LiteraSIP

10 September 2023

Labirin Kesedihan

Oleh Musyafa Asyari*

 

 

Begitu menginjakkan kaki di Brebes, yang ada dalam pikiran Ayundia adalah aroma mendoan hangat ibu Yuli. Tempat tersebut langsung masuk daftar yang akan dikunjunginya nanti selepas pulang bekerja. Sudah enam tahun ia tidak pulang ke Bumiayu. Pekerjaannya sebagai suster rumah sakit besar di Banyumas sangat menyita waktu. Dikubur jauh setiap aroma yang membangkitkan kerinduannya pada kota kelahiran. Pada rasa jambu merah yang bergelantungan di pohon.

Ah, Bumiayu, banyak nuansa romantis yang tersimpan, untuk itu Ayundia akan benar-benar menikmati liburannya di kota kelahiran. Ia sengaja pulang dengan menggunakan bus, mobilnya ditinggalkan di Brebes. Tidak ada yang boleh terlewati kali ini.

Begitu berjalan keluar terminal, gadis tersebut mendapati paras sedih orang-orang yang dilewatinya. Bukan hanya satu orang, tapi hampir semua wajah yang dilihatnya murung sambil memandang ke bawah.

“Apa gerangan yang terjadi?” Ayundia bertanya kepada pemuda bercelana jeans di dekatnya. Pemuda muda tersebut menggeleng dengan wajah putus asa, tidak satu pun kalimat keluar dari mulutnya. Gelengan yang sama juga pernah ia peroleh dari seorang ibu muda yang berjalan sambil menggandeng bocah lelaki.

Akhirnya Ayundia memperoleh jawaban dari bapak tua, ”Bumiayu sudah berubah, Teh.” Mata lelaki itu berkaca-kaca seperti ingin menjatuhkan percikan air mata.

“Apanya yang berubah?”

“Semuanya… Bahkan kenangan pun sudah lenyap ditelan bumi.”

Pak tua tertatih meninggalkan Ayundia yang melongo tak mengerti. Mungkin terjadi perubahan kebijakan di pemerintahan, tapi tidak ada di surat kabar atau pun televisi. Ayundia menaiki angkot menuju ke rumah ibu. Begitu memasuki kota ia tidak bisa mempercayai penglihatannya. Bumiayu benar-benar sudah berubah.

Sebuah kota yang penuh dengan kenangan masa kecil ini menghilang perlahan-lahan? Ini pasti salah, demi lebih meyakinkan diri, Ayundia mengambil jalan ke arah alun-alun, ia turun dan memberhentikan supir angkot yang melewati jalur pasar alun-alun, omong kosong! alun-alun Bumiayu kau juga tak mungkin ikut lenyap.

Kenangan masa lalu itu seakan mengajak impian Ayundia agar ikut lenyap bersamanya, seperti angin kencang di bulan Desember yang membawa kabur setiap daun kering yang dilewatinya. Ayundia terpaksa bekerja, karna kedua orang tuanya sudah tidak sanggup lagi membiayainya, ia rela meninggalkan semua impian walau kesedihan kerap melanda dirinya.

Ayundia memutuskan untuk turun di trotoar jalan yang menuju ke taman. Ia berjalan masuk ke taman di pojok kanan alun-alun lenyap itu, dan mendapati sebuah pohon dan bekas reruntuhan kuil. Sambil duduk di kursi hitam yang memanjang beralaskan rumput hijau, perempuan berumur dua puluh dua tahun itu tercenung sejenak mengingat mimpinya malam tadi.

“Kau menghantui mimpiku hanya untuk ini? Menatap wajahmu yang berbingkai rembulan? Betapa naifnya dirimu. Ingat! Aku Ayundia bukan Sianida.” Gadis berambut ikal sepinggul itu memamerkan kemarahannya di depan pohon beringin bekas reruntuhan kuil. “Untuk ini aku lupakan semua impianku, termasuk untuk melanjutkan kuliah di Stanford University. Ya Tuhan, halusinasi apa yang terjadi padaku.” Ayundia kembali menumpahkan kegundahan hatinya. Tanpa sadar setetes air bening mengalir di sudut matanya. Dan patung berkepala yang berada di antara akar pohon besar itu pun tetap tersenyum bisu.

Setahun terakhir Ayundia kerap didatangi mimpi-mimpi aneh. Seorang lelaki berwajah rupawan senantiasa memanggil namanya dari sebuah pohon besar. Gadis tersebut sempat berpikir, jika lelaki itu adalah takdirnya di masa yang akan datang. Pernah ketika mimpinya itu di ceritakan kepada bapaknya, lelaki berumur empat puluh tahun itu terdiam merenung.

“Coba ceritakan bentuk pohon besar itu, Nak,” pinta bapak dalam ketermenungannya.

“Sebuah pohon besar dengan ranting-ranting rimbun di atasnya.” Gadis berkulit sawo itu mencoba kembali mengingat-ingat mimpinya, “Pohon akasia seperti-nya, dan di dekatnya itu ada reruntuhan bangunan.”

“Oh itu..,” ujar bapak lirih. Ia terdiam beberapa saat, lupakan saja mimpimu,” lanjut lelaki tua yang memakai baju putih kusut dengan wajah keruh.

Gadis bercelana pastel itu beranjak dari tempat duduknya, berbalik membelakangi pohon beringin besar tersebut. Dan tubuh gadis itu menabrak tubuh lain yang datang dari arah berlawanan.

“Kamu tidak apa-apa kan?” tanya lelaki yang menabraknya.

“Aku…,” ucap gadis itu sambil memegangi dahinya yang agak benjol.

“Sepertinya dahimu terluka.” Ujar lelaki itu, sambil ikut berjongkok untuk memeriksa Ayundia.

“Kau!” jantung Ayundia seakan tak berdetak melihat seraut wajah yang sering muncul di dalam mimpi berada di depan.

“Kamu mengenalku?” tanya lelaki itu seraya memegang benjol dibahu Ayundia.

“Ah, sakit.” Dia menjerit kecil, “Tidak, aku tidak mengenalmu. Hanya…” Gadis yang kebingungan itu menggantungkan kalimatnya, wajah itu begitu membekas karena sering menghantui di dalam tidurnya.

“Maksudnya?” Lelaki itu menangkap keterkejutan Ayundia.

“Kenalkan, nama aku Ayundia” gadis itu berusaha mengalihkan pembicaraannya. Mungkin gadis itu akan kabur jika ia menceritakan semua mimpi-mimpinya tersebut.

“Aku Mahesa” jawab lelaki itu dengan rambut yang terbujur ke depan dan menyalami Ayundia dengan lembut, “Sepertinya dahimu perlu diobati,” lanjutnya lagi.

Ayundia memang merasakan dahinya semakin berdenyut-denyut akan tetapi ia juga semakin merasakan tabir mimpi sedikit demi sedikit semakin terbuka dan penantiannya akan segera terwujud. Perempuan dan penantian ibarat sepasang kata yang selalu didengungkan dari zaman ke zaman. Bahkan sejak Hawa diturunkan ke dunia ini karena dosa memakan buah terlarang ia senantiasa menanti kembali untuk bertemu sang Adam. Atau mungkin perempuan dengan segala kelembutan dan kekuatannya diciptakan untuk menunggu dan menanti hal yang belum pasti?

“Apakah dia adalah seorang yang selalu menampakan wajahnya di dalam mimpiku,” besit Ayundia di dalam hatinya.

Lelaki berumur dua puluh tujuh itu membantunya berdiri dan membopongnya menuju ke kursi tempat Ayundia tadi duduk. Sepuluh menit berjalan kedua mata itu sudah saling berhadapan.

“Hari ini memang penuh dengan kesedihan yang mendalam,” ujar gadis yang ingin mengeluarkan segala kegundahannya. Titik-titik air bening pun ikut keluar dan mengalir di sela-sela pipinya.

Mahesa berhenti dan memegang kedua pundak dari gadis itu, lelaki tersebut memamerkan senyum kepada gadis itu. Ayundia menyadari satu hal bahwa wajah Mahesa mirip seperti patung berkepala yang berada di antara akar pohon besar di antara reruntuhan kuil.

“Jangan takut, kesedihanmu pasti akan sirna dan akan diganti dengan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya oleh Tuhan.” Lelaki itu kembali melukis senyuman di sudut bibirnya.

Perempuan itu terhenyak dengan apa yang baru saja diutarakan lelaki yang selama ini begitu dirindukannya. Kepala gadis itu mengangguk dengan air mata yang berderai.

“Apakah dia..,” Ayundia kaget seakan tak percaya dan bertanya-tanya apakah Mahesa adalah takdirnya di masa yang akan datang.[]

 

===

*Musyafa Asyari. Mahasiswa Prodi Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Islam Negeri KH Syaifuddin Zuhri Purwokerto.Lahir di Benda, Sirampog, Brebes, 1 Juni. Agama Islam. Bergiat menjadi anggota SKSP ( Sekolah kepenulisan sastra peradaban). Karyanya pernah terpublikasikan di beberapa media online seperti Ma’arifnu Jateng, ngewiyak.com, cerano id, go kenje, Borobudur Writers, sksp literary. Balipolitika.com Sekarang sedang berdomisili di Ponpes Al-Hidayah Karang Suci Purwokerto, dan Ponpes Darul Ghuroba Al-Hikmah 1.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *