LiteraSIP

23 Juli 2023

Puisi-Puisi Khanafi

Oleh Khanafi*

 

 

menzirahi serayu

ingatan seperti sungai serayu yang sampai di lautan
batas-batas tebing batu dan arus yang ramai menyimpan
sunyi sejarah ke gelombang zaman yang keras

di masa lalu, perahu-perahu dagang
berlayar dari pelabuhan cilacap ke pusat kota
; purwokerto, tapi kini karam

di tubuhnya kini menyimpan kendi
yang bisa disusun jadi kisah-kisah
dan kini tinggal keruh yang tersisa

di kejauhan, gunung slamet
dan bukit-bukit menelan punggungmu
terik melihat orang datang dan pergi
sekadar untuk ngopi di sisi bendungannya
kemudian, melupakan sejarah pelayaran,
sejarah dagang, yang dulu menghidupi kehidupan

di sungai lain, batu-batu tak bisa kududuki
sejarah direndam banjir setinggi dinding
menelan catatan-catatan dan peta
tak ada lagi yang bisa dibaca selain cerita

purwokerto yang tak tidur
jalan-jalan ramai kesepian
tak ada yang mengunjungi serayu
jejakku dan jejaknya hanya tinggal
di dalam puisi ini

jogja, 200523

 

serayu yang malang; sebuah potret kekinian

angin deras menyibak rambut
menyingkap kisah kusut
helai-helai kain di tubuh
berkibar-kibar seperti kekalahan

ranting-ranting pohon patah
rumput-rumput berderai menjauh
entah kisah apa yang dituturkan alam
ketika kita duduk sendirian di tepiannya

mungkin merenung,
mengapa sungai ini begitu lesu
dan tak terbendung
seperti kesedihan kita?

sungai ini tak mengenali lagi
siapa dirinya, tapi ia tak lupa sebenarnya
sejarah mana yang mengalir
di jasadnya, kitalah yang melupakan sejarah

kita yang berjalan tanpa peta
kaki-kaki kita hanya gemetar
menemukan segala tak lagi bernama
tak lagi bermakna apa-apa

wajah-wajah di pinggir-pinggir itu
dan mereka yang turun ke arusnya
menjala nasib di tubuh ikan
menambang nasib di tumpukan pasir

sungai ini telah memotret hidup yang getir
hanya disapa angin dan cuaca yang menyingkir
hawa panas mewarnai gambar para pemancing
yang berangan-angan esok bisa dapat ikan

sungai banjir membawa sampah
dari dusun di kaki gunung
ke perkotaan yang selalu gamang
purwokerto sunggu rewel seperti kenangan

pada batu besar kita duduk
menawarkan kisah lain dalam puisi
akar-akar dan potongan bambu kering
bergumul dengan sampah menjelma kesedihan

rambutmu begitu kusut, penyair
apakah kata-kata tak lagi kau sisir?

berjalan meniti batu
dan mengamati arus yang deras
mengingatkan kita pada ombak lautan
sungai ini benar-benar hampir pucat!

jogja, 190523

 

tak ada selain kekosongan

hanya batu membisu manandai kekosongan
tak ada selain kekosongan, tak ada
dan apa-apa yang tak lagi dikenali ingatan
seperti kuburan massal tanpa nama di batu nisan

kekerasan dan politik tertimbun
jadi endapan lumpur
pasir-pasir dari batu terkikis
hanya menerka nasib mereka

keluarga-keluarga miskin
yang terjerat hutang dan semakin
tak tahu lagi
cara membayarnya

keringatnya jatuh dari tubuh
seperti hujan turun, luruh
di padang gersang
ke pasir-pasir kegetiran

mereka berebut ke kota
yang tak henti
membangun
negeri mimpi

sungai jadi sansai
bahasa orang desa jadi batu
keras dan panas
lekas pecah dihasut
lumut-lumut para politikus
yang menebar janji-janji kampanye
tapi tak pernah menepati janji

mata mereka memandang hampa
segala yang memudar
dan tinggal kemiskinan
yang terus menekan-mendesak penghidupan

nama-nama tak penting
batu lebih penting
pasir lebih penting
ikan lebih penting
makan lebih penting

mereka hanya ingin mengerti
mengapa sungai ini tak bicara
tentang bagaimana cara hidup
yang tak sia-sia, sia-sia saja!

jogja 180523

 

ikan dibakar di tepian

 pemuda-pemuda itu dapat ikan
setelah kailnya bergoyang keras
tubuh ikan setelapak tangan
kini berada di genggaman

aku terkenang penyair bambang set
pernah menuliskan tentang tubuh
orang-orang dibantai dan dicebur
ke tubuh serayu yang tenang

ikan-ikan memakan daging merah
manusia-manusia tak bersalah
ikan-ikan beranak-pinak
jadi ikan-ikan yang kini berada di tangan
para pemuda putus sekolah itu

ikan-ikan malang dibakar di atas batu
di tepian bersama sampah-sampah kayu
bau bensin menguar, bau anggur menyebar
sloki dituang, mereka mabuk kesenangan

api berkobar-kobar seperti dendam
mata pedas memancarkan kegarangan
daging ikan, daging sejarah dimamah
keinginan beringas tumbuh dan tambah

satu sloki lagi dituang, kata-kata blacu
berhamburan, seperti sampah
seperti nasib mereka yang gundah
seperti debu terbang ke entah

ikan tinggal duri-duri
berserak di batu panas
pemuda tingal sepi
kepalanya mengembara

ke negeri-negeri neraka

2023

 

senja di atas sungai serayu

: sungging raga

matahari bulat irisan daging papaya
perlahan turun ke balik rimbun daun
sebelum cahaya terakhir
angin berkesiur

dengarkah kau pada bisik-bisik
dari masa lalu yang jauh terpendam?

kemudian kau diam di bangku kereta
memikirkan cerita senja dan pacarnya
juga kenangan perempuan
dan ingatan manis yang hilang

dari kaca yang menghitung lenyap
kau pandangi bencah cahaya
yang timpa menimpa warna
di luar segala terasa sunyi

kau disergap lagi oleh sepi
yang suka ingin menjadi tokoh
dalam cerita-cerita pendekmu
yang mengecoh mataku pada bayang

apakah sosok yang kau maksud
seperti puisi, misalnya?

dadamu berat saat tahu
bahwa akhir cerita itu begitu sedih
tapi kau tak tahu mengapa cerita
ingin kau membuatnya begitu

seperti puisiku
aku tak pernah tahu
senja di serayu kali ini
tengah merayuku pada anganmu
atau pada sejarah yang lebih jauh?

kita sama tahu bahwa sastra
hanyala kemungkinan yang tak ada
seperti penantian panjang
bagi dada yang merindukan seseorang

2023

 

==

*Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya tersiar di media daring maupun cetak. Sehari-harinya bekerja sebagai editor lepas, penerjemah, perancang sampul buku, buruh tata letak buku, dan penjual buku-buku baru maupun lawas. Sekarang tinggal bersama keluarga di Yogyakarta, tengah menyelesaikan novelet pertamanya dan sedang mengulik sebuah buku terjemahan.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *