25 Juni 2023
Lelaki Misterius
Oleh Fajar Irawati*

Sudah hampir dua bulan ini, lelaki misterius itu sering kali menemuiku dan mengaku bahwa dia adalah ayah kandungku dan akan menjadi wali nikahku. Pada awal pertemuan dengannya, aku merasa takut. Namun, setelah berkali-kali bertemu, aku tidak takut lagi dan justru aku semakin penasaran dengannya.
Seperti hari ini sepulang kerja, lelaki berjaket kulit warna coklat tua, bermasker, dan bertopi hitam itu kembali menemuiku, lalu berkata, “Nak, aku ayahmu. Besok aku yang menjadi wali nikahmu saat kamu menikah nanti. Aku masih hidup. Aku berhak menjadi wali nikahmu, Nak.”
Setelah mengucapkan kalimat yang sama setiap kali bertemu denganku, lelaki itu segera pergi meninggalkanku tanpa ada jawaban dari mulutku.
Kejadian ini belum aku sampaikan kepada ibu. Aku masih menjaga perasaan ibu karena sejak kecil, ibu selalu meyakinkanku bahwa ayahku sudah meninggal sejak aku masih di dalam kandungan. Aku sering meminta foto ayah kepada ibu. Namun, ibu selalu saja menolaknya dan akan marah jika aku memaksanya.
Aku juga pernah meminta ibu untuk mengantarku ke pusara ayah, tetapi ibu meyakinkanku bahwa pusara ayah ada di luar kota yang jauh. Tidak hanya ibu, kakek dan nenekku juga mengiyakan bahwa ayahku sudah meninggal.
***
Seperti halnya dengan anak-anak yang lainnya, aku tumbuh semakin besar dan dewasa. Di perjalanan hidupku, ibu mendoktrin aku untuk bisa hidup mandiri seperti dia tanpa ditemani seorang lelaki di sampingnya. Namun, aku tidak bisa demikian.
Seperti gadis-gadis yang lain aku pun juga merasakan jatuh cinta kepada lelaki. Tetapi, ibu selalu saja melarangku untuk dekat dengan lelaki. Hingga aku menemukan seorang lelaki bernama Adit yang benar-benar serius dan mengajakku menikah dengannya.
Awalnya, ibu tidak menyetujui hubungan kami. Namun, dengan kegigihan Mas Adit, akhirnya hati ibu luluh dan menyetujui kami untuk melangkah menujus ikatan suci pernikahan.
***
Hari menjelang pernikahanku dengan Mas Adit semakin dekat. Lelaki misterius itu kerap mendatangiku untuk menyampaikan keinganannya menjadi wali nikahku. Akhirnya, aku mencoba menceritakan sosok lelaki misterius itu kepada ibu.
Saat ibu sedang membereskan kebun di belakang rumah, aku beranikan diri mendekatinya dan berkata, “Ibu, akhir-akhir ini Reni sering ditemui oleh seorang laki-laki dan dia mengatakan bahwa dia adalah ayahku.”
Ibu terperangah mendengar kalimatku dan menatapku tajam beberapa saat, lalu kembali melakukan aktivitasnya.
“Bu, tolong jujur sama Reni. Apakah benar kalau ayah Reni sudah meninggal?”
Ibu terlihat mencoba menutupi sikapnya yang mulai terlihat kikuk saat mendengar pertanyaanku.
“Bu…,” lanjutku.
Ibu menghentikan aktivitasnya dan menatapku seraya berkata, “Ayahmu sudah meninggal.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, ibu segera pergi meninggalkanku.
Mendengar kalimat itu, badanku terasa lemas dan aku sandarkan punggungku ke tembok di dekatku. Aku benar-benar dalam kebingungan. Siapa yang benar?
***
Keesokan harinya, aku menunggu lelaki misterius itu di halaman parkir tempat biasa kami bertemu. Benar saja, sosok lelaki berjaket coklat, bermasker dan bertopi hitam menghampiriku dan kembali berkata, “Nak, aku ayahmu. Aku yang akan menjadi wali nikahmu saat kamu menikah nanti. Aku masih hidup. Aku berhak menjadi wali nikahmu.”
Selesai kalimat itu terucap, dia segera membalikkan tubuhnya. Namun, sebelum melangkah, aku mencoba menghentikannya.
“Pak, tunggu!”
Lelaki misterius itu menghentikan langkahnya.
“Maaf, Pak. Bisa kita bicara sebentar?”
“Silakan.”
Lelaki itu menjawabnya tanpa membalikkan tubuhnya ke arahku.
“Mau bicara apa?”
“Emm…, apa bukti kalau Bapak adalah ayah saya?”
Lelaki misterius itu merogoh saku jaketnya lalu memberikan selembar foto tanpa membalikkan badannya seraya berkata, “Aku ayahmu, aku akan menjadi wali nikahmu.”
Kuambil selembar foto itu dengan jantung berdegup dan tangan yang bergetar. Lelaki misterius itu kembali pergi meninggalkanku.
Aku benar-benar terkejut melihat foto itu. Di foto itu, ibuku duduk di pelaminan bersama dengan seorang lelaki. Namun, wajah lelaki itu tidak nampak jelas karena mungkin pengaruh kertas foto lama yang disimpan tidak baik. Aku tidak bisa membendung air mataku. Aku biarkan butiran-butiran bening mengalir deras membasahi wajahku.
Ya, Tuhan. Apa sebenarnya yang terjadi?
***
Kejadian itu tidak aku ceritakan kepada ibu hingga hari pernikahanku dengan Mas Adit tiba. Aku biarkan cerita apa yang akan terjadi selanjutnya. Kalau memang lelaki misterius itu adalah ayah kandungku, dia pasti akan datang sesuai dengan janjinya.
Aku sudah mengenakan kebaya putih di hari pernikahanku dengan Mas Adit. Segala uba rampe atau piranti, alat utawa prabot, sudah dipersiapkan untuk pesta pernikahan kami. Jantungku berdegup kencang bukan hanya karena aku akan menikah dengan Mas Adit, tetapi aku juga menunggu lelaki misterius yang mengaku sebagai ayahku datang untuk menjadi wali nikahku.
Penghulu, saksi, wali nikah hakim, dan tamu undangan sudah siap untuk menyaksikan pernikahanku dengan Mas Adit. Namun, lelaki misterius itu belum juga muncul. Aku gelisah menunggu lelaki misterius itu karena ucapan janji suci akan segera terucap.
Saat pak penghulu akan menyalami Mas Adit untuk mengucapkan kalimat ijab kabul, tiba-tiba terdengar suara berat seorang laki-laki.
“Assalamu’alaikum.”
Aku menoleh arah suara dan kulihat Pak Narto –cleaning service– yang bekerja di kantorku datang menggunakan batik berwarna cokelat.
“Maaf, saya Narto. Saya yang akan menjadi wali nikah putri saya Reni Purnamasari,” kata Pak Narto kepada bapak penghulu.
“Pak Narto. Bapak ayahku?” tanyaku tak percaya. Pak Narto adalah seorang cleaning service yang sudah lama bekerja di kantor kami. Dia orang baik. Banyak orang yang menyukai cara kerjanya. Sikapnya yang santun dan tidak banyak bicara.
Pak Narto tersenyum dan mengangguk, sementara ibu menundukkan kepalanya. Aku tidak tahu misteri kisah yang terjadi dalam kehidupan mereka dulu hingga lahirlah aku di dunia ini. (*)
==
*Fajar Irawati. Lahir dan domisili di Cilacap. Alumnus FKIP Bahasa Inggris, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Pengajar Bahasa Inggris di SMP Negeri 4 Cilacap. Beberapa karya cerpennya sudah dimuat di beberapa media massa. Untuk menyapanya bisa melalui akun media sosialnya, yaitu: fajarirawatiira@gmail.com dan https://facebook.com/faira.firaira.