas. Dia kan pakai emas, Mas!” balas Ani dengan muka agak kesal.

Aku agak cekikian ketika dia bilang “antri”. Soalnya kemarin Guru Bahasa Indonesiaku di SMK bilang, “Yang betul itu ‘antre’ yah anak-anak, bukan ‘antri’. Itu kata Kamus Besar Bahasa Indonesia.”. Tapi tidak jadi soal, lagian Ani masih kecil.

“Ya, pakai emas wajar kan Ani sayang!” jawabku gemas.

“Tapi kan dia kaya, Mas. Harusnya tidak ikut antri dong! Soalnya di tulisan surat yang kemarin dibawa Ibu, Ani bacanya ‘untuk orang miskin’, Mas.”

Aku tertegun. Terlebih ketika Ani melanjutkan kalimat itu dengan, “Padahal di sinetron kemarin, ada orang kaya yang mati kudisan, Mas, karena ikut mengambil bantuan orang miskin.”

Langsung aku tutup mulutnya dengan tangan kananku, “Hussssttt!”

“Ih, apa sih, Mas! Bau ketek tangannya!” Ucap Ani setelah berusaha keras melepas tanganku yang hinggap di mulutnya itu.

Aku kembali cekikikan sendiri, karena baru sadar, sebelum Ani datang tadi, aku bermain ketek sampai bunyi “Prepet,prepet,prepet!”

“Ya, kamu jangan sembarangan ngomongnya!”

“Di filmnya kan emang kayak gitu, Mas! Dah ah, males ngomong sama Mas Darwin”

Langsung aku tarik tangannya biar Ani tidak pergi. Aku suruh dia melanjutkan ceritanya.

Tiba-tiba dia mengeluarkan jari kelingkingnya yang mungil itu. “Janji tapi jangan kayak tadi lagi, Mas!” protesnya.

“Iya, iya enggak, kok!” Aku sambut dengan jari kelingkingku juga.

Sebenarnya aku juga masih heran, kenapa Lik Sumi bisa ikut antre di Balai Desa. Suaminya Lik Sumi kan punya perusahaan penggilingan padi dan punya mobil juga. Yang lebih menggelitik lagi adalah cerita tentang azab dari sinetron yang ditonton adikku. Pikiran-pikiran ini aku simpan dahulu supaya aku tidak ketinggalan cerita menarik lainya dari adikku yang masih memakai kaos polos warna putih kecokelatan.

“Ada lagi loh, Mas”

“Apa tuh?”

“Kepo!” Jawaban kurang ajar yang sering aku dengar akhir-akhir ini dari anak-anak seumuran Ani.

Aku balas dengan muka masam dan Ani langsung paham kode itu. Akhirnya dia melanjutkan lagi ceritanya.

“Bu Rukni juga ikutan loh, Mas”

Aku pura-pura pasang wajah kaget, seolah antusias dengan ceritanya itu. Walaupun sebetulnya aku sudah tahu tingkah laku Bu Rukni di sini. Dia tetangga dekatku. Rumahnya paling besar di RT ini. Paling modis dandanannya. Sering tidak disukai tetangga karena polah kepamerannya.

“Tadi Bu Rukni bawa pulang dua kardus bantuan loh, Mas. Padahal aku lihat semua yang antri itu cuma bawa pulang satu kardus saja, Mas. Termasuk Ibu.” Gayanya sudah seperti Ibu-Ibu lokal yang sering menggosip. Pantaslah, Ani sering ikut Ibu keliling.

“Terus yah, Mas, Bu Rukni kan antri paling belakang tadinya, tapi dia bisik-bisik sama Pak Bau, akhirnya dia jadi antri nomer tiga, Mas. Kan curang banget yah, Mas!” ucap Ani ketus. Pak Bau itu panggilan buat kepala dusun di sini.

“Wah iya itu curang, An. Itu namanya nyogok. Kamu jangan tiru kayak gitu yah, An!” Seruku.

“Oke siap, Mas! Lagian aku pasti malu, Mas. Pas Bu Rukni sudah antri di depan, ibu-ibu di depan dan belakang aku langsung pada nyurakin Bu Rukni, Mas. Mereka pada bilang ‘Huuuuuuu!’ Begitu!’” Gaya ceritanya memang sudah seperti ibu-ibu lokal.

Aku menahan tawa sedari tadi ketika Ani bercerita. Kalau aku tumpahkan langsung tawaku, mungkin adikku berhenti cerita.

“Bangke!” Aku lupa kalau sedang memasak mie instan. Airnya hampir habis karena sudah lama mendidih. Langsung aku tiriskan saja mie  ke dalam mangkuk bergambar ayam jago. Untung saja tidak sampai kekeringan dan gosong pancinya.

Dalam kekhawatiran sesaat seperti itu, aku kembali teringat cerita adikku. Akankah Lik Sumi dan Bu Rukni kena azab kudisan sebelum mati, seperti cerita sinetron adikku? Kata guru ngajiku, kalau tidak ada balasan di dunia, pasti Allah akan balas di akhirat. Tapi itu hak Tuhan. Manusia sepertiku tidak punya hak menilai terlalu jauh. Semoga saja tidak seperti itu kejadiannya, biar yang mengurus mayatnya mereka nanti, merasa nyaman-nyaman saja.

Ah, mau makan malah bahas kudis, jadi hilang nanti selera makanku. Tapi sepanjang sejarah, selera makanku selalu menggebu-gebu dalam kondisi seperti apapun.

 

==

*Saeful Huda. Karyanya pernah dimuat dalam Buletin Tajdid milik Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta. Judul cerpennya yaitu Dua Wajah Selok. Sampai saat ini, ia masih aktif menulis di media online. Untuk lebih mengenali tentang Saeful Huda, bisa saling follow Instagram @saeful_hudaa

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *