LiteraSIP

10 September 2023

Puisi-Puisi Daviatul Umam

Oleh Daviatul Umam*

 

 

tak ada yang dapat memutus
deru napasmu

yang terus memburu paru-paruku.
tiap derap pengembaraanku tetap
menyimpan degup perlawananmu.
usia bisa dirambah, tetapi tidak
dengan suara.

aku berputar mengimbangi siang
dan malam yang saling kejar,
serupa bumi tak letih mengelilingi
titik kerisauannya sendiri. kutiti
jarak angka ke angka sambil lalu
meraba-raba jejak peluhmu yang
didustai matahari.

kuendus-endus noktah masa lalu.
renjis getahmu mengawetkan
anyirnya dalam tempurung waktu.
menguar, menuntut jawaban yang
bersembunyi di kolong meja
kekuasaan. di bawah kangkangan
hukum yang pesing.

aku percaya, di sudut sunyi mana
pun engkau, ketukan rinduku
pasti selalu terdengar: selamat
hari buruh. darahmu akan
tetap terbayar.

2023

 

apa yang terlintas di kepalamu
saat pesawat melesat

dari kegamangan jakarta? cuaca
tak bermaksud mengingkari nubuat.
awan lebam bergumul tanpa berahi
buana. sementara kau hanya perlu
mengairi kerongkonganmu agar
kata-kata tidak kerontang.

tapi baru saja aku tiba di dasar gelas
jus kecut. nasib sedang diaduk-aduk.
sebentar lagi aku akan mengungsi
ke ngarai dadamu, bekerja di bawah
tekanan dendam yang lamur.

ketika darahmu menggelegak, itu
artinya waktu tengah memangkas
jarak tempuh. maut meluncur tanpa
kendali. dan kau segera mendarat
seorang diri. di langit entah. di mana
kebenaran takkan kehilangan gema.

2023

 

seperti pekik kawanan camar,
jiwamu mengerang

 begitu tahu sepatu-sepatu yang arif
itu menginjak tanahmu lalu serentak
berseru: di mana bumi dipijak, di situ
kandungannya mesti dicurigai. dan

tiba juga saatnya, ombak kapitalis
menggasak sawah-sawah setelah
diam-diam pasir dikeruk, direnggut
ratusan truk. kau lantas bergerak
melacak keadilan, walau kau tahu,
suaramu hanyalah nyanyi sumbang
seekor katak terkungkung lumpur.

kau pun tahu, tambang dan tumbang
adalah saudara kembar yang tidak
dapat terpisahkan. tetapi kebisuan
cuma milik batu. dan batu tak pernah
peduli apa itu hakikat hidup. sampai

akhirnya hari eksekusi itu sungguh
datang kepadamu untuk memberi
pemahaman baru, bahwa di negeri
ini, nyawa tak semahal tambang!

2023

 

kata-katamu tak pernah istirahat.
kata-katamu tak pernah bisa

tidur. mereka terlalu rewel untuk
tunduk kepada zaman yang tiada
henti diperbaharui. mereka tidak
mudah melupakan sejarah yang
melahirkannya sekaligus sejarah
yang bernafsu menumpasnya.

di sini kau bangkit bukan lagi
menjadi paulus, aloysius, martinus
ataupun hewan buruan yang lain.
kau pulang sebagai setangkup air
mata sipon yang mustahil surut
dan nyanyian akar rumput yang
senantiasa pasang.

dari sini kau bakal lebih leluasa
berkelana bagai tualang sungai
tanpa kuala. menyambangi ruang-
ruang kecurangan, pasal-pasal
rumpang, menagih pedih retinamu,
karat tenggorokan kedua anakmu,
bilur penantian istrimu yang baka.

2023

 

makin rindanglah itu pohon
oleh kelaparan

dan kecemasan kami. buahnya
kami gunduli. ia tidak mengeluh,
bahkan tidak mengeluhkan berat
badan kami dan sarat beban yang
kami cengkeramkan padanya.

ia justru memberi kami bonus
sekantong curhat melankolis: kita
sama. sama-sama korban saudara
kita sendiri. tetapi janganlah kita
terlalu berburuk sangka.

jangan sedih, kami bilang, ibu
dan langit tidak akan tinggal diam.

aku akan lebih sedih, isaknya,
jika esok kalian kembali lagi, tapi
tidak mendapatiku berdiri di sini.

kami menghiburnya. ia tertawa.
kami tertawa bersama. tawa
kami menguatkan satu sama lain.
membentur tembok-tembok
keheningan.

ssstt… jangan berisik!
malam menegur kami. katanya,
mimpimu takut terganggu.

2023

 

===

*Daviatul Umam, lahir dan tinggal di Sumenep, Madura. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Kini bergiat di Komunitas Damar Korong, Sumenep. Buku puisinya yang telah terbit bertajuk Kampung Kekasih (2019). Bisa disapa di Instagramnya: @daviatul.umam

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *